
Sabtu sore yang cerah. Aristia keluar dari ruang sanggar tari, di koridor tampak Putri sedang menunggu. Mereka melangkah menuju gerbang sekolah bersama.
"Rudi mana?" tanya Aristia
"Pergi ke lapangan basket. Mau menemani Aswin dan Rafa, mereka bertiga ada janji sendiri."
"Ayo kita pergi."
Mereka berjalan melewati jajaran toko makanan. Suara deru kendaraan juga menemani langkah kaki mereka. Dua gadis belia itu tampak sesekali tertawa. Lalu mereka masuk salah satu toko ice cream.
"Akhirnya kita bisa menikmati ice cream ini juga." Putri berkata sambil duduk di dekat kaca dan menaruh ice cream yang tadi sudah mereka pesan.
"Ice cream ini lagi kekinian. Duh cantiknya untuk di foto."
Aristia hanya tersenyum ia duduk di depan Putri. Ia memandang keluar kaca, tampak orang-orang mulai ramai berlalu lalang.
"My Tia" Putri memanggil. Ketika ia menengok Putri memberi aba-aba untuk mengambil gambar. Aristia tersenyum sambil memegang ice cream.
"Bagus. Akan aku apload di instagram ya." Kata Putri setelah selesai mengambil gambar.
"Sudah di apload?" Aristia mengambil gawainya dari dalam tas.
Ia mengklik pemberitahuan di instagramnya. Sebuah foto terlihat tampak dirinya dan Putri dengan caption. Sahabatnya itu selalu memberi caption pada tiap gambar yang ia apload.
[Bersama teman terbaik, akan selalu memiliki waktu yang baik. Sudah berapa ribu hari yang telah kita lewati ya? Berapa ribu pun kamu adalah yang terbaik.]
Aristia tersenyum membacanya. Ia memperhatikan sahabatnya itu.
"Kamu benar-benar populer. Belum sampai lima belas menit sudah hampir seribu like." Aristia menunjukkan foto yang tadi di apload Putri.
"Itu belum seberapa." balas Putri ia tampak membanggakan dirinya.
Baginya itu memang sudah hal biasa. Aristia tertawa melihat ekspresi sahabatnya itu.
Aristia dan Putri bersiap untuk pergi setelah mereka menghabiskan makanan mereka. Baru saja Aristia berdiri dan melangkah dari tampat duduk mereka, tanpa sengaja ia menabrak seorang wanita.
"Maaf...." kata Aristia
"Makanya kalo jalan itu pelan-pelan dong." kata perempuan yang memakai bando putih.
"Gak punya mata ya!" kata salah satu temannya yang lain.
"Tadi kan teman saya sudah minta maaf." balas Putri
"Iya, saya minta maaf ya." Kata Aristia ia hendak pergi. "Ayok Put." ajak Aristia
Tak terima Aristia yang pergi mereka menyusul Aristia dan Putri yang sudah keluar dari toko.
"Hei, kalo minta maaf yang tulus dong." Kata perempuan yang berbando putih.
"Jangan marah-marah deh. Tadi teman saya sudah minta maaf kan." Putri kesal.
__ADS_1
Aristia ingin segera pergi dari situasi ini. Sungguh ia tidak suka adegan dengan pertengkaran.
"Hei, kalian jangan mengganggu teman ku." suara pria terdengar dari belakang mereka.
Tampak Sandro sudah ada di depan Putri dan Aristia.
Melihat Sandro, sekelompok anak perempuan itu langsung pergi.
"Ayo kita pergi Tia." Putri langsung mengajak Aristia pergi begitu melihat Sandro.
"Tapi kan...." Putri langsung menarik tangan Aristia untuk meninggalkan Sandro. "Ingat jangan deket-deket ama dia."
Aristia menengok ke belakang di lihatnya Sandro menatap kepergian mereka.
"Harusnya kan tadi kita bilang terima kasih." Kata Aristia pada Putri
"Jangan deh! pokoknya kamu gak boleh deket-deket sama Sandro. Dia kan mesum!" kata Putri
Mendengar itu Aristia tak bisa membantah. Benar siapa yang tidak kesal jika di ikuti oleh lelaki sampai ke toilet. Aristia menarik nafas dalam dengan perlahan.
*****
[Masih apa?]
Aristia mengambil ponselnya yang ada di nakas. Lalu ia membuka pesan pada ponselnya yang tadi berbunyi.
"Masih ngerjain PR kak. Kak Samudra masih apa?"
"Ciyeee, sekalian malam mingguan ya. Kalian pacaran?"
Balas Aristia. Tak dapat di tahannya lagi rasa penasaran yang ada dalam hatinya. Dengan perasaan berdebar Aristia menunggu balasan dari pesan Samudra.
Setelah menunggu selama dua puluh menit tak ada balasan dari Samudra. Berulang kali Aristia memeriksa namun tak ada balasan apa pun.
"Kenapa kak Samudra gak balas ya. Apa itu pertanyaan yang susah di jawab. Atau ia takut aku sakit hati lagi." Aristia berkata lalu melirik pada boneka Cinderella di depannya.
Aristia membaringkan tubuhnya di kasur. Selesai sudah ia mengerjakan tugas sekolahnya, tapi Samudra belum membalas pesannya yang sedari sudah terkirim.
Aristia membuka lagi pesan yang tadi terkirim. Sulit memang melihat apa pesannya sudah terbaca atau belum. Samudra mematikan pemberitahuan di whatsapp, sehingga gadis ini tidak bisa melihat apa pun di kontak pria ini.
Aristia membuka story pun, hampir tidak pernah ia melihat story dari Samudra. Aristia menaruh ponsel di samping ia tidur. Baru ia meletakkan ponselnya, tiba-tiba nada pesan terdengar. Segara Aristia membukanya.
[Hei, sudah tidur?]
Aristia hanya berdecak membaca balasan pesan dari Samudra. Malas ia membalas pesan tersebut, sebab pertanyaannya tak di jawab.
Di taruhnya kembali ponsel yang tadi ia pegang. Setelah lima menit menunggu hatinya tak kuasa untuk membalas pesan Samudra.
"belum."
[buka jendela kamar mu.]
__ADS_1
Belum sempat Aristia membalas sebuah ketukan halus di jendelanya terdengar. Aristia beranjak dari kasurnya, lalu membuka jendela kamarnya.
