Apa Jadinya Aku Tanpamu

Apa Jadinya Aku Tanpamu
Surat Merah Jambu


__ADS_3

Meira dan teman-temannya sudah berada di mobil Alya, sengaja Alya belum menyalakan mobilnya, mereka


semua penasaran dengan isi surat yang ada di laci Meira.


“Ra, buka dong suratnya, penasaran nih dari siapa?” Sesil yang duduk di belakang sudah mencondongkan


badannya ke depan untuk melihat isi suratnya. Begitu juga dengan Lulu melakukan hal yang sama seperti Sesil.


Alya yang duduk di kursi mengemudi memposisikan duduknya melihat ke Meira. Mereka menantikan surat tadi dibaca. Meira mengambil surat kaleng tadi dari tasnya.


“Gue buka ya”


Meira membuka amplopnya berlahan, mengambil selembar kertas berwarna merah muda dari dalamnya. Isinya singkat hanya berapa baris, kalimatnya tidak bertele-tele.


To: Meira 2 IPA 1


From: Fans Berat Kamu


Alangkah senang hatiku, bila selalu dekat denganmu


Semua akan terasa indah ,bila aku selalu denganmu


Meira maukah kamu menjadi pacarku?


TTD,


IS


“Cieeee, uwuwuuw” teman-temannya mengledeknya


“Coba gue liat, ada namanya ga disana”, Alya meminta suratnya dari tangan Meira.


“Ngga ada nama penulisnya nih”, kata Alya.


“Masa sih, liat dong”, kata Lulu yang juga penasaran dengan isi suratnya.


Lulu dan Sesil melihat bersama-sama isi surat tersebut.


“Ra, berarti lu punya penggemar misterius nih”, begitu kata Sesil.


“Apaan sih kalian, palingan juga orang iseng, mana ada cowo yang mau sama gue”


“Ya, siapa tau dia selama ini udah merhatiin lo, trus dia suka sama lo”, timpal Lulu.


“Eh..eh ada inisialnya “IS” siapa ya “IS” ini?” Sesil yang selalu kepo makin penasaran dengan inisial nama


tersebut.


“Ah udahlah yuk, cabut kita”, Meira mencoba mengalihkan perhatian teman-temannya untuk segera meninggalkan sekolah


Alya menyalakan mobilnya, melewati beberapa siswa yang sedang pulang. Mobil melaju membelah jalannya yang tidak terlalu rame, hanya beberapa angkutan umum yang mengangkut anak sekolah dan sedikit mobil pribadi.


Di perjalanan Meira menyandarkan kepalanya di kursi mobil, matanya memandang ke luar jendela, melihat pohon-pohon yang bergerak semakin menjauh. Alya yang di bagian pengemudi fokus pada jalanan di depan, sementara Sesil dan Lulu mereka saling becanda di belakang.


“Ra, lu ngga penasaran ama penulis surat itu?” tiba-tiba Alya melontarkan pertanyaan pada Meira, sebenarnya dari tadi Alya ingin sekali memberikan pertanyaan itu namun ditahannya. Tapi karena melihat Meira yang sejak tadi melamun Alya memutuskan untuk menanyakan soal itu.


“Penasaran sih, tapi biarin ajalah anggap aja itu orang iseng yang lagi cari perhatian”

__ADS_1


“Nah betul itu, lagian Meira belum mau pacaran juga kan”, celetuk Sesil dari kursi belakang


“Emang beneran Ra, Lo belum mau pacaran”, Lulu yang lugu dan polos meyakinkan pernyataan Sesil.


“Bukan ngga mau pacaran, ngga ada yang mau sama gue”


Mereka berempat ketawa bersama, saling canda ejek-ejekan Meira ngga mau pacaran karena cowonya pada


takut Meira kaya macan, lalu semua saling ketawa lagi.


Seperti biasa Alya menurunkan Meira di depan rumahnya.


“Makasih ya, bye”, Meira melambaikan tangan pada mobil Alya yang berjalan semakin menjauh.


Hari ini mamanya Meira sedang tidak dirumah, mamahnya sedang pergi belanja bulanan sama papanya. Papanya mengambil cuti beberapa hari ini karena dari beberapa minggu terakhir sudah banyak lembur karena ada proyek di kantor yang harus diselesaikan.


Meira berjalan ke dapur untuk mengambil minum, ditemukan sebuah note yang ditempel di pintu kulkas bertuliskan “Mama sama Papa pergi belanja dulu ya, mama sudah siapkan makan di meja makan”. Membaca pesan tersebut, Meira membuka tudung saji yang di atas meja, disana sudah ada beberapa sayur dan lauk untuk dimakan.


Meira belum mengganti seragam sekolahnya sudah langsung menyantap makannya yang ada di meja, kalau


mama di rumah pasti Meira ngga boleh pulang sekolah langsung makan tanpa ganti baju, sesekali bandel dikit nggapapalah, udah laper soalnya. Meira berusaha damai dalam dirinya dengan berbicara sendiri.


