
Bel istirahat berbunyi. Bella yang mengetahui kejadian tadi pagi menimpa Meira merasa prihatin. Dia ingin menghibur Meira, berharap dia bisa berteman dengan Meira dan gengnya. Dia menghampiri Meira yang masih duduk di kursinya dengan penuh semangat.
"Hai, Ra, tadi Meira nggapapa kan", Bella bertanya dengan sedikit kikuk.
"Nggapapa tenang aja, biasa itu, santai aja, gue kan Meira", Meira memberikan senyuman kepada Bella.
"Gimana kalau hari ini Bella traktir Meira makan bakso di kantin"
Mendengar kata traktir Sesil menoleh ke sumber suara, suara Bella lebih tepatnya.
"Yaaahh, masa Meira doank yang ditraktir, kita-kita ga?" celetuk Sesil pura-pura polos.
"Iya masa Meira doang, kita-kita juga dong", Alya menimpali pernyataan Sesil.
"Betul itu", Lulu yang pendiem ikut-ikutan nimbrung.
Mereka bertiga lirik-lirikan sambil menaikan alis.
"Kalian bertiga Bella traktir juga kok, tenang aja", jawab Bella merasa bahagia bisa begabung dengan mereka meskipun tadi niat awalnya karena ingin menghibur Meira. Sebenarnya Bella memang ingin traktir mereka semua agar bisa lebih dekat hanya saja Bella masih malu-malu mengatakannya.
"Jangan Bell, mereka bercanda aja ko, ga usah diambil ati", Meira mengangkat tangannya menggerakan ke kanan dan ke kiri seperti dadadada supaya Bella tidak melakukan hal itu kemudian Meira menatap wajah teman-temannya yang masih senyum senyum iseng.
"Nggapapa Bella tadi memang rencana mau traktir kalian semua"
"Yes", jawab kompak Sesil, Lulu dan Alya.
"Ya udah yuk cus, kantin", kata Sesil penuh semangat.
"Ya elah elo Sil, giliran ditraktir semangat banget jalannya", Meira bangkit dari duduknya menggandeng lengan Bella.
"Iya dong, siapa coba yang ngga suka gratisan", kata Sesil bangga walau ditraktir.
Bella yang diperlakukan seperti ini oleh Meira jadi merasa dekat dengannya, dia merasa punya teman yang asyik seperti teman-teman Meira.
Kantin udah mulai penuh padahal bel belum lama berbunyi, mungkin beberapa dari mereka ada yang mencuri start untuk istirahat atau mungkin ada yang jam kosong langsung cus kantin. Bella dan Meira duduk berjejer, dihadapan mereka ada Lulu Sesil dan Alya.
Mereka semua pesan bakso dan es teh. Saat sedang makan, Bella melihat Keynan dari kejauhan sepertinya menuju meja mereka, Bella membetulkan rambutnya pandangan matanya tertuju pada Keynan yang semakin dekat langkahnya, wajah Bella tersenyum canggung, sedangkan Meira masih fokus makan, Alya memperhatikan tingkah Bella yang sedang merapikan rambut, Alya memperhatikan pandangan Bella yang sedang mengarah ke tempat lain, kemudian Alya melihat ke samping, ternyata Keynan menuju ke arah mereka.
"Bell, lo lihat apa", Alya membangunkan lamunan Bella yang seperti orang sedang kasmaran.
"Nggapapa", jawabnya sambil memasukan bakso ke dalam mulutnya, tingkahnya canggung seperti tertangkap basah habis mencuri.
Keynan yang sengaja datang ke kantin untuk menyusul Meira langsung duduk di sebelahnya mengagetkan Meira yang masih fokus makan.
__ADS_1
"Hai Ra", sapa Keynan.
"Ya ampun Keynan ngagetin aja", Meira membalikan badannya menatap Keynan kaget.
"Ngapain lo kesini?" tanya Meira.
"Gimana keadaan lo Ra, lo ngga diapa-apain kan sama Aris", tanyanya khawatir.
"Tenang aja, aman", kata Meira.
"Oiya Bell, lo kalau ada yang gangguin hubungi aja Keynan, dia pasti bantuin lo, iya kan Key", Meira menepuk bahu Keynan.
Mendengar kata-kata Meira, Keynan memandang Bella yang ada di sebelah Meira, Bella masih tersenyum terpesona dengan kepedulian Keynan terhadap Meira. Keynan membalas dengan senyum.
"Hai", kata Keynan.
Bella membatin, Keynan teh peduli sekali dengan Meira, mereka sangat dekat, apakah Bella juga bisa sedekat itu dengan Keynan, pengen sekali rasanya bisa dekat dengan Keynan, seperti Meira. Bella harus gimana. Apakah Bella akan merusak kedekatan mereka jika Bella bisa dekat dengan Keynan.
"Bell", panggil Sesil mengagetkan lamunan Bella.
"Ah, iya, kenapa?"
"Bell, lo nglamunin apa sih?" tanya Lulu yang ada di depannya.
