Apa Jadinya Aku Tanpamu

Apa Jadinya Aku Tanpamu
Rasa Ini


__ADS_3

Setelah dhuhur bunda Jasmine datang ke rumah sakit dengan membawa keperluan yang dibutuhkan saat dirumah sakit termasuk diantaranya baju ganti dan beberapa pakaian dalam Keynan. Bunda Jasmine melihat sebuah pot kecil berwarna putih berisi tanaman bunga krisan ungu di dekat pintu, ada tulisan Keynan di potnya selain itu juga ada gambar (^.^) di samping nama Keynan. Bunda Jasmine mengambilnya lalu membawa masuk ke dalam ruang rawat inap. Keynan masih bersama Bella sedang bercerita. Bunda Jasmine langsung masuk.


"Maaf ya nak Bella, tante sedikit lama", kata bunda Jasmine merasa bersalah karena harus merepotkan Bella jagain Keynan. Bunda Jasmine berjalan meletakan tas bawaannya.


"Nggapapa tante, ngga berasa lama ko", jawab Bella tersenyum ke arah bunda Jasmine.


"Itu apa bund?" tanya Keynan karena melihat bunga yang begitu mencolok dimatanya.


"Oh ini, bunga krisan ungu, cantik ya".


"Bunda beli?" tanya Keynan.


"Ngga, tadi bunda lihat ada di depan pintu jadi bunda ambil", jawab bundanya bahagia.


"Punya orang kali bund, jangan diambil", kata Keynan


"Ngga ah, ini ada namanya ko buat Keynan".


Lalu bundanya meletakan bunga tersebut di atas meja di samping Keynan


"Cantik ya!", kata bunda Jasmine memuji bunga tersebut.


"Dari siapa sih bund?" tanya Keynan penasaran.


"Loh, kan kamu yang dari tadi disini sayang, memangnya ngga ada yang datang selain nak Bella?"


"Ngga ada bund, iya kan Bell!", jawab Keynan meyakinkan bundanya.


"Iya tante, dari tadi kita disini ko, ngga ada orang lain yang datang", jawab Bella membela pernyataan Keynan.


"Hmmm,,, siapa ya, mungkin dari penggemar Keynan tante", tambah Bella.

__ADS_1


"Bisa jadi itu", jawab bunda Jasmine.


"Ahh apaan sih, gue ngga ada penggemarnya, udah buang aja bunganya, nanti ada apa-apanya lagi".


"Kok kamu gitu sih sayang, ngga boleh, kamu harus menghargai pemberian orang", bujuk bunda Jasmine.


"Lagian ngapain sih, kasih bunga pake acara di taroh depan pintu, kenapa ngga kasih langsung coba", kata Keynan ketus.


"Mungkin orangnya buru-buru Key", Bella berprasangka baik.


Keynan kemudian melihat ke arah bunga tersebut, kemudian dilihatnya lagi ada gambar (^.^), lucu juga batinnya. Apa jangan-jangan ini dari Meira ya? Ah ngga mungkin, masa iya Meira kasih gue bunga, tapi kalau iya gimana, ah sudahlah biarin aja. Pikiran Keynan berbicara sendiri. Akhirnya Keynan membiarkan bunga itu tetap berada di atas meja toh nanti bundanya bisa merawatnya.


"Oh iya tante, kayanya Bella harus pamit, udah siang soalnya".


"Iya iya, makasih ya nak Bella udah jagain Keynan", jawab bunda Jasmine.


"Key, Bella pulang dulu", Bella berpamitan pada Keynan.


"Makasih ya Bell", jawab Keynan.


Setelah Bella berpamiran, Bella pergi menuju parkiran disana ada supirnya yang sedang tiduran di bawah pohon rindang tepat di belakang mobilnya diparkir.


***


Bella berjalan kaki semakin jauh dari rumah sakit, dia tidak tahu arah harus kemana, pikirannya kacau, dia tidak tahu apa yang dirasakannya sekarang, padahal dia sudah sering melihat Keynan dengan pacar-pacarnya dulu, tapi kali ini yang dia rasakan berbeda. Kali ini dia takut akan kehilangan Keynan. Dia takut jika Keynan bersama orang lain, Keynan tak akan ingat dengannya lagi.


Meira berhenti di pinggir jalan, lalu duduk di sebuah kursi di bawah pohon yang rindang dan teduh, dia terduduk memikirkan apa yang akan dia lakukan setelah ini. Dia tidak tahu apakah ini perasaan cemburu atau takut kehilangan atau keduanya. Dia menunduk membayangkan kejadian yang tadi dilihatnya.


Dipejamkan kedua matanya, Meira mencoba berpikir jernih. Dia berpikir, dia ngga boleh begini, seharusnya dia merasa senang dong melihat Keynan bahagia.


