Apa Jadinya Aku Tanpamu

Apa Jadinya Aku Tanpamu
Penulis Surat Merah Jambu


__ADS_3

Pagi ini adzan subuh berkumandang, udara diluar saat ini lumayan dingin. Meira sudah membuka matanya, tapi rasanya malas sekali untuk bangun, badannya masih ingin bermanja manja dengan kasurnya yang empuk dan hangat. Mulutnya berulang kali menguap. Hooaam ngantuk sekali rasanya. Dari balik pintu kamarnya, mamanya sudah memanggil-manggil namanya untuk bangun. Meira hanya menyaut iya. Kemudian dia regangkan otot-otot badannya, ah rasanya seperti ditarik badan ini. Bangun Meira, gumamnya sambil menepuk-nepuk pipinya.


Meira bangkit dari kasurnya sambil mengucek-ngucek matanya. Dia berjalan menuju kamar untuk wudhu dan melaksanakan shalat subuh. Selesai shalat Meira merapikan alat sekolah yang ada di meja belajarnya, setelah dianggapnya rapi, Meira berjalan membuka kunci pintu kamarnya dan pergilah Meira ke dapur melihat ibunya yang sedang menyiapkan sarapan. Papanya masih di masjid biasanya pulang sebelum jam 6, terkadang setelah shalat di masjid papanya mengobrol dengan warga sekitar. Meira memperhatikan ibunya yang sedang mengiris-iris bawang.


"Mama bikin sarapan apa?" Sebuah pertanyaan yang sebenarnya dia sudah tahu apa jawabannya karena Meira melihat bahan-bahan yang sedang disiapkan mamanya.


"Masak nasi goreng", jawab ibunya sambil mengiris beberapa bawang yang sudah dikupas.


"Meira bantu ya!"


"Ngga usah, mending kamu mandi, siap-siap berangkat sekolah", kata mamanya dengan lembut.


"Ya udah, Meira mandi dulu ya", diciumnya pipi mamanya yang masih menyelesaikan persiapan bumbunya. Mamanya hanya tersenyum melihat tingkah anak gadisnya yang sudah mulai beranjak dewasa.


Meira berangkat sekolah bareng dengan papanya yang kebetulan hari ini papanya berangkat pagi karena ada meeting pagi-pagi di kantor. Meira hanya diantar sampai gerbang sekolah, ya karena memang aturan dari sekolah orang luar sekolah hanya boleh mengantar sampai gerbang saja.


Saat itu sudah ramai siswa-siswa lain yang juga baru berdatangan, beberapa ada yang datang naik angkutan umum, beberapa bawa kendaraan sendiri ada juga yang diantar.


Meira melangkahkan kakinya menuju kelas, mulutnya terus bersenandung meski hanya sebuah lirik dudududu.


"Ra", suara yang tidak asing terdengar di telinganya, suara lembut dan polos.

__ADS_1


"Pagi Lu", Meira yang mengetahui suara siapa itu langsung menoleh dan menyapa gadis lugu nan polos itu.


Mereka berdua berjalan beriringan menuju kelas sambil menceritakan kejadian surat kemarin, tragedi surat merah jambu kata Lulu lalu mereka saling tertawa. Tepat di depan pintu kelas tiba-tiba sudah ada sosok laki-laki yang menunggunya, muka tidak asing tapi dia bukan dari kelas yang sama dengannya, dia sengaja menunggu Meira di depan kelas karena ingin mendapatkan jawaban dari surat kemarin.


"Hai", sapa laki-laki itu.


"Hai", balas Meira dengan senyum terpaksa.


"Maaf, mau lewat", kata Meira yang sedikit risih karena jalannya dihadang. Meira berusaha menerobos laki-laki itu.


"Tunggu dong Ra", kata laki-laki itu sambil menghadangnya lagi.


Keynan yang sudah berada di kelas bangkit dari duduknya karena melihat Meira dihadang di pintu kelas.


Lulu berbisik di telinga Meira,"Dia yang kirim surat kaleng itu, dia anak kelas 2 IPS yang pernah minta kenalan pas MOS dulu".


Meira berusaha mengingat, dan dia baru ingat dulu pas masa MOS ada yang ingin berkenalan dengannya karena katanya Meira mirip dengan mantannya.


"Surat yang mana ya?", Meira pura-pura tentang surat itu.


"Surat merah jambu yang di lacimu"

__ADS_1


"Oh yang itu, ya udah nanti gue bales"


Beberapa siswa sudah berkerumun menyaksikan kejadian ini. Keynan juga sudah beranjak dari kursinya menyaksikan apa yang akan terjadi, Keynan tidak ingin salah ambil langkah, dia hanya berjaga-jaga kalau-kalau Meira digangguin.


"Bisa kasih jawabannya sekarang ngga?"


"Yah, kan nembaknya pakai surat, ya gue jawabnya pake surat juga dong", Meira semakin risih karena dia tidak suka jadi pusat perhatian.


"Ok, aku tembak kamu sekarang, Meira maukah kamu jadi pacarku?" Laki-laki itu mengatakannya dengan suara lantang.


Beberapa siswa sudah berkerumun, mendengar hal itu mereka langsung berteriak terima, terima, terima, terima.


Meira diam sejenak memikirkan langkah apa yang akan diambilnya, dia melihat Keynan di dalam kelas yang sudah beranjak dari kursinya mungkin dia juga menunggu respon apa yang akan keluar dari Meira. Sementara itu teman-teman yang lain terus bersorak untuk menerimanya.


Sebagai teman yang sedari tadi berdiri di samping Meira, Lulu tidak banyam bicara melihat kejadian ini, Sesil dan Alya belum kelihatan, mungkin kalau ada mereka bisa memberikan masukan kepada Meira, tapi Lulu yang sebenarnya adalah pendiam akhirnya tidak bisa tinggal diam apapun yang terjadi dia harus mengatakannya, Meira adalah sahabatnya, dia tidak ingin Meira jadian dengan laki-laki ini.


"Jangan diterima Ra, dia hanya ingin taruhan dengan teman-temannya", bisiknya di


telinga Meira.


Lulu akhirnya mengatakannya, karena sebelum kejadian ini Lulu menyaksikan sendiri bahwa laki-laki itu taruhan dengan teman-temannya untuk mendapatkan Meira. Namun, dia tidak menyangka ternyata orang yang mengirim surat kaleng itu adalah laki-laki yang ada di depannya.

__ADS_1


Meira yang mendengarkan bisikan Lulu memandang wajahnya dan Lulu menggelengkan kepalanya yang artinya dia berpendapat jangan.


__ADS_2