Apa Kabar Cinta

Apa Kabar Cinta
Suara Hati Rafa


__ADS_3

Selamat ulang tahun, kami ucapkan....


Selamat panjang umur, kita kan doakan....


Tiup lilinnya tiup lilinnya tiupnya lilinnya


Sekarang juga, sekarang juga


"Selamat ulang tahun Aswin." Seru Rudi sambil membawa kue yang tadi lilinnya telah di tiup oleh Aswin.


"Makasih teman-teman." Aswin berkata dengan senyum yang mengembang.


"My Tia, Aswin ini calon orang kaya loh!" Kata Rudi mengacungkan jempolnya.


"Oh ya...." Balas Aristia


"Kamu tau dia anak satu-satunya. Semua usaha properti orang tuanya pasti kan jadi miliknya. Termasuk villa yang lagi kita tempati ini." Kata Rudi


"Aku tau kamu anak orang kaya. Tapi gak nyangka sekaya itu." Aristia mengerlipkan matanya sambil tersenyum pada Aswin, "Beibbiii...." Seru Aristia memanjakan suaranya.


"Gak lucu, apalagi sampe tergoda!" Aswin menjentikkan telunjuknya pada kepala Aristia yang hendak bersandar pada pundaknya.


- Cetak -


Sebuah suara terdengar keras, Putri menjitak kepala Aswin dengan keras.


"Woy! Aristia gak sungguh-sungguh ngomong begitu. Dasar sok kaya!" Seru Putri mencibir


Melihat itu Aristia dan Rudi tertawa kecil. Aswin melempar bantal yang ada di sofa pada Putri.


"Aku keluar dulu ya, mau lihat pemandangan." Aristia lalu keluar.


Aristia memandang sekeliling villa yang begitu indah. Desain Villa ini memiliki cita rasa klasik dengan ukiran kayu.


Keindahan view villa ini juga menjadi lengkap dengan pantai yang berpasir putih. Selain itu bunga melati dan kamboja menambah kesan sempurna pada villa ini.


Aristia melihat Rafa yang tengah duduk di ayunan sambil memperhatikan matahari yang akan berpulang.


"Cantik kan?" suara Aristia memecah kebisuan Rafa, ia duduk di ayunan yang ada di samping Rafa.


"Iya. Kepulangan yang begitu indah, namun bisa membuat dunia menjadi gelap." timpal Rafa tanpa melihat Aristia.


"Meski dunia menjadi gelap, itu hanya berlangsung beberapa jam saja. Enggak selamanya. Esoknya dunia akan terang kembali dengan sinar matahari. Hari yang baru akan di mulai." Aristia memandang langit yang mulai berwarna merah.


Rafa melirik Aristia yang ada di sampingnya, di perhatikannya segaris senyum di wajah itu.


Rambutnya yang berkibar terhembus angin menambah paripurna gadis yang ada di sampingnya.


Rafa berjalan mendekati bibir pantai di depannya.


Tiba-tiba saja Aristia mendorong Rafa hingga ia terjatuh dan basah terkena air laut.

__ADS_1


Aristia tertawa melihat Rafa. Ia sengaja mendorong Rafa agar pria itu sedikit bisa menikmati momen ini. Sudah beberapa hari ini Rafa selalu susah untuk di ajak tertawa.


Rafa menarik tangan Aristia yang sudah bersiap hendak kabur. Namun tak berhasil. Aristia lari ke arah ayunan tempat mereka tadi.


Nafasnya tersengal. Keringat membasahi tubuhnya. Ia menarik nafas perlahan.


Rafa memegang tali ayunan yang di duduki Aristia, lalu menarik ke hadapannya. Aristia sempat terkejut karena wajah mereka begitu dekat.


"Apa kamu menganggap aku teman?" Rafa memandang bola mata Aristia, "Aku menyayangi mu Aristia." Kata Rafa


"Aku juga menyayangi mu." jawab Aristia. Rafa terdiam, hatinya bergetar mendengar perkataan Aristia barusan.


"Kamu tau aku juga menyayangi mu, kami semua menyayangi mu tapi bagaimana kami bisa tahu jika kamu tak bercerita." lanjut Aristia lagi.


Rafa kembali terdiam, melayangkan lamunannya.


Bukan itu maksud perkataan ku tadi Aristia. Bagi ku kamu benar-benar spesial seperti matahari yang bersinar di hari yang berawan.


Aku sungguh tak menduga sebelumnya, akan menyimpan perasaan ini.


Aku terlalu takut untuk mengetahui bahwa aku bukanlah kebahagiaan mu. Tapi aku tidak bisa berbohong bahwa aku menyukai mu.


