
Lintang membanting ponselnya di ranjang. Sedari tadi ia menghubungi Samudra namun tak jua mendapat balasan.
Pesan yang sudah terkirim sedari sore, atau pun panggilan yang baru saja di lakukannya. Tak satu pun mendapat respon.
Kali ini ia benar khawatir. Biasanya Samudra tak seperti ini. Lintang menarik nafas dalam-dalam.
Baru saja ia bahagia. Sekarang ia bahkan jauh lebih gugup dari sebelumnya.
Ia benar-benar khawatir jika Samudra jatuh cinta pada Aristia, adiknya sendiri. Tak bisa ia membayangkan jika keduanya bersama.
Membayangkan itu amarahnya memuncak maksimal. Dipejamkan matanya, lalu ia tidur di atas ranjang.
"Kamu menyukai Aristia?" Tanyanya kemarin.
"Entahlah...." Samudra berkata dengan pelan, "Mungkin rasa ku masih sama. Dia adik yang ku sayang. Kamu tau kan aku tidak punya adik."
Jawaban Samudra membuatnya tidak lega sedikit pun. Biasanya ia akan menjawab tidak.
Liburan akhir Semester lalu, ketika mereka bertiga berlibur bersama. Samudra bercerita bahwa ia mendapat pengakuan cinta Aristia.
Aristia tahu adiknya menyukai Samudra. Tapi ia tak menyangka Aristia akan mengungkapkan perasaannya.
Rasa kesal Lintang menyelimutinya, tapi ia bisa menahannya karena jelas semester lalu Samudra benar-benar menyayangi Aristia sebagai adik kecilnya.
Bahkan Samudra tidak terlalu memperhatikan Aristia setelah itu. Lintang merasa bahagia, itu artinya ia bisa mendekat pada Samudra tanpa khawatir pada Aristia.
Sejak mereka kecil Aristia selalu menyita perhatian Samudra. Samudra membagi perhatiannya, berbeda jika Aristia tidak ada.
Pernah suatu hari ketika, ayah dan ibu mereka sedang pergi.
Aristia dan Lintang ikut keluarga Samudra berlibur. Mereka bertiga berlari-larian.
Aristia terjatuh, lalu Samudra menggendong Aristia masuk ke dalam rumah. Samudra mengelap lutut Aristia yang mengeluarkan darah dengan tisu, dan memasang hansaplas pada lututnya yang terluka.
Ketika itu Lintang hanya bisa memperhatikan mereka.
[Aku juga ingin digendong seperti itu.]
Bisik hati Lintang. Lintang membuyarkan lamunannya yang sudah terbang jauh.
*****
Aristia tampak senang menaiki kora-kora. Sedari pintu masuk pasar malam ada dua permainan yang menarik perhatiannya yaitu kora-kora dan bianglala.
"Sudah lama aku pengen naik kora-kora ini kak." Ucap Aristia yang di iringi suara histeria yang terdengar dari pengunjungi yang menaiki wahana ini.
__ADS_1
"Kenapa kamu suka permainan ini, pada umumnya wanita tidak terlalu suka permainan yang memacu adrenalin seperti ini." Kata Samudra.
Ahh, baru kali ini ia melihat sisi Aristia yang lembut namun penuh percaya diri.
Samudra memandang senyum Aristia. Manis banget! Apa memang seperti ini ya? atau ia hanya baru saja menyadarinya. Baginya dulu Aristia hanya gadis kecil yang suka bermanja-manja.
"Aku suka warna lampu yang beraneka ragam. Membuat semakin menarik untuk di naiki." Kata Aristia, kemudian ia tersenyum lalu melanjutkan lagi kalimatnya, "Selain itu kita bisa berteriak dengan keras sehingga beban terlepas. Kita gak perlu bersabar untuk tidak membenci hal yang sebenarnya tidak kita sukai. Bukankah dengan jeritan segala kegundahan akan sedikit menghilang."
Samudra tertawa mendengar jawaban Aristia. Sedikit sesal di hatinya.
Seandainya dahulu ia bisa sedikit mengerti, dan menjelaskan dengan benar. Pasti waktu ini tidak akan berubah menjadi waktu yang terbuang sia-sia.
"Ahh... Waktu satu putaran untuk menikmati permainan ini sungguh terasa sebentar." Kata-kata Aristia membuyarkan lamunan Samudra.
"Kamu ingin satu putaran lagi?" Tanya Samudra kemudian
"Tidak perlu kak. Ayo kita turun melihat-lihat stand setelah itu menaiki bianglala." Ajak Aristia.
Setelah kora-kora benar-benar berhenti, mereka turun. Aristia menarik tangan Samudra menuju stand makanan.