Selesai makan Meira langsung ke kamar, bersih-bersih dan mengganti seragamnya, tiba-tiba di depan rumah


sudah pulang mama sama papanya membawa beberapa belanjaan. Untuk aja udah selesai makan kalau belum bisa dimarahin gue tadi, begitu batinnya.


Meira keluar kamar membantu mama papanya membawa barang belanjaan, disusunnya beberapa belanjaan di kulkas, beberapa di letak di lemari dapur, setelah selesai, Meira membuatkan kopi hitam kesukaan papanya.


“Pah, kopi dulu”, Meira menyajikan kopi di meja dekat papanya.


“Pah, berapa hari cutinya?”


“Besok papa sudah masuk kerja lagi”, jawab papanya.


“Ya, kok cepet banget cutinya”, Meira memeluk papanya dari samping sambil menyenderkan kepalanya di


bahu papanya.


“Ya papa kan harus mencari nafkah sayang”, kata papanya.


Mamanya Meira keluar dengan membawa cemilan untuk di makan bersama.


“Kalau papa ngga kerja, Meira sekolah pake duit siap dong”, timpal mamanya.


“Hmm, iya deh”, kata Meira sambil mendengus pasrah.


“Mah, Pah, Meira ke kamar dulu ya ada PR yang harus di kerjakan”, Meira meninggalkan mama papanya sambil menggigir cemilan yang baru saja dibawakan mamanya.


“Meira, makan duduk dong”, kata mamanya sambil melihat anaknya masuk ke kamar.


“Iya”, Meira mengiyakan sambil masuk ke kamar.


Sebenarnya Meira ke kamar mengerjakan PR hanya sebagai alasan karena sebenarnya Meira ingin mamanya menghabiskan waktu berdua dengan papanya meskipun di rumah, karena selama ini papanya sibuk lembur pulang malam.


Baru beberapa menit Meira di kamar, datang Keynan dengan membawa piringan di tangannya.


“Permisi Om Tante, ini ada kue dari Bunda, tadi bunda coba bikin sendiri”, suara Keynan terdengar sampai

__ADS_1


di kamar Meira.


“Ya ampun makasih nak Keynan, repot-repot”, kata mamanya Meira sambil menerima piringan yang diberikan


Keynan.


“Meira di rumah tant?” tanya Keynan.


“Ada di kamar lagi ngerjain PR, masuk aja”, Mamanya Meira menyuruh Keynan menyusul Meira di kamar. Keynan sudah di anggap seperti anaknya sendiri. Keynan sudah sering main di rumah Meira begitu juga dengan Meira. Jadi, mamanya Meira sudah percaya dengan Keynan. Meskipun mereka di kamar cuma berdua mereka tidak melakukan hal yang aneh-aneh.


Keynan masuk ke dalam mengetuk pintu kamar Meira.


“Masuk, ngga dikunci”, kata Meira yang sedang duduk-duduk di kasurnya sambil buka-buka majalah.


Keynan masuk dan membiarkan pintu kamar tetap terbuka, dilihatnya Meira sedang duduk bersandar di kasur.


“Ohh, ini yang katanya lagi ngerjain PR”, Keynan meledek Meira yang kenyataannya sedang membaca majalah.


Langsung dibungkamnya mulut Keynan menggunakan tangannya.


“Jangan keras-keras dong, nanti mama dengar, gue sengaja lagi membiarkan mama sama papa ngobrol berdua”


“Masa sih”


“Hish, beneran tau”


“Lo ngapain, sore-sore kesini”


“Emang kenapa ngga boleh”


“Bukan gitu tumben aja”, Meira membetulkan kembali posisi duduknya.


“Eh, lo tadi di kelas kenapa kaya risau gitu?” tanya Keynan yang masih penasaran dengan tingkahnya Meira


tadi.


“Ohh itu, gue dapet surat kaleng”


“Hah, surat kaleng, dari siapa, isinya apaan, gue baca dong”, Keynan semakin penasaran.


“Ngga boleh, nanti lo ngejekin gue”


“Ngga, coba gue lihat siapa tahu gue tahu siapa yang nulis”, Keynan merasa sok tahu agar diizinkan melihat


isinya.


Meira yang percaya dengan omongan Keynan menunjukan suratnya. Dibacanya surat itu keras-keras. Dan dia


tertawa.


“Tuh kan ngejek”, Meira cemberut melihat Keynan mengejeknya.


“Emangnya ada yang mau sama elu, cewe tomboi kaya macan galak”, Keynan mengejek Meira kembali.


“Biarin weeek”, direbutnya kembali surat dari tangan Keynan, karena Keynan terus mengejeknya.


Keynan yang sok mengejek sebenarnya bukan bermaksud menertawakan Meira, namun dia berusaha menutupi kegalauannya karena khawatir Meira akan melupakannya.

__ADS_1


__ADS_2