
Samudra berlari sambil memegang tangan Aristia, nafas mereka terengah-engah. Setelah dirasa cukup jauh Samudra berhenti, lalu melepaskan tangannya. Mereka saling pandang kemudian tersenyum dan tertawa bersama.
Samudra menatap Aristia yang masih mengatur nafasnya.
Ia sudah lama tidak tertawa seperti ini dengan Aristia, karena gadis ini selalu menghindar setiap mereka bertemu.
Kini mereka berjalan beriringan dengan santai. Samudra melirik Aristia disampingnya yang sedang tersenyum. Senyum itu masih sama, hanya saja sekarang ia sudah jarang melihat senyum itu.
Entah Aristia berhenti tersenyum padanya atau Aristia tidak ingin lagi tersenyum padanya.
Tadi mereka tanpa sengaja bertemu, ia melihat Aristia tengah duduk sendiri di depan mini market. Tampak gadis itu sedang memakan sosis beserta roti.
Samudra datang menghampiri.
Meski Aristia mengizinkan ia duduk, namun mereka hanya diam setelah itu. Tak ada obrolan sepatah kata pun. Tak ada lagi cerita atau tawa Aristia seperti dulu.
Ketika hendak pulang, Samudra dengan tiba-tiba menarik tangan Aristia lalu berlari seolah ada yang mengejar mereka.
Aristia yang tak sempat berfikir refleks mengikuti Samudra yang berlari.
"Kenapa tadi kita lari?"
Kini mereka sudah berjalan santai dan nafasnya sudah teratur lagi.
"Entahlah, cuma lagi pengen lari saja."
Aristia tertawa mendengar itu, "Ya ampun! Kakak sekarang jadi aneh." ucapnya, "Ada gitu lari malem begini cuma karena pengen."
Samudra tersenyum, kini Aristia tak lagi diam seperti tadi. Kebekuan yang tadi terasa mulai mencair.
"Gimana sekolah kamu?"
"Sekolah aku baik-baik aja kak. Gak kenapa-kenapa...."
Aristia tersenyum.
"Bukan sekolah kamu juga Tia yang aku tanya."
Aristia tertawa, ia berusaha bersikap santai.
"Lancar kak, layaknya seperti siswi pada umumnya."
Aristia melihat langit sebentar, ia menghela nafasnya, ada sedikit perasaan lega menyelimuti hatinya kini.
Apa karena ia berjalan berdua dengan Samudra atau karena tadi ia tertawa dan lupa bahwa laki-laki di sampingnya ini pernah menolaknya.
__ADS_1
Samudra melirik Aristia, lalu tiba-tiba ia memakaikan jaketnya pada Aristia. Aristia mendadak menghentikan langkahnya.
"Nanti kamu sakit."
"Jika kamu sekhawatir itu, seharusnya kamu gak nolak aku. Jangan terus mendorong aku untuk pergi, namun secara bersamaan memberi perhatian." kata Aristia bergumam.
"Apa?"
"Gak perlu kak." Aristia kini bersuara, ia ingin melepas jaket yang dipakaikan Samudra.
Dengan cepat Samudra menyentuh bahu Aristia, menaruh kembali jaket yang berusah ia lepas.
"Nanti kamu kena flu."
Aristia tak menjawab perkataan Samudra. Tiba-tiba ia merasa kesal pada Samudra.
"Ayo, sudah sampai."
Tanpa melihat perubahan Aristia. Samudra menggandeng tangan Aristia untuk menyebrangi jalan.
Aristia menarik tangannya dari genggaman Samudra.
"Sudah sampai. Ayo kita masuk."
Samudra menjelaskan dengan senyum, karena sedari tadi Aristia diam.
Aristia berkata suaranya pelan hampir tidak terdengar.
Samudra bingung dengan reaksi Aristia yang berubah tiba-tiba.
"Jangan seperti ini! kalo kakak seperti ini aku harus bagaimana?"
"Kamu kenapa?"
Samudra berkata dengan lembut.
"Kakak sudah mendorong aku untuk menjauh. Jadi aku tidak bisa terlalu lebih dekat lagi" ujar Aristia, kini nafasnya sudah tidak lagi teratur seperti semula, ia marah.
"Tia...."
Suara Samudra terdengar pelan ketika menyebut namanya. Samudra tidak ingin Aristia selalu menghindar darinya. Hanya itu.
"Jangan menganggap saya anak kecil lagi. Jangan menganggap saya adik lagi. Karena setelah hari itu saya tidak pernah lagi menganggap kamu sebagai kakak."
Kini air mata Aristia tumpah. Entah kenapa ia marah karena sikap Samudra, padahal itu hal yang sepele.
__ADS_1
"Aku terlalu terburu-buru rupanya, dan memaksa mu untuk bersikap seperti dulu lagi."
Aristia melihat Samudra didepannya, Samudra sejenak diam lalu melanjutkan lagi kata-katanya.
"Baiklah aku tidak akan menganggap kamu sebagai anak kecil lagi, bagaimana jika sekarang kita menjadi teman."
"Apa kakak tau!? sulit rasanya untuk melihat Kakak. Terlebih jika aku melihat kakak sedang bersama kak Lintang."
Aristia menjeda kalimatnya, lalu ia melanjutkan lagi
"Bahkan hanya sekedar untuk bertanya apa hubungan kalian lebih dari teman pun aku tak berani"
Samudra diam, mulutnya tak dapat berkata-kata apa-apa lagi.
Waktu yang ia pikir dapat menyembuhkan luka pun nyatanya tidak dapat bekerja.
Aristia menyeberangi jalan, ia melangkahkan kaki menuju rumahnya.
Aristia meninggalkan Samudra sendiri, ia sengaja memperlambat langkahnya berharap Samudra akan menyusul dan mengejarnya.
Di tunggunya Samudra untuk sekedar memanggil namanya, namun tidak ada suara apa pun yang terdengar.
Aristia mempercepat langkah kakinya dan masuk ke dalam kamar nya sambil menangis.
Aristia membaringkan tubuhnya di kasur, ia menutup wajahnya dengan bantal. Tiba-tiba suara Hp nya berdering, ia berfikir itu Samudra dilihatnya layar Hp ternyata dari Aswin.
Dengan malas Aristia menaruh kembali ponselnya di meja kecil samping ranjangnya.
Malam semakin gelap, mengikuti hati Aristia yang juga gelap. Setelah beberapa lama ia menangis, ia membasuh mukanya.
Aristia duduk di kasurnya, ia membawa cermin dan menaruh cermin itu di depannya.
Lama ia menatap wajahnya dicermin, kemudian ia tiba-tiba tertawa melihat pantulan dirinya dicermin tersebut.
"Tia, kamu jelek banget! liat deh mata kamu sembab begitu, lingkaran mata kamu jadi hitam."
Lalu ia tertawa mengingat kebodohannya tadi ketika bersama Samudra.
Ternyata menertawakan diri sendiri di depan cermin, sungguh menyenangkan seperti ini. Pikirnya dalam hati. Aristia menarik nafas, ia menuju meja belajarnya.
"Terkadang retak supaya ada cahaya yang bisa masuk."
Tulis Aristia pada notes, lalu ia merobek kertas tersebut dan menempelkan pada buku.
"Malam ini aku sedang tidak ingin bercerita tentang orang yang memberikan mu pada ku. aku ingin mengurai rasa ku sendiri, dan kamu semoga tetap bahagia dikastil mu sana."
__ADS_1
Katanya ketika melihat boneka Cinderella, lalu ia berjalan menuju ranjangnya, membaringkan tubuhnya dan mengambil selimut lalu ia tertidur.