Apa Jadinya Aku Tanpamu

Apa Jadinya Aku Tanpamu
Bekas Bibir


__ADS_3

Seseorang dengan sigap menghajar teman-teman Aris, mereka bertiga merintih kesakitan.


"Sialan", bentak Aris.


Aris melepaskan tubuh Meira, lalu berhadapan dengan laki-laki itu. Laki-laki itu nampak tak asing bagi Meira. Meira membelalakan matanya, ketika tahu bahwa laki-laki tersebut adalah Rafa. Rafa masih beradu tinju dengan Aris, tidak membutuhkan waktu lama akhirnya Aris mengajak teman-temannya kabur.


Rafa menghampiri Meira.


"Lo, ngga papa?" tanya Rafa.


Meira menggelengkan kepalanya.


"Makasih ya, udah bantuin gue lagi".


"Sebagai tanda terima kasih gue, gimana kalau gue traktir lo makan?" Meskipun ragu akan diterima tawarannya, Meira tetap ingin mentraktirnya, karena dia merasa tidak enak jika tidak membalas budi.


"Kalau misal itu bukan elo, gue juga bakal bantuin", jawabnya datar.


"Ya, tetep aja, gue harus makasih", Meira mulai kesal.


"Lagian juga, ngapain lo lewat jalan gelap kaya gini, mana lampunya pada mati lagi".


"Tadi gue cuma pengen lewat jalan yang berbeda, eh taunya malah kejadian kaya gini".


"Trus lo ngapain lewat sini?" tanya Meira balik.


"Ngapain lo nanya-nanya", jawabnya cuek.


Meira hanya cemberut mendengarkan jawaban Rafa.


"Jadi gimana tawaran gue?" Meira menanyakan lagi karena belum mendapatkan jawaban dari Rafa.


"Udah,,, ayo mau pulang ngga?" Rafa tidak menggubris ajakan Meira.


Meira bergegas mengambil sepedanya yang tadi sempat disembunyikan gengnya Aris. Meira mengayuh sepedanya didampingi Rafa dengan menggunakan motor.


"Lo, suka bersepeda?" tanya Aris.


"Kenapa nanya-nanya, mau tahu aja", gantian Meira membalas Rafa.


"Apaan, orang gue cuma nanya doang, Ge'eR", jawabnya ketus.

__ADS_1


Meira terus mengayuh sepedanya. Rafa kini hanya mengikutinya dari belakang karena jalanan mulai rame, Rafa khawatir kalau dia berjalan di sebelah sepeda Meira jalanan akan jadi penuh. Rafa memperhatikan Meira yang terus mengayuh sepedanya, sepertinya Meira mulai kelelahan. Rafa menghampirinya.


"Gantian aja, gue yang bawa sepedanya", Rafa menawarkan bantuan kepada Meira.


"Ngga usah, gue masih kuat kok", jawab Meira dengan nafas ngosngosan.


"Kalau ngga kita istirhat bentar di depan sana", tangan kiri Rafa menunjuk ke arah mini market yang tidak jauh dari arah mereka. Mini market kecil di depannya ada penjual nasi goreng dan bakso.


"Ngga usah, rumah gue dah deket". jawab Meira yang sedikit kelelahan, sebenarnya dia ingin berhenti juga tapi dia gengsi.


Rafa tidak kehabisan akal.


"Katanya lo mau traktir gue",


Meira berpikir sejenak, akhirnya dia tidak bisa menolak Rafa. Dirinya pun ingin istirahat sebentar, karena kejadian tadi masih membuatnya syok, seberani-beraninya Meira kalau dihadang seperti itu akan takut juga, apalagi tenaga mereka ngga sebanding.


Mereka berdua berhenti di depan minimarket yang ditunjuk Rafa tadi. Rafa langsung memesan nasi goreng, kemudian menanyakn Meira mau makan juga atau ngga. Meira menggeleng karena dia sudah makan tadi dirumah meskipun cuma sedikit.


Rafa dan Meira duduk behadapan. Meira meletakan helmnya di atas meja kemudian meminum sisa minumannya yang sempat dia beli saat berangkat bersepeda. Mereka masih menunggu pesanan Rafa.


"Lo ngga ngajak kenalan gue? Dari awal ketemu kan kita blm kenalan", Meira mencoba sedikit basa basi.


"Ngga perlu, gue udah tau lo".


"Lo, Meira kan, anak kelas 2 IPA".


Abang tukang nasi gorengnya datang mengantarkan nasi goreng ke meja mereka.


"Makasih Pak", Rafa sambil tersenyum kepada tukang nasi gorengnya.


