Apa Kabar Cinta

Apa Kabar Cinta
Mereka


__ADS_3

Aristia keluar dari toilet sekolah. Ia melangkah menuju kelasnya. Bel pulang sekolah sudah berbunyi.


Ia memasuki kelas, mengambil tas lalu berjalan menuju loker. Ia menaruh beberapa buku disana. Setelah menutup pintu loker, ia bergegas hendak menyusul teman-temannya untuk pulang bersama.


Ketika sudah berada di depan pintu, tiba-tiba langkahnya dihadang oleh tiga orang perempuan.


Aristia melihat ke arah mereka. Ia mengenali orang yang berada tepat di hadapannya, Riska itu lah nama gadis yang ada dihadapannya.


Riska adalah gadis yang mengungkapkan perasaannya pada Rafa didalam kelas beberapa waktu lalu.


Riska mendorong Aristia hingga ia sedikit bergeming dari tempatnya semula berdiri.


Aristia menarik nafas panjang.


Kini tiba juga saatnya ia merasakan hal seperti ini. Biasanya, selama ini beberapa gadis tidak pernah melakukan hal ini.


Mereka semua baik pada Aristia, meski mereka terkadang menitipkan barang pada Aristia untuk diberikan pada Aswin atau Rafa. Tapi kali ini berbeda.


Aristia menatap ketiga gadis yang kini sudah berada tepat mengelilinginya. Mendorong Aristia dengan kuat sampai membentur loker. Mereka semua tertawa, kecuali Riska ia tersenyum melihat keadaan Aristia didepannya.


Aristia membetulkan posisi tubuhnya, ia memperbaiki rambutnya yang tadi sempat acak-acakkan karena terdorong.


Sejurus kemudian Aristia memandang mereka bertiga dengan bergantian, lalu menatap Riska sambil tersenyum. Sungguh ia kesal diperlakukan seperti ini.


"Ada apa kak?" tanya Aristia


Riska menatap Aristia, lalu ia menoleh pada kedua temannya.Ketiganya tertawa.


"Kamu sok kecantikkan ya? kamu tau kan kalo aku habis nembak Rafa." ujar Riska


"Iya, aku tau kak. Tapi ini gak ada hubungannya dengan aku kan." kata Aristia


"Jangan sok polos! Kamu berlagak jadi teman dia tapi diam-diam pergi berdua." ujar salah satu teman Riska.


Ia memperlihatkan sebuah foto. Foto ia bersama Rafa ketika sedang membeli makanan beberapa hari lalu, iya foto ketika ia datang ke festival bersama Rafa.


"Kamu mau ngedeketin Rafa? Jauhin dia! jangan munafik dengan mengatas namakan teman." ujar Riska, ada nada tekanan dari perkataannya.


"Gak bisa kak. Jauh sebelum kakak menyukai Rafa dan menghadirkan Rafa dalam hati kakak, Aku sudah berteman dengan Dia." Aristia berkata dengan senyum, meski sebenarnya ia sedikit takut.


"Cuma karena kamu lebih dahulu kenal, bukan berarti kamu berhak mengklaim Rafa milik kamu kan? Lucu!" ujar Riska tersenyum sinis pada Aristia.


Gadis ini tampak kesal mendengar jawaban Aristia.

__ADS_1


Aristia hanya diam, ia kini tengah berfikir. Sekolah mulai sepi dan teman-temannya ada dibawah. Ia tidak ingin situasi menjadi semakin buruk.


Tanpa Aristia sadari Riska memperhatikan lehernya, ia melihat kalung Pyrite yang dipakai Aristia.


"Kalung itu dari Rafa? Sini buat aku." Riska menatap Aristia.


Tangannya bergerak menyentuh leher Aristia. Melihat itu, dengan cepat menutup lehernya dengan tangan.


Aristia tak lagi bisa bersabar.


"Percuma meski Kak Riska mengambil ini, hati Rafa gak akan bisa ikut terambil loh." Aristia berkata sambil tersenyum


"Kamu berani!"


"Meski kalung ini aku kasih ke kakak. Rafa tetep enggak akan suka. Kok lucu!"


Aristia menatap ketiga gadis itu lagi, tapi kini dengan sebuah senyuman. Senyuman Aristia kini tanpa ekspresi, sorot matanya tajam menciutnya orang yang melihatnya.


