Apa Jadinya Aku Tanpamu

Apa Jadinya Aku Tanpamu
Episode 9


__ADS_3

Sementara itu Meira, Lulu dan Sesil sedang main di rumah Alya, mereka main di kamar Alya. Kamarnya cukup


luas untuk tidur seorang diri, disana terdapat kasur berukuran Queen dengan dipan warna putih polos, di samping tempat tidur ada meja belajar yang di atasnya banyak buku-buku pelajaran sekolah pastinya, selain itu juga banyak tempelan-tempelan kertas kecil seperti notes, mungkin hal itu untuk memudahkan Alya saat belajar. Di sudut yang lain ada lemari dengan nuansa putih juga dengan ukuran 3 pintu, di kamarnya terdapat 1 TV tabung berukuran sedang, Alya juga diberi fasilitas telpon rumah di kamarnya. Teman-temannya tidak heran karena memang Alya terlahir dari keluarga berada.


Meira duduk di lantai bersender pada tempat tidur Alya sambil baca majalah Misteri yang dia temukan


di rak buku Alya, Lulu melihat-lihat majalah fashion bersama dengan Alya sementara Sesil sedang asyik merias wajahnya di depan cermin yang ukurannya hanya sebesar telapak tangan.


“Eh, eh, coba deh lihat, gue cantik ngga?” Sesil bergaya memperlihatkan hasil make upnya kepada


teman-temannya, memalingkan wajahnya ke kanan dan ke kiri tersenyum ala-ala model yang akan melakukan pemotretan.


Meira meletakan majalah yang sedang dibacanya dan langsung menegakan duduknya, begitu juga Lulu dan Alya langsung duduk. Mereka menatap wajah Sesil.


“Jago banget lo Sil”, kata Lulu.


“Iya, gila, bisa nih lo buka salon di rumah, nanti gue yang jadi karyawannya”, kata Meira ketawa lebar.


“Apaan sih, kan gue jadi malu”, Sesil tersenyum tersipu malu-malu.


“Jangan pada nglihatin gue kaya gitu donk”,


Sesil melemparkan batal kecil ke teman-temannya. Dan teman-temannya membalas saling lempar bantal dan


guling di kamar Alya. Kamar pun jadi porak poranda, seperti kapal pecah. Tapi mereka sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini, selain hobi bercerita mereka juga hobi untuk berantakin kamar.


“Ehh, udah donk, cape nih”, kata Sesil yag sudah mulai ngosngosan mengambil air minum yang ada di meja.


Disusul dengan teman-temannya yang lainnya, mereka minum air putih yang sudah disediakan oleh nyokapnya Alya.

__ADS_1


Sesil menyambar toples berisi keripik yang ada di meja,”kalian mau denger cerita gue ngga”, Sesil yang


menenteng toples memasukan keripik kedalam mulutnya sambil duduk di lantai lagi.


“Tapi kalian harus janji jangan ngledekin gue”, Sesil mencoba menekannya pada teman-temannya untuk tidak


membulynya.


“Emang ceritaan apaan”, balas Meira sambil memakan kue kering.


“Kalian harus janji dulu”


“Iya, janji”, kata mereka serempak.


Kepala mereka berempat saling mendekat bisa dibilang hampir beradu. Sesil membisikan ke mereka kalau


“Lo serius Sil?” tanya Meira.


“Kapan nembaknya?” sambung Alya.


“Satu-satu dong nanyanya”


“Ya udah lo ceritain deh ma kita-kita gimana ceritanya”, Meira yang masih penasaran mengernyitkan dahinya


berharap Sesil mau menceritakan kisah ditembaknya dia dari Dika.


Sesil yang masih berbunga-bunga terlihat sangat sumringah menceritakan bagaimana dia bisa ditembak oleh Dika. Nampak dari raut wajahnya yang memerah bahagia, di atas kepalanya seperti ada bayang-bayang buka bertebaran warna-warni menggambarkan kebahagiaan Sesil yang baru saja jadian. Ada kehangatan diantara mereka yang kemudian menyebar seperti virus, cepat menyebar pada teman-temannya. Mereka semua bahagia mendengar Sesil menceritakan kisahnya.


Sesil menceritakan bahwa semalam Dika ke rumahnya dengan membawa serangkai bunga dan cokelat. Dika

__ADS_1


menembaknya tepat di depan rumahnya. Sebenarnya sebelum itu mereka sudah PDKT, hanya Sesil belum menceritakan kepada teman-temannya, cuma teman-temannya sudah tahu kalau dia naksir dengan kakak kelas.


“Uhhh Sesil, so sweet sekali”, kata Alya


Akhirnya mereka saling berpelukan, seperti magnet yang langsung menempel.


“Ra, kapan lo jadian sama Keynan, lo kan udah deket banget ma dia”, kata Sesil tiba-tiba.


Mendengar pertanyaan itu tubuhnya mematung, kenapa tiba-tiba ada pertanyaan itu, kemudian dia menggerakan bola matanya memandangi wajah temannya satu persatu, apakah mereka tahu kalau dia memendam rasa pada Keynan. dia tidak pernah menceritakan perasaannya kepada orang lain. Meira sangat pandai menyembunyikan perasaannya, lantas bagaimana mereka tahu? dalam hatinya bertanya-tanya.


Sampai saat ini, Meira belum mampu mengumpulkan keberanian untuk mengutarakan perasaannya pada Keynan, Gue kan cewe, dalam hatinya. Apakah benar, orang yang jatuh cinta secara diam-diam kadang bisa memiliki rasa kehilangan lebih kuat daripada  menyatakan perasaan yang jelas-jelas menusuk seisi dadanya. Meira lebih memilih memendam perasaannya di balik kata persahabatan. Persahabatan yang memiliki dua sisi. Bahagia sebab dia selalu merasa dekat, menahan luka saat Keynan sedang dekat dengan seseorang yang bukan dirinya.


“Ra..!” Alya menggoyangkan tubuh Meira sebelah, sehingga Meira tersadar dari lamunanya.


Mereka bertiga menatap wajah Meira masih menunggu jawaban apa yang akan keluar dari mulutnya.


“Apaan sih! Orang gue sama Keynan cuma temenan ko”, begitulah jawaban yang keluar dari mulutnya


Teman-temannya sedikit kecewa mendengar jawabannya, mereka berharap Meira sama Keynan bisa jadian juga kaya Sesil dan Dika. Tapi apa yang bisa mereka perbuat, kalau Meiranya saja hanya menganggap teman, sebagai sahabat Meira, mereka mengerti dan memahaminya.


“Emang lo ngga ada perasaan sama Keynan?” tanya Sesil yang masih penasaran.


“Hush, kalian apaan sih, bahas yang lain aja”, Meira menyembunyikan perasaanya dengan mengalihkan


perhatian teman-temannya ke tema yang lain.


“Gimana kalau kita.....”Meira tiba mengglitik temannya satu persatu dan akhirnya mereka lupa dengan


pertanyaan yang mereka lontarkan.

__ADS_1


__ADS_2