Rafa langsung memakan nasi gorengnya dengan lahap tanpa basa-basi. Meira hanya menatap keheranan, dia kelaparan apa doyan, batinnya.


"Kok lo bisa tau gue sih?" Meira penasaran.


Mendengar pertanyaan itu Rafa langsung tersedak dan buru-buru ambil sisa minuman Meira yang tinggal seperempat. Rafa tidak segan-segan menghabiskan minumannya. Meira hanya melotot keheranan. Itu kan botol minuman dia, bekas bibir Meira.


"Itu kan bekas minuman gue, kalau gue rabies gimana, terus nular ke elo, lo ngga takut?"


"Ngga papa, yang penting ngga berubah jadi monyet", jawab Rafa santai.


Meira hanya tersenyum, mendengar leluconnya. Meira bergegas masuk ke dalam mini market dan kembali dengan sebotol minuman air putih.

__ADS_1


"Ni, buat elo", Meira menyodorkan minumannya yang sudah dibuka tutup botolnya.


"Kok udah dibuka tutupnya, udah lo jampi-jampi ya?" tanya Rafa dengan maksud bercanda.


"Hari gini masih percaya begituan? ckckck Lagian tadi lo minum bekas gue biasa aja".


"Itu kan bekas lo, sekarang lo-nya ngga papa, berarti minumannya ngga ada apa-apanya dong", canda Rafa lagi sambil tertawa kecil.


"Sama aja kali", jawab Meira ngga mau kalah.


"Eh cobain deh, nasi gorengnya enak lo", Rafa menyodorkan sesendok nasi goreng ke mulut Meira.


Meira masih belum membuka mulutnya, dia lalu menatap mata Rafa. Mata Rafa menawarkan penuh keyakinan. Meira membuka mulutnya dan masuklah sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya dengan kata lain Rafa menyuapi Meira. Meira mengunyah nasi goreng tersebut tanpa rasa curiga sampai akhirnya, dia merasa mengunyah sesuatu yang pedas di dalam mulutnya. Meira bergegas mengeluarkan sisa nasi goreng yang berada di mulutnya menggunakan tisu.


Rafa tertawa bahagia melihat tingkah Meira yang kepedasan. Meira langsung meminum minuman yang tadi sudah dibukanya. Meira membuka mulutnya, rasanya seperti ada api keluar dari mulutnya, dikibas-kibaskannya tangan Meira di depan mulutnya sendiri.


"Lo ngerjain gue ya?" Meira sedikit kesal.


Rafa tadi memang sengaja ngerjain Meira dengan memasukan cabe acar dibalik nasi goreng yang disuapkan ke Meira dengan diam-diam.


"Nah, kalau sekarang baru gue mau minum air ini", kata Rafa yang langsung meminum minuman yang baru saja Meira minum.


Rafa masih tersenyum-senyum melihat tingkah Meira sementara Meira masih kepedasan.


"Masa, segitu doang udah kepedesan", ledek Rafa.


Meira hanya cemberut dan masih kepedasan. Meira memang tidak terlalu tahan makan makanan yang pedas, sedikit cabe sudah membuatnya kepedasan. Rafa menghabiskan sisa nasi gorengnya. Lalu mereka bergegas segera pulang.


Di perjalanan mereka tak saling bicara. Rafa masih mengikuti Meira dari belakang. Sesekali Meira melihat ke belakang memastikan apakah Rafa masih di belakangnya atau tidak.


Akhirnya mereka sampai di depan rumah Meira.


"Gue balik ya, tugas gue kan udah selesai nganter lo sampai rumah", kata Rafa.


"Makasih ya, udah anterin gue", kali ini Meira benar-benar tulus berterima kasih, bukan berarti ucapan terima kasih yang tadi tidak tulus hanya saja dia sangat berterima kasih lebih dalam.


Rafa hanya tersenyum dan mengangguk. Meira masuk ke dalam gerbang dan Rafa masih memandangnya dari belakang punggung Meira. Kemudian Meira berbalik badan.


"Rafa", panggil Meira pada Rafa yang sudah bersiap-siap melajukan motornya.


Rafa menoleh.

__ADS_1


"Makasih ya untuk hari ini", Meira tersenyum.


Rafa mengacungkan jempolnya dan tersenyum. Lalu berlalu meninggalkan rumah Meira. Meira tidak menyangka Rafa tidak seperti yang dia pikirkan. Meira sempat mengira Rafa orang yang sangat cuek, sombong, belagu dan tertutup. Dan satu lagi, Meira tidak menyangka sejenak dia bisa melupakan perasaannya pada Keynan, terlebih setelah apa yang terjadi tadi siang.


__ADS_2