Kamu tau, terkadang hadirnya seseorang membuat hari dan hati kita menjadi bising. Namun ketidakhadirannya akan membawa hati kita pada kerinduan dan sepi.


Seperti aku yang tak bisa memilih tentang apa yang membuat aku nyaman. Bagi ku kamu memiliki ruang tersendiri di dalam hati.


*****


"Husstt...." Aristia menaruh telunjuk pada mulutnya


Rudi melihat ke dalam kelas, di lihatnya Aswin sedang bersama seorang wanita.


"Maaf." terdengar suara dari dalam.


"Wah.... Aswin tanpa pikir panjang langsung menolak. Gak butuh waktu satu menit langsung menjawab. Mirip seseorang yang menjadi sahabatnya." Aristia melirik pada Rafa.


"Seperti yang ngomong gak seperti itu." balas Rafa pada Aristia.


"Hei.... Hei.... Aku perlu ada orang yang mengungkapkan perasaan dulu, baru bisa tau berapa lama waktu ku untuk menjawab." Kata Aristia.


"Kamu pernah mendapat pernyataan cinta Aristia." kata Rafa.


"Kapan?"


Mendengar itu Rafa membelalakkan matanya pada Aristia. Aristia kembali fokus pada Aswin di dalam kelas. Tak berapa lama Aswin keluar dari kelas.


"Ayo kita pergi. Jadi pergi main kan?" Seru Aswin setelah di depan kelas.


"Itu gak apa-apa di tinggal di dalam kelas sendiri?" tanya Aristia.


"Gak apa-apa. Ayo!" kata Putri menggandeng tangan Aristia.

__ADS_1


"Kenapa malah kamu yang jawab." tanya Aristia.


*****


Putri tertawa melihat Aristia yang dengan hati-hati menarik balok yang tersusun agar tidak runtuh.


Perlahan di tariknya balok yang ada di atas, dengan nafas yang di tahan ia fokus mencurahkan segenap konsentrasinya.


"Cepet dong Tia. ini udah lima menit kamu gak juga menariknya. Jangan terlalu lama." kata Aswin


"Sabar dong." kata Aristia. Ia menarik balok tersebut namun sayang setelah tarikan tangan Aristia balok-balok itu runtuh. "Yahh...." teriaknya kesal.


Aswin sudah bersiap menaruh bedak tabur di pipi Aristia. Sedang Rudi sudah lebih dulu menaruh bedak di kedua pipinya.


"Dasar badut!" Kata Rafa yang melihat wajah Aristia.


"Kamu gak mau gantiin aku Rafa." Aristia menoleh pada Rafa yang ada di sampingnya.


Rafa hanya memicingkan matanya mendengar perkataan Aristia.


Sepulang sekolah tadi mereka singgah ke Owl Cafe. Di cafe ini menyediakan beberapa jenis permainan sembari menunggu makanan sebelum di hidangkan. Termasuk permainan balok yang tengah mereka mainkan ini.


Tak berapa lama makanan mereka datang. Aristia memakan Beef Teriyaki yang ia pesan.


"Pelan-pelan Tia. Nanti kamu tersedak." Putri berkata karena melihat Aristia yang makan dengan lahapnya.


"Ini aku kelaperan deh. Soalnya dari tadi kalah melulu." jawab Aristia.


Aswin menaruh susu coklat di samping piring Aristia. Rafa melirik Aswin.


"Itu tadi aku habis beli, dari pada tidak di minum." kata Aswin sambil melihat Rafa.


"Terimakasih...." Aristia mengambil susu coklat itu, lalu menyimpannya di dalam tas.


Putri menengok Aswin di sampingnya.


"Apaan sih?" Aswin tersipu di pandangi Putri.


"Untuk aku mana?" tanya Putri.


"Kan kamu udah di kasih coklat tadi." Kata Aswin


"Jadi untuk aku dan Rafa mana?" kini Rudi bertanya dengan penuh selidik.


"Kalian juga mau?" tanya Aswin, "Aku pikir kalian gak suka menerima pemberian dari sesama laki-laki" elak Aswin.


"Kalo Rafa mungkin menolak! tapi aku kan enggak." Rudi protes.


Melihat itu Aristia mengambil susu yang sudah ada di tasnya. Ia menancapkan sedotan di atas karton susu. Lalu menyerahkannya pada Rudi. Sebelum Rudi sempat mencecap susu tersebut, Rafa menarik tangan Aristia lalu menyedot susu tersebut.


Rafa tersenyum, sementara Rudi mendelikkan matanya. Melihat itu mereka tertawa bersama.

__ADS_1


__ADS_2