"Emm, ngga ada, makasih ya Ra makasih ya Key, makasih ya semua sudah mau jadi teman Bella.
***
"Ra, tunggu", panggil Keynan.
Bella terdiam tanpa menoleh. Keynan mengejarnya berlari kecil. Dipegangnya bahu Bella. Bella menoleh.
"Bella, gue kira Meira, sorry ya", kata Keynan kaget.
"Iya nggapapa"
"Lo lihat Meira ngga?" tanya Keynan mencari Meira.
"Kayanya udah di kelas deh"
"Ya udah, gue duluan ya", Keynan berlari meninggalkan Bella di belakang.
Setelah Keynan pergi, Bella kegirangan ngga menyangka Keynan mengira dia adalah Meira. Bella tertawa sendiri kemudian dia menutup mulutnya yang masih ketawa.
__ADS_1
"Ehm, ngga sia-sia Bella berdandan seperti Meira, mungkin dengan begini Bella bisa dekat dengan Keynan", Bella masih berdiri dan ngomong sendiri karena kegirangan.
"Huhhh, tenang Bella tenang, ini baru sedikit", kata Bella sambil menghembuskan nafas dari mulutnya.
***
Siang hari saat jam istirahat Keynan bermain basket di lapangan, Keynan ngga peduli cuaca panas yang penting bisa bermain basket. Meira dan Bella berjalan bersama, baru saja mengantar tugas di ruang guru, mereka berdua berjalan melewati lapangan. Tiba-tiba Keynan memanggil.
"Ra", Meira berhenti. Keynan menghampiri Meira yang sedang bersama Bella.
"Ya ampun Key, keringet lo", Meira mengambil tisu yang kebetulan ada di kantongnya, diambilnya selembar kemudian diusapkannya ke muka Keynan untuk membersihkan keringat yang keluar dari kulit putihnya. Diambilnya satu lagi tisu diusapkan di sekitar wajahnya. Keynan hanya tersenyum Meira melakukan hal itu.
Bella hanya bisa memandang Meira mengusapkan tisu di wajah Keynan, mengelap keringat yang menetes, dengan perasaan iri ingin melakukan hal yang sama pada Keynan. Hatinya bergemuruh, kenapa sih Meira melakukan hal itu di depan Bella, padahal kan mereka cuma temenan, pasti Meira sengaja ingin menunjukan ini di depan Bella buat nunjukin mereka saling peduli, begitu dalam hati Bella, kemudian Bella menyadarkan dirinya sendiri, dipejamkan matanya sambil geleng-geleng. Bella, please jangan berpikiran seperti itu, Meira sudah baik mau berteman sama kamu.
Meira selesai mengusap keringat Keynan dan menyimpan bekas tisu tadi untuk dibuang ditempat sampah.
"Ra, nanti lo pulang bareng gue ya, please, dah lama kita ngga pulang bareng, ya, ya!", bujuk Keynan.
Meira tak kuasa menghindar bujukan Keynan kalau sudah memohon seperti ini.
"Iya, iya", jawabnya.
"Ok sip, tungguin nanti ya", Keynan mengusap kepala Meira seperti mengusap kepala anak kecil, kemudian Keynan berlari meninggalkan mereka berdua.
"Hmm, dasar Keynan, sorry ya Bell, pasti lo risih deh liat kelakuan kami", kata Meira pada Bella yang dari tadi memperhatikan mereka.
"Ngga, ngga ko, nggapapa"
"Keynan emang suka gitu"
"Rumah Meira deketan ya sama rumah Keynan?" tanya Bella.
"Iya, kami satu kompleks, tetanggaan", Meira menjawab dengan riang seperti bangga bisa bertetangga dengan Keynan.
"Pasti Meira seneng rumahnya dekat dengan Keynan"
"Ada senengnya, ada ngganya juga sih"
"Ko ada ngga senengnya emang kenapa?" tanya Bella semakin penasaran.
"Ya kadang Keynan suka rese, usil, masa pernah ya gue laki nyiram bunga terus dia datang diam-diam ke rumah gue matiin kran air, gue kira kenapa gue cari tau dong siapa tau selangnya bocor atau mampet, pas lubang selang tepat di depan muka gue, dia nyalain lagi kerannya, muncrat dong airnya kena muka gue semua sampai baju gue basah, ya udah gue siramin aja dia sekalian"
"Wah, seru ya kalian", kata Bella yang bahagia mendengar cerita-cerita tentang Keynan.
__ADS_1
"Masa seru, nyebelin dia tahu", Meira memasang muka BTnya mengingat kejadian itu.
Mereka berdua terus berjalan menuju kelas, Bella terus mengajukan pertanyaan tentang Keynan ingin tahu banyak hal tentang dia. Meira sendiri menjawab pertanyaan Bella dan menceritakannya beberapa hal tentang Keynan dengan penuh semangat. Meira menghentikan ceritanya saat mereka sudah sampai di depan kelas. Meira tidak ingin Keynan mendengar bahwa dia membangga-banggakannya di depan Bella. Bisa-bisa Keynan melambung nanti dengar dirinya dipuji-puji.