"Sahabat macam apa gue ini, gue ngga berhak dong ngatur-ngatur Keynan mau deket ma siapa", kata Meira ngomong sendiri.

__ADS_1


"Ah, payah gue", lanjutnya.


"Lo siapa Ra sadar dong, sadar", kata Meira masih ngomong sendiri.


Kemudian Meira menghirup nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya melalui mulut. Meira bangkit dari kursinya lalu beranjak pergi meninggalkan tempat itu. Meira pulang naik bus, dia memilih duduk dekat dengan jendela agar dia bisa melihat pemandangan di luar.


Meira pulang ke rumah langsung masuk ke kamar dan membaringkan tubuhnya di kasur. Dia merasa hari ini sangat lelah dibandingnya sebelumnya. Meira tertidur mungkin karena kelelahan melewati beberapa kejadian yang tidak mengenakan hari ini.


Jam menunjukan pukul 02.00 siang Meira terbangun, dia tersadar dia belum shalat. Dia bangkit dari kasurnya yang empuk lalu melaksanakan shalat dhuhur. Kemudian dia keluar kamar dilihat mamanya baru pulang belanja keperluan sehari-hari. Mamanya tersenyum, Meira bergegas membantu mamanya membawa belanjaannya ke dalam rumah.


Hari berganti malam, Meira makan malam bersama mama dan papanya. Mereka membicarakan rencana untuk menjenguk Keynan setelah dia operasi. Papanya Meira sudah menghubungi orang tua Keynan jika mereka saat ini belum bisa membesuknya, orang tua Keynan mengerti dan memakluminya.


"Mah, Pah,,, Meira jalan-jalan sebentar ya keluar".


"Pulangnya jangan malam-malam ya", pesan papanya


.


"Hati-hati di jalan", kata mamanya.


Meira mencium tangan papanya dan mencium mamanya, dia pergi ke garasi mengeluarkan sepeda kesayangannya. Meira ingin bersepeda malam ini menghilangkan keresahan yang dia rasakan. Meira memasang earphone untuk mendengarkan lagu-lagu yang diansukai, kemudian dia tidak lupa memakai helm sepeda.


Sepeda melaju lambat, Meira sengaja mengayuh dengan pelan karena dia ingin menikmati suasana malam yang indah. Sepeda berjalan beberapa km dari rumah, Meira mulai merasa lelah dia istirahat sebentar untuk membeli minum karena dia lupa membawa minuman. Setelah mendapatkan sebotol air putih, dia bergegas meminumnya lalu melanjutkan perjalanan. Setelah melewati taman kota, Meira berkeliling sebentar, dilihat beberapa muda-mudi sedang duduk bercengkrama, di sana juga ada beberapa penjual makanan.


Meira berhenti dan menuntun sepedanya, berjalan menjauhi taman kota. Perasaannya sudah terasa lebih baik. Setelah beberapa saat berjalan segerombolan orang menghadangnya di tempat sepi, ada sekitar 4 orang dan satu diantaranya adalah orang yang dia kenal, Aris, ya tidak lain lagi. Aris bersama geng motornya yang berencana akan kumpul dengan yang lain kebetulan lewat jalan situ dan melihat Meira berjalan lalu menghadangnya. Dia ingin membalas kekesalannya tadi siang.


Aris menggoda Meira, dia yang sedang tidak ada tenaga malas meladeni laki-laki itu. Kali ini Meira benar-benar kesal dengan tingkahnya. Aris mencoba memegang wajah Meira lalu ditampiknya menggunakan tangan Meira.


Aris dan gengnya tertawa lebar. Kali ini Aris merasa menang karena tempat ini sepi dari orang lewat. Aris memberi kode pada gengnya. Dengan cepat mereka langsung memegang tangan Meira, satu tangan di pegang 1 orang. Sepeda Meira terlepas dari tangannya dia berusaha berontak dan berteriak tapi tak ada orang yang lewat. Kenapa malam ini begitu sepi, batinnya.


"Tak akan ada yang menolongmu", Aris tertawa lebar.

__ADS_1


"Bawa dia ke dekat rumah kosong itu, dan kamu singkirkan sepedanya, jangan sampai ada orang yang tau", perintah Aris.


Mereka melaksakan tugas masing-masing, sedangkan Meira masih berusaha berontak, dia berharap ada orang yang akan menolongnya. Meira mengumpulkan sekuat tenaga menendang kakinya kepada orang yang memegangnya, tangan kanannya terlepas kemudian meninju yang lainnya, setelah semuanya terlepas, dia mencoba berlari, tapi Aris dengan sigap menghadangnya. Aris mendekapnya dalam pelukannya erat-erat. Meira terus berontak tenaganya mulai habis. Tiba-tiba seseorang memukul teman-teman Aris. Ketiga temannya jatuh kesakitan.


__ADS_2