Apa Jadinya Aku Tanpamu

Apa Jadinya Aku Tanpamu
Rumah Sakit


__ADS_3

Meira,


Sesil, Lulu dan Alya masuk ke dalam ruangan dimana Keynan saat ini sedang dirawat, dilihatnya Keynan masih terbaring tak sadarkan diri, hidungnya dibungkus dengan perban putih untuk menghindari kotoran masuk ke pernafasan, selang infus digantung disisi kirinya tersambung di lengan kiri Keynan. Mereka hanya terdiam tak bersuara karena khawatir jika Keynan tiba-tiba terbangun, mereka duduk di kursi khusus untuk menunggu pasien.


Pak Rudi datang bersama dengan Pak Agus setelah selesai mengurus administrasi, mereka adalah guru olahraga yang bertanggung jawab atas kegiatan ini sebagai perwakilan dari SMA Taruna Bangsa. Mereka masuk kedalam ruangan menghampiri Meira dan teman-temannya yang masih duduk termenung dan lesu, nampak wajah kesedihan di antara mereka.


 "Meira bapak sudah mengurus sebagian administrasi Keynan, bapak dan Pak Agus, akan kembali ke acara sebentar untuk mengurus beberapa kegiatan disana, nanti kalau ada apa-apa, kamu bisa hubungi nomer bapak", kata Pak Rudi berpamitan.


 "Baik Pak"


"Ya udah, bapak pamit dulu ya, kalian jaga Keynan sementara sampai orang tuanya datang, nanti dokter yang akan menjelaskan kepada keluarganya"


"Iya Pak, terima kasih, hati-hati dijalan Pak"


Pak Rudi dan Pak Agus pergi meninggalkan ruangan, mereka masih harus mengurus kegiatan-kegiatan yang belum selesai.


Meira memandangi wajah Keynan yang masih belum sadar. Keynan mungkin saat ini tidak sadar beberapa pasang mata sedang memperhatikannya dengan penuh cemas.


Meira duduk di samping Keynan menunggu Keynan sadar sampai orang tuanya datang. Terlihat Keynan menggerak-gerakan tangannya. Meira langsung memanggil-manggil nama Keynan berulang kali. Lulu, Sesil dan Alya bangkit dari duduknya menatap Keynan dengan penuh harap.


“Key,,,!” suara Meira lembut memanggil Keynan yang baru sadar.


“Haus, air, air”, Keynan dengan berat mencoba membuka matanya tenggorokannya terasa kering, karena untuk sementara dia tidak bisa menggunakan fungsi hidungnya dengan normal.


Lulu bergegas mengambil air dari dalam lemari kecil dan memberikannya pada Meira. Meira meminumkan air putih dalam kemasan itu kepada Keynan menggunakan sedotan.


Sesil yang berada di ujung bangsal menaikan sandaran Keynan agar dia bisa minum dengan tenang tanpa harus khawatir tersedak. Kini posisi Keynan setengah duduk di bangsalnya. Matanya tertuju pada minuman yang diberikan oleh Meira. Tangan Keynan meraih minuman itu dan segera meminumnya.


“Gue panggil dokter dulu ya”, kata Alya.


Alya bergegas memanggil dokter untuk memberitahu Keynan sudah sadar. Dokter datang bersama Alya dan langsung memeriksa keadaannya. Dokter menyarakan untuk sementara Keynan bernafas menggunakan mulutnya karena hidungnya akan terus dibungkus perban sampai operasi bisa dilakukan. Selain itu dokter juga menyarankan pada Keynan untuk minum air putih sesering mungkin karena tenggorokannya akan cepat kering akibat bernafas menggunakan mulut. Setelah selesai memeriksa keadaan Keynan dokter kembali ke ruangannya.


Orang tua Keynan datang terburu-buru menuju rumah sakit, pikiran dan perasaannya kacau karena ini kali pertama Keynan mengalami patah tulang selama hidupnya, mereka sangat khawatir terlebih ini adalah patah tulang hidung dimana disana terletak banyak saraf-saraf penting sekaligus alat pernafasan utama.


Mereka berlari menuju kamar dimana Keynan dirawat. Dibukanya pintu kamar terlihat Keynan sedang bergurau dengan Meira dan teman-temannya. Bunda Jasmine langsung memeluk anak semata wayangnya dengan erat. Dibolak-baliknya pipinya ke kanan dan ke kiri menggunakan tangannya melihat-lihat apakah ada dari bagian wajahnya yang terluka lagi.


“Aduh bund, Keynan nggapapa”


“Nggapapa gimana, kamu aja sekarang terbaring lemah begini”


“Ya, ini kan cuma sementara, paling setelah operasi juga sembuh”


“Siapa yang berani melakukan ini sama anak bunda, dia ngga tahu kamu anak siapa?”


“Udahlah bund, ini kan Cuma kecelakan biasa, wajarlah namanya juga bertanding”


“Wajar, wajar, masa iya bermain sampai sikut-sikutan begini kaya lagi berantem aja”


“Udah dong bund, malu dilihatin temen-temennya Keynan”

__ADS_1


Kekhawatiran bunda Jasmine sebenarnya karena sangat menyayangi anak satu-satunya itu, dia tidak ingin melihat anaknya kenapa-kenapa. Terlebih lagi dia adalah pewaris satu-satunya keluarga Mahendra.


