
Esoknya ketika pagi hari Rafa dan Aswin tanpa memberi kabar, mereka sudah berada di rumah Aristia.
Aristia terkejut ketika Lintang kakaknya memanggilnya dan mengatakan Aswin dan Rafa sudah menunggu didepan teras.
Aristia menatap dirinya di cermin, matanya terlihat bengkak karena semalam habis menangis.
"Padahal semalam kan aku udah cuci muka" lirih nya dalam hati. Sedikit sesal menyerbu hatinya.
Aristia keluar kamar, ia menuju teras dimana temannya sudah menunggu.
Sedikit malu-malu ia keluar, menutup sedikit matanya dengan kedua tangannya. Tersadar akan tingkahnya yang aneh, lalu ia mengucek-ucek matanya, sambil perlahan ia duduk.
"Mata aku kelilipan nih semalam, jadinya seperti ini." kata Aristia memulai percakapan sebelum Rafa dan Aswin bertanya lebih jauh lagi, lalu berucap dalam hati "Semoga mereka percaya perkataan aku ini, Tuhan!"
Rafa dan Aswin memandang Aristia, tetapi keduanya hanya diam saja melihat sikap Aristia.
Mereka tak bertanya lebih lanjut. Karena mereka tau itu bukan sembab karena kelilipan melainkan karena tangis.
"Ada apa? kok pagi-pagi kalian sudah datang?" Aristia bertanya lagi, karena sedari tadi keduanya hanya diam menatapnya.
"Bukankah kami sudah biasa main ke sini?" Aswin memecah kecanggungan Aristia.
"Iya, benar" kata Aristia, "Itu tadi pertanyaan yang aneh Aristia." lagi Aristia berkata dalam hati, ia menyadari kekonyolannya pagi ini.
"Pagi, tante...." ucap Aswin bersamaan dengan Rafa.
Aristia menoleh dilihatnya kedua orang tuanya berdiri di pintu.
"Jalian kenapa gak masuk? ayo kita sarapan dulu...." ajak ibu Aristia
"Wah.... nanti ngerepotin tante," kata Aswin
"Gak apa-apa, kalian kan sudah bersahabat sejak lama. Sudah seperti anak sendiri." ibu Aristia menimpali lagi.
"Oke tante, kami ikut sarapan ya?" kini Rafa yang menjawab.
"Ayuk.... Win, Fa." ajak Aristia, kemudian mereka masuk ke dalam.
"Masakan tante selalu enak!" Puji Aswin, "iya kan fa!" lanjut Aswin menyikut Rafa.
"Iya, enak" Rafa menjawab dengan senyuman.
"Jadi kalian kenapa? kok tiba-tiba datang gak bilang-bilang" Aristia bertanya, setelah mereka selesai makan dan sudah duduk kembali di depan TV.
"Kita mau ke rumah Rudi, Putri juga sudah ada di sana." kata Aswin.
__ADS_1
"Loh kok mendadak?" kata Aristia
"Semalam aku menelfon tapi gak diangkat." kata Aswin
"Waktu aku yang telfon, nomor kamu gak aktip." kata Rafa ikut menimpali.
Ahh.... Semalam ia memang mengabaikan telfon dari Aswin. Ia mematikan ponselnya, lalu pergi tidur.
"Jadi gimana?" kata Aswin
"Aku gak ikutan deh ya.... Kalian aja," kata Aristia ia masih agak malas untuk keluar rumah.
"Ya udah, kami pergi ya." kata Aswin, ia melangkah terlebih dahulu menuju mobil.
Rafa menatap Aristia, "Kamu beneran gak apa-apa?" Rafa berkata, dari nada suaranya ia enggan meninggalkan Aristia sendiri.
"Iya, aku gak apa-apa." Aristia tersenyum.
Ia mengantar kepergian kedua sahabatnya. Aristia menghela nafas, lalu masuk kembali ke rumah.
Ia kembali ke kamar, membaringkan tubuhnya. Ingin rasanya ia hanya bermalas-malas hari ini.
*****
Suara dering HP terdengar, Aswin mengambil dan melihat layar ponselnya, tertulis nama Aristia.
[ Halo....] suara diseberang sana terdengar.
"Hei, Tia" Aswin menyapa
[Iya, Aswin apa kamu mau menceritakan sesuatu?] terdengar suara Aristia pelan
"Cerita apa?" Aswin balik bertanya, ia sejenak berfikir.
[Terserah....] kata Aristia singkat
"Semalam aku dan Rafa melihat kamu dengan kak Samudra ketika di depan rumah." Aswin memulai ceritanya.
