
Setelah selesai membeli sepatu, Keynan langsung mengantarkan Meira pulang ke rumahnya. Keynan berhenti
tepat di depan rumah Meira. Meira turun dan melepaskan helm yang dipakainya.
“Lo mau mampir ngga?” tanya Meira.
“Emm, kayanya gue mau langsung pulang aja deh, salam buat tante ya”, kata Keynan.
“Iya, nanti gue sampein, ya udah pulang gih sana, hati-hati ya”
“Ya udah gue pulang duluan ya, makasih ya udah temenin gue beli sepatu”, Keynan menyalakan motornya
meninggalkan rumah Meira yang masih berdiri di depan rumahnya.
***
Keynan membuka-buka majalah otomotif di kamarnya melihat-lihat model motor terbaru, tiba-tiba bundanya
mengetuk pintu.
“Key, boleh bunda masuk”, kata bundanya.
“Masuk aja bund, ngga dikunci”, jawab Keynan yang masih santai di kasurnya.
“Lagi ngapain sayang, makan malam dulu yuk!” bunda Jasmine membuka pintu kamar Keynan mengajaknya untuk makan malam.
“Iya bund”, Keynan beranjak dari kasurnya mengikuti ajakan bundanya.
Bunda Jasmine mengambilkan nasi untuk Keynan. Mereka hanya makan berdua saja.
“Bund, papa mana?” Keynan bertanya pada bundanya yang masih mengambilkan nasi untuknya. Tidak biasanya mereka makan cuma berdua.
“Papamu ada meeting malam ini dengan klien, jadi pulangnya agak telat, tadi papa nyuruh kita makan
duluan”, jawabnya.
Keynan mengangguk tanda dia mengerti. Keynan menyantap makan malam dengan sangat lahap. Bundanya
memperhatikan tingkahnya sambil tersenyum. Semua makanan di piringnya hampir habis, tersisa 1 atau sendok lagi.
__ADS_1
“Tambah lagi ya”, bundanya menawarkan Keynan untuk menambah lagi makannya.
“Udah bund, nanti Keynan gendut lagi kaya dulu terus ngga ada lagi yang temenan sama Keynan gimana”,
Keynan mencoba menolak secara halus.
“Masa ngga ada yang mau temenan sama anak bunda yang ganteng ini hanya gara-gara gendut”, Bunda Jasmine mencoba merayu anaknya.
“Iya bund, bunda ngga ingat dulu pertama kali kita pindah kesini, Keynan ngga ada temennya gara-gara Keynan gendut, untung ada Meira yang selalu belain Keynan saat di bully”
“Kan bisa nanti olahraga biar kurus lagi”, kata bunda tidak menyerah merayunya.
“Bund, berhentilah makan sebelum kenyang”, jawab Keynan.
“Iya deh, bunda kan cuma becanda siapa tahu mau nambah lagi”, bunda Jasmine yang tadinya siap mengambilkan nasi tambahan untuk Keynan, meletakannya kembali ke meja makan. Tiba-tiba mbok Ijah, pembantu rumah tangga mereka datang.
“Mas Keynan, ada telpon”, kata mbok Ijah memberitahu Keynan.
“Dari siapa mbok?” Keynan bertanya.
“Anu, dari cewe mas, lupa namanya siapa”, mbok Ijah yang sudah agak berumur sebenarnya lupa menanyakan siapa yang telpon.
“Bukan bu, aduh siapa tadi lupa saya”, mbok Ijah menggaruk-garuk kepalanya.
“Siapa ya?” batin Keynan penasaran.
“Bund, Keynan terima telpon dulu ya”, Keynan meminta izin untuk menerima telpon itu.
Bundanya mengangguk mengizinkan Keynan pergi mengangkat telpon. Keynan yang masih duduk menghabiskan minuman yang ada gelasnya dan segera beranjak meninggalkan bundanya di meja makan.
Keynan penasaran siapa yang menelepon, biasanya yang sering telpon dia hanya Meira, tapi kali ini bukan.
“Hallo”
“Hallo”, balas Bella dengan nada lembutnya.
“Maaf, ini dengan siapa ya?” tanya Keynan yang masih penasaran.
“Ini teh Bella, teman sekelasmu”, jawab Bella dengan nada sundanya.
__ADS_1
“Ohh, Bella, aduh maaf ya, lama nunggunya ya, maaf banget soalnya tadi lagi makan” Keynan memposisikan
duduknya di sofa.
“Berarti Bella ganggu makan malamnya Keynan dong”, Bella merasa tidak enak karena merasa telpon di waktu
yang tidak tepat.
“Ngga, ngga, ngga, udah selesai ko”, Keynan langsung memotong pembicaraan mereka agar Bella tidak merasa tersinggung.
“Siapa Key?” tanya bundanya Keynan dari ruang makan.
“Bella Bund, teman sekelas Keynan”, Keynan menjawab dengan suara keras dan sedikit menjauhkan gagang
telpon.
“Sorry ya, tadi bunda nanya, ngomong-ngomong dapat nomer telpon gue dari mana?” tanya Keynan sembari
mendekatkan kembali gagang telponnya ke telinga.
“Waktu itu Keynan yang kasih barengan sama kaset yang Bella pinjam, ingat ngga? jadi Bella coba hubungi
ternyata nyambung”, Bella menjelaskan pada Keynan untuk mengingat pertemuan waktu itu.
“Ohh iya iya, sampai lupa, terus gimana kasetnya udah coba diputer, bagus ngga, lo suka ngga sama lagu-lagunya?” Keynan menghujani Bella dengan berbagai pertanyaan.
“Satu-satu atuh nanyanya”, Bella bingung mau jawab pertanyaan yang mana dulu.
“Sorry,,, sorry habisnya gue penasaran”
“Makasih ya, tadi siang udah bantuin Bella”, Bella coba mengalihkan pembicaraan.
“Jawab dong pertanyaan gue, penasaran nih!” Keynan berusaha membalikan ke pertanyaan tadi yang ditanyakannya.
Bundanya yang sedang membantu mbok Ijah membereskan meja makan penasaran mengintip Keynan yang
sedang telpon. Bunda Jasmine memperhatikan Keynan yang ketawa-ketawa sendiri, gonta ganti posisi duduk sampai baring-baring di sofa, bundanya hanya geleng-geleng sambil tersenyum melihat tingkah anak semata wayangnya.
Sementara itu Keynan dan Bella asyik mengobrol dari cerita kenapa Bella pindah sekolah ke Jakarta, begitu juga Keynan menceritakan kalau dulunya dia juga anak pindahan, Keynan juga menceritakan dulu dia dibantu Meira waktu di sekolah. Mereka berdua cerita seperti teman yang lama tidak bertemu.
__ADS_1
Bella mengakhiri telponnya karena malam sudah agak larut, jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya, ada rasa ingin terus dekat dengan Keynan, dalam hatinya merasa iri mendengar cerita persahabatan antara Keynan dan Meira. Dia ingin seperti Meira, punya sahabat seperti Keynan dan sahabat lainnya di kelas.