Pak Kusnanto Mahendra hanya menatap anak dan istrinya dengan senyum, dia tahu istrinya sangat menyayangi anaknya sehingga bertindak berlebihan seperti itu. Kemudian matanya tertuju kepada Meira dan teman-temannya yang dari tadi masih menatap Keynan dan bundanya.


“Oh iya Meira, terima kasih ya sudah jagain Keynan”, kata Pak Kusnanto.


“Sama-sama Om, Meira jagainnya rame-rame ko”


Bunda Jasmine bangkit langsung menatap Meira dan teman-temannya“Ohh iya bunda sampai lupa, makasih ya Meira udah jagain Keynan”


Bunda Jasmine bersalaman dengan Meira lalu memeluknya begitu juga dengan Lulu, Sesil dan Alya. Mereka bersalaman dengan bunda Jasmine secara bergantian.


“Om, tante, hari sudah sore sepertinya kami harus berpamitan”


“Baiklah, sekali lagi terima kasih ya”


“Key, kami pamit ya, semoga cepat sembuh”


“Makasih ya Ra”


Mereka berempat berpamitan dengan Keynan, bunda Jasmine dan Pak Kusnanto. Mereka pulang kerumah masing-masing menggunakan mobil Alya. Seperti biasa Alya mengantar teman-temannya.


Bella dari tadi sudah berada di rumah sakit hanya saja dia tidak enak jika dilihat oleh Meira dan teman-temannya. Dia duduk di dekat tempat pendaftaran menunggu mereka meninggalkan rumah sakit agar bisa melihat Keynan. Setelah melihat mereka pergi meninggalkan rumah sakit Bella beranjak dan pergi menuju kamar dimana Keynan dirawat.


Bella menghembuskan nafas panjang dari hidungnya memberanikan diri mengetuk pintu kamar rumah sakit.


“Permisi”


Bella membuka pintu dilihatnya 2 pasang mata menatapnya, disana hanya ada bunda Jasmine dan Keynan. Pak Kusnanto sedang melengkapi administasi yang belum lengkap diurus oleh Pak Rudi tadi siang.


“Hai Bell”, sapa Keynan.


“Hai”


“Bund, ini Bella teman sekelas Keynan yang waktu itu telpon ke rumah”


Bella bersalaman dengan bunda Jasmine.


“Bella tante”, Bella memperkenalkan diri dengan bundanya Keynan.


Bunda Jasmine tersenyum pada Bella dan mempersilahkan Bella duduk.


“Silahkan duduk Bell”


“Makasih tante”


“Key, bunda pergi dulu ya, nyusul papamu mau cek kapan kamu bisa operasi”


“Siap bund”

__ADS_1


“Bell, ngobrol-ngobrol aja dulu sama Keynan ya, tante mau temuin dokter dulu”


“Makasih tante”


Bunda Jasmine pergi meninggalkan mereka berdua di kamar rumah sakit.


“Gimana keadaanmu Key”, Bella duduk disamping bangsal Keynan.


“Yah, seperti yang kamu lihat Bell, terbaring dengan hidung diperban”, jawab Keynan tersenyum.


“Bell, boleh minta tolong ambilkan botol minum itu, haus”


Bella mengambilkan botol minuman air putih yang sudah dipasang sedotan ditutupnya. Lalu Bella mendekatkan sedotan itu ke bibir Keynan yang merah. Secara tidak sengaja tangan Keynan dan tangan Bella bertemu memegang botol yang sama. Mata mereka berdua bertatapan cukup lama lalu kemudian tersadar.


“Maaf”, kata Bella sambil melepaskan tangannya dari botol.


“Iya nggapapa, gue yang harus minta maaf, makasih ya udah diambilin minuman gue”


Tingkah mereka berdua jadi canggung satu sama lain sampai orang tua Keynan datang masuk ke kamar rawat inap.


“ekhm, gimana Pa, Bund?” tanya Keynan untuk menghilangkan kecanggungannya.


“Nanti dokter akan mengecek hidungmu, jika kondisinya memungkinkan lusa akan dilakukan operasi”, jawab papanya.


Pak Kusnanto lalu menatap Bella dan kemudian melirik Keynan. Keynan yang menyadari tatapan matanya langsung memperkenalkan Bella.


“Pah ini Bella, teman sekelas Keynan pindahan dari Bandung”


“Bella Om”, Bella bersalaman dengan papanya Keynan.


“Key, Bella pamit ya, besok kalau sempat Bella kesini lagi”, Bella berpamitan pada Keynan lalu berpamitan pada orang tua Keynan.


Setelah Bella pergi meninggalkan mereka, Pak Kusnanto menggoda Keynan.


“Key, jadi itu pacar barumu”, papanya menggoda Keynan.


“Bukan Pa, cuma teman ko”


“Temen apa temen”, bundanya menyambung ikut menggoda Keynan.


“Jadi Meira atau Bella?” tanya bundanya menggoda lagi.


“Apa sih bund”, Keynan tersipu malu.


Orang tua Keynan terus menggodanya.


“Papamu dulu pas masih muda juga suka ganti-ganti pacar, jadi idola kampus”, kata bundanya menceritakan tentang masa kuliah mereka.


Mereka asyik bercerita, sepertinya kejadian ini juga membawa berkah bagi mereka karena mereka bisa berkumpul bercengkarama meskipun kondisi Keynan sedang kurang sehat. Papanya yang kadang masih sibuk dengan pekerjaannnya dan selalu pulang malam kini bisa menemani Keynan di rumah sakit. Pak Kusnanto ingin bersama Keynan di masa-masa sulitnya.

__ADS_1


__ADS_2