
Setelah bel berbunyi Meira dan teman-temannya bergegas keluar kelas karena mereka akan ngumpul di kafe
Remaja. Keynan yang melihat Meira sudah pergi bergegas berlari mengejarnya.
Keynan mengagetkan Meira,”Ra...!” panggilnya sambil merangkul pundaknya dari belakang.
Seketika teman-temannya kaget langsung melihat ke arah Keynan. Meira yang tahu kalau itu Keynan langsung menatap wajahnya.
“Kalian duluan aja ya”, Meira menyuruh teman-temannya untuk jalan duluan karena takutnya nanti ngga
dapet tempat di kafe. Biasanya kafe rame sekali kalau udah mau weekend seperti ini.
“Pulang bareng gue yuk!” ajak Keynan.
“Ngga ah, gue janjian ama anak-anak mau ngumpul di kafe deket sekolah”
“Gue ikut ya!”
“Ngga boleh, ini khusus buat cewe-cewe”
“Yah elu Ra, kalau gitu gue berubah jadi cewe dulu kali ya?” Keynan ketawa.
“Iya, lo mesti jadi cewe dulu baru bisa gabung”, Meira membalas candaan candaan Keynan sambil mengglitik
pinggangnya.
“Ampun,,,ampun jangan geli Ra”, Keynan mencoba menghindar gelitikan Meira. Meira yang tak mau kalah dari
Keynan mengejarnya.
“Nanti lo pulang sama siapa?” Keynan memberikan pertanyaan yang sebenarnya adalah alasan agar dia bisa ikut ke kafe atau mungkin sebenarnya dia merasa khawatir kalau Meira pulangnya kenapa-kenapa, karena dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga Meira.
__ADS_1
Keynan teringat waktu SMP dulu saat pulang eskul basket, Keynan meninggalkan Meira pulang sendiri karena
Keynan kesal nilai eskul basket Meira lebih tinggi dari nilai Keynan, waktu itu mereka belum dewasa. Saat Meira pulang ada beberapa anak laki-laki yang menghadangnya untuk memalak uang, namun Meira menolak dan akhirnya terjadilah perkelahian, Meira mencoba mempertahankan miliknya, sudah pasti disini Meira kalah karena dia harus melawan sekitar 3 atau 4 anak yang usianya masih tanggung. Beruntung waktu itu Meira langsung ditolong warga sekitar yang kebetulan lewat sekitar situ. Tidak tahu bagaimana kejadian lengkapnya tulang kaki Meira mengalami pergeseran hingga dia sempat tidak masuk sekolah selama sebulan untuk penyembuhan. Semenjak saat itulah dia tidak pernah bermain basket lagi dan semenjak saat itulah Keynan merasa bersalah karena sikapnya, meskipun Meira mengatakan itu bukan karena Keynan.
“Aman, ngga usah khawatir”
“Serius nih, kalau ngga nanti gue jemput deh, jam berapa pulang, ada wartel kan disana?”
“Iya serius, udah gue nggapapa, banyak ko anak-anak, nanti gue bisa pulang bareng mereka”, Meira mencoba meyakinkan Keynan untuk tidak usah mengkhawatirkan dirinya.
“Ya udah deh gue pulang duluan, nanti pulangnya hati-hati ya”, kata Keynan sambil memencet hidungnya Meira.
Dari kejauhan di belakang mereka ada Bella yang memperhatikan tingkah mereka berdua. Dalam pikirannya
banyak tanda tanya, apakah dibalik itu semua mereka ada hubungan yang special. Bella merasa iri dengan persahabatan mereka.
Meira kehilangan jejak kawan-kawannya karena tadi digangguin Keynan, mungkin mereka sudah sampai duluan di kafe pikirnya. Dia bergegas menuju kafe yang tidak jauh dari sekolahnya. Rambutnya yang digerai bergerak mengikuti irama langkah kakinya.