Ia mendengar Aristia menarik nafas panjang.
"Kami hendak menghampiri, namun ketika kami hendak mendekat kamu seperti sedang marah. Meninggalkan kak Samudra sendiri." kata Aswin melanjutkan kata-katanya.
Aristia terdiam, pantas saja Aswin menelfon dan pagi tadi mereka langsung datang menemuinya.
Rupanya mereka hanya ingin memastikan keadaan.
__ADS_1
"Halo.... Tia?" Aswin memanggil
[Ah... iya, aku mendengarkan.] kata Aristia, tadi sejenak ia terpaku.
"Kami berbohong jika akan pergi ke rumah Rudi. Jika pagi tadi kamu setuju untuk ke rumah Rudi, baru kami akan menghubungi Rudi. Aku dan Rafa khawatir melihat ekspresi mu semalam" Kata Aswin, ia berhenti sebentar lalu melanjutkan lagi ucapannya, "Kalo kamu ada yang mau diceritakan?" kini Aswin balik bertanya pada Aristia.
[Kemarin aku sedang duduk didepan mini market. Tanpa sengaja bertemu dengan Kak Samudra. Awalnya baik-baik saja. Tapi karena hal sederhana mood aku jadi kacau.] cerita Aristia.
Aswin mendengarkan perkataan Aristia, lalu ia berkata "setelah itu apa yang terjadi?"
Aristia diam sejenak, ia bingung mengurai rasanya.
[Aku kemudian meninggalkan kak Samudra seorang diri. kamu tau kan jika dulu aku pernah menyukainya?]
"Iya aku tahu...." Aswin menjawab perkataan Aristia
[Apa aku terlalu sensitif? semua sudah berlalu, padahal semalam kak Samudra bersikap baik pada ku.] Aristia berkata dengan lirih.
"Setiap orang membutuhkan waktu yang berbeda. Waktu beberapa bulan memang bukan waktu yang lama bagi seseorang, namun bagi orang lain mungkin waktu segitu merupakan waktu yang sangat panjang. Tidak ada yang salah." ujar Aswin,
"Semua membutuhkan proses. Tidak ada yang serba instan di dunia ini, kecuali satu yaitu patah hati." kata Aswin melanjutkan perkataannya yang tadi sengaja ia jeda.
Aswin sengaja menjeda kalimatnya, ia ingin menjelaskan kepada Aristia sahabatnya itu secara perlahan. Ia tidak ingin Aristia terlalu terfokus pada kesedihannya.
"Semalam, kak Samudra berkata tidak akan lagi menganggap aku sebagai anak kecil. Dia akan mengganggap aku sebagai temannya." kata Aristia
"menganggap kamu sebagai teman, bukan berarti dia akan menyukai mu Tia. Apa kamu punya impian?" Aswin bertanya.
[Iya, tentu aku punya." jawab Aristia cepat, "Tentu aku tidak sedepresi itu Aswin! hanya karena sedih lalu lupa akan segala hal yang ada.] Aristia mulai tersenyum di seberang sana.
Meski Aswin tak bisa melihat, namun ia tahu Aristia sedang tersenyum di sana. Ia tahu karena suara dan nada Aristia berubah tidak seperti awal percakapan mereka tadi.
Aristia menghela nafas, lalu berkata [Ada apa tiba-tiba bertanya tentang impian. apa kamu tidak mau mendengar cerita ku lagi?]
"Tentu tidak Tia. Bukan itu maksud ku." Kata Aswin, sedetik kemudian ia menarik nafas lalu melanjutkan lagi perkataannya, "Aku hanya ingin mengatakan kejar lah mimpi mu! tapi sebelumnya pastikan dulu mimpi mu itu apa."
Aswin tertawa.
[Terima kasih Aswin....] kata Aristia. [Jadi kamu takut aku mengejar sebuah mimpi, tapi tidak tau apa yang aku kejar] Kata Aristia tertawa kecil.
Lalu ia tersenyum, rasanya saat ini ia seperti mendapat angin segar.
Lega rasanya, ketika ia sudah menceritakan hal yang mengganjal dihatinya.
Pagi tadi beberapa pesan masuk ke HP-nya, Aristia mengabaikan semua pesan itu dan baru malam ini ia memegang ponselnya.
__ADS_1
[Jika memang ada kayu yang mengganjal dihati. Ayo kita belah bersama, supaya kayu itu tidak lagi menghadang.]
itu isi pesan yang di terimanya dari Aswin tadi pagi, namun baru malamnya ia membaca isi pesan tersebut.