"Aku mau permen kapas ini kak." Aristia mengerlingkan matanya, "Ya... ya..." kata Aristia bernada imut, seolah sedang merayu Samudra.
Melihat itu Samudra hanya tertawa dan membayar apa yang di ambil Aristia.
"Ayo kita duduk dulu sebentar," Samudra mendudukkan Aristia di bangku yang ada di situ.
"Iya, aku memang sudah tua." kata Samudra. Di lihatnya Aristia memakan permen kapas itu dengan cepat.
"Nah sekarang sudah habis. ayo kak!" ajak Aristia sambil bangkit.
"Kamu ternyata memang penuh energi ya Aristia."
Aristia hanya tertawa.
Keduanya berkeliling di pasar malam. Mengunjungi stand demi stand untuk sekedar melihat. Akhirnya sampai juga mereka ke wahana bianglala. Aristia dan Samudra naik, setelah membeli karcis.
"Ayo Kak cepet..." Aristia menarik tangan Samudra. Samudra duduk di samping Aristia.
Tidak berapa lama bianglala itu pun berputar dengan perlahan. Malam hari pemandangan memang begitu indah, lampu-lampu yang menyala bisa terlihat dari atas.
[Bianglala yang berputar dengan pelan ini memang cocok di naiki setelah menaiki wahana yang memacu adrenalin. Menenangkan, bisa melihat pemandangan seperti in. Aku benar-benar bersyukur.].Kata Samudra dalam hati.
"Kenapa kamu begitu suka naik bianglala ini. Apakah karena mirip dengan kehidupan?" Kata Samudra memandang Aristia yang sedari tadi tersenyum.
"Tidak sepenuhnya seperti itu. Aku menyukai bianglala karena ia berwarna-warni. Bianglala tak pernah bergerak cepat atau lambat. Kecepatannya stabil. Jadi kita bisa menikmatinya tanpa terburu-buru." Kata Aristia
__ADS_1
"Lagi-lagi kamu berpikir dengan sederhana." Kata Samudra, kini ia menikmati senyum Aristia.
"Apa Kak?"
"Bukan apa-apa. Kamu seperti anak kecil." Samudra memelan suaranya, ia tersadar dengan ucapannya.
Aristia hanya tertawa, melihat tingkah Samudra.
Tiba-tiba Samudra merasa getaran dari sakunya. Di lihatnya panggilan dari Lintang. Tak di jawabnya. Setelah itu ia membuka pesan, ia membaca beberapa pesan yang terkirim. Lalu membalasnya.
[Aku sedang berada di luar.]
Ketiknya pada pada pesan, lalu mengirimkan balasan. Terkirim.
Mendengar suara pesan di ponselnya. Lintang langsung mengambil ponsel yang tadi tergeletak, lalu tersenyum ketika mengetahui pesan itu dari Samudra.
[Aku sudah di rumah. Apa kamu sudah pulang.] Balas Lintang
Tak ada lagi balasan. Lintang kembali menaruh ponselnya, sebenarnya ia kesal namun ada balasan itu sudah cukup baginya.
Suara ponsel Lintang kembali berbunyi. Ia membaca pesan yang masuk.
[Iya, aku baru saja sampai rumah]
Rupanya tadi Lintang terlelap. Lintang melirik jam di kamarnya.
Pukul sepuluh malam. Apa ia ada tugas di kampus? Atau tadi ia sedang bersama teman-temannya? Itu tidak mungkin.
Tadi ia tanpa sengaja bertemu dengan teman-temannya sedang berkumpul di cafe dekat kampus, tempat biasa Samudra dan teman-temannya berkumpul atau mengerjakan tugas. Tapi tak di temuinya Samudra bersama mereka.
[Kamu sibuk apa seharian ini?]
Kembali tak ada balasan. Lintang menelpon Samudra tapi tidak di angkat. Hanya terdengar suara pesan otomatis yang mengatakan nomor sedang sibuk.
Aristia melihat ponselnya yang berdering. Ia melihat nama Samudra di layar.
"Hallo Kak.... Ada apa?" Tanya Aristia menjawab telfon Samudra.
"Kamu lelah? Kenapa belum tidur." Tanya Samudra.
"Ini aku baru mau tidur. Kakak juga tidur ya, selamat tidur kak Samudra" kata Aristia
"Selamat tidur Aristia." Ucap Samudra.
Samudra menutup sambungan telfonnya. Ia tersenyum, entah kenapa rasanya beberapa hari ini ia selalu bahagia jika mengingat Aristia.
__ADS_1
"Tentu saja ia bahagia. Bukan berarti ini ada rasa sebagai seorang pria. Ini rasa bahagia seorang kakak yang sudah berbaikkan dengan adiknya. Iya, benar pasti begitu." Samudra menutup matanya lalu ia tertidur.