Tiba-tiba Meira menubruk seorang laki-laki yang dia sendiri tidak tahu darimana datangnya, sontak Meira langsung meminta maaf tapi dia keburu pergi meninggalkannya, Meira hanya melihat punggungnya, bau parfumnya masih tercium meskipun dia sudah mulai agak jauh, hmm wangi dalam hatinya. Dia mencoba melihatnya lagi tapi tetap dia tidak mengenali wajahnya, tapi yang dia tahu pasti laki-laki tersebut memakai seragam yang sama dengannya. Kemudian Meira menggeleng-gelengkan kepalanya, sadar Meira sadar, hush hush, dia kembali berjalan menuju teman-temannya sambil sesekali melihat ke arah laki-laki tadi yang saat ini sudah duduk bersama teman-temannya berharap dia melihat dirinya.
“Heh ngliatin apa sih dari tadi”, tanya Alya.
“Itu tadi gue nabrak cowo itu pas jalan, gue udah minta maaf tapi dia ngga noleh, hmm ya udah”
“Ohh cowo itu, masa lo ngga tau sih”, kata Sesil.
“Emang lo tahu siapa dia?”
“Yahh elo Ra, gue mah cowo-cowo ganteng di sekolah hafal”, Sesil dengan centilnya menyombongkan diri
karena mengetahui hal itu.
__ADS_1
“Mereka itu semua, anak kelas 3 di Sekolah kita”, Lulu menambahkan pernyataan Sesil.
“Lo tahu juga Lu?”
“Yah, gue tahu karena kemarin si Sesil ngasih tahu cowo yang ditaksirnya”
“Ehh, ko kita jadi ngomongin cowo, ayo-ayo kita ngerjain tugasnya biar cepat selesai”, Alya yang memang rajin mencoba mengalihkan pembicaraan teman-temannya agar kembali fokus pada tujuan awal mengerjakan tugas.
Mereka berempat kini fokus ngerjain tugas sekolah meski sesekali Sesil mencuri pandang ke arah gerombolan cowo-cowo tadi. Diantara gerombolan cowo tadi memang ada yang Sesil taksir. Dika namanya, anak kelas 3 IPA yang saat ini duduk di seberang meja mereka. Sesil senyum-senyum sendiri saat teman-temannya sibuk ngerjain tugas.
Lulu menyenggol Sesil yang duduk disampingnya, karena sedari tadi Sesil tidak fokus mengerjakan tugas. Belum sampai jam 3 sore mereka sudah menyelesaikan tugas.
“Yee, udah selesai, habis ini kita ngapain?” tanya Sesil sambil merapi-rapikan buku-bukunya.
“Ehh,,,ehh gue ke toilet dulu ya!” sebenarnya Sesil tidak pengen ke toilet tapi karena melihat Dika
pergi ke arah toilet tiba-tiba dia juga pengen menyusulnya.
Sementara itu Lulu, Alya dan Meira masih merapikan buku-bukunya. Meira melirik cowo tadi yang ditabraknya, dia masih duduk disana berbincang-bincang dengan temannya yang lain. Randi salah satu dari mereka tidak sengaja melihat Meira yang sedang melirik kesana, kemudian Randi memberi kode kepada Rafa dengan kepalanya, Rafa menoleh ke arah Meira, Meira terkejut, dia langsung menundukan kepalanya kembali merapikan bukunya dan memasukannya ke dalam tas. Lupakan...lupakan Meira dalam hatinya. Meira hanya penasaran siapa laki-laki tadi, mengapa dia tidak merespon permintaan maafnya. Apakah salah tadi caranya minta maaf. Ahh, sudahlah.
Sesil kembali dari toilet dengan muka sumringah, diikuti Dika di belakang Sesil sekitar 5 meter jaraknya.
Sesil duduk langsung menunjukan secarik kertas bertulis angka-angka. Semua mata teman-temannya langsung tertuju pada kertas tersebut.
“Gue dapet nomernya cowo itu”, Sesil memberitahukan pada teman-temannya dengan sangat gembira. Sesil menyimpan kertas tdi kedalam kantong bajunya agar tidak hilang. Dia sangat bahagia bisa berkenalan dengan Dika.
“Gila lo Sil, nyali lo top banget”, kata Alya sambil berbisik.
“Siapa dulu dong Sesil”, Sesil membanggakan dirinya dengan nada lirih karena khawatir terdengar Dika dan
genknya.
__ADS_1