Ketiga gadis itu terkejut melihat ekspresi Aristia yang berubah. Aristia mendekati ketiga gadis itu.


Tanpa sadar mereka memundurkan langkah, mereka sedikit menjauh dari Aristia. Melihat itu Aristia tertawa kecil.


Melihat Aristia yang tertawa kecil, mereka sadar bahwa mereka dipermainkan.


Aristia masih dengan senyum tanpa ekspresi yang sama seperti tadi, lalu mendekat pada Riska.


""Kakak mau lihat? Kalung ini namanya Pyrite."


Aristia menyentuh kalung di lehernya lalu memperlihatkan pada ketiga gadis itu.


Kembali ia mendekatkan diri pada ketiga gadis itu. Melihat sikap Aristia, kini mereka benar-benar mundur.


"Sekolah sedang sepi, kalo terjadi sesuatu? menurut kakak perkataan siapa yang akan lebih dipercaya."


Mendengar itu, Riska menjadi marah. Ia mengangkat tangannya.


Sedetik kemudian Aristia terjatuh di lantai. Lalu tersenyum. Ketiga gadis itu bingung dengan perilaku Aristia ini.


"My Tia...." Rudi masuk, ia melihat Aristia tersimpuh di lantai. Lalu Rudi melihat dan menatap ketiga gadis itu.


"Bukan aku! Dia jatuh sendiri." Riska berkata dengan suara yang sedikit terkejut.


"Iya, bahkan dia yang mengancam kami dan tersenyum dengan menakutkan." ujar salah satu teman Riska

__ADS_1


"Kalian pikir aku bodoh. Apa aku bisa dengan mudah percaya omongan kalian. Sudah jelas kalian bertiga merisak Aristia." Rudi berkata dengan sedikit nada yang tinggi.


"Aku enggak apa-apa...."


Aristia berkata pada Rudi dengan suara yang pelan. Rudi membantu Aristia berdiri, lalu memapah tangannya keluar.


"Kalian meski pun senior. Gak baik melakukan ini. Akan aku ingat kejadian hari ini." ujar Rudi, lalu berkata "Ayo my Tia, kita pergi."


Mereka menatap kepergian Aristia dengan Rudi. Sebelum mereka terlalu jauh Aristia menengok ke belakang. Lalu tersenyum mengejek. Wajah ketiganya terlihat sangat kesal.


"Kenapa My Tia? Kok malah menengok ke belakang"


"Enggak apa-apa. Kenapa kamu bisa nyusul aku ke kelas?"


" Karena kamu lama, jadi aku susul ke kelas." kata Rudi, "Akting my Tia keren." lanjut Rudi lagi sambil tersenyum.


"Ha....ha....ha...." terdengar Aristia tertawa, "Kamu lihat adegan yang mana?" tanya Aristia


"Sebelum My Tia jatuh! itu beneran terlihat alami. Gak terlihat dibuat-buat" ujar Rudi, ia mengingat kejadian di dalam kelas tadi sambil tersenyum.


"Kamu masih sempet menyalahkan mereka. Tadi memang aku terjatuh. Kaki aku refleks langsung lemes, begitu mata aku ngeliat kamu. Mungkin tubuh ini sigap merespon, kalo aku akan dapat pertolongan. Sekarang sudah gak apa-apa, ya kira-kira seperti itu." Aristia menjelaskan pada Rudi.


"Emang bisa begitu?"


Rudi tertawa.


"Buktinya bisa tuh." jawab Aristia membalas sambil tertawa.


"Aneh!"


"Loh yang lain mana?" Aristia bertanya, karena begitu mereka sampai di bawah tak di temukannya teman-temannya yang lain.


"Mereka menunggu di minimarket di persimpangan jalan. Ada yang perlu di beli, jadi aku menyusul my Tia ke kelas.


"Oh. Aku langaung ke rumah Putri. Aku sudah janjian mau ke sana."


"Putri kan belum sampe rumah."


"Gak apa-apa kita ke sana aja. Aku udah bilang ama Putri." Aristia menunjukkan layar HP-nya pada Rudi.


"Oke. Ayo kita berangkat!" Rudi berkata dengan semangat.


Lalu mereka pergi meninggalkan sekolah bersama. Tampak mereka jalan beriringan.

__ADS_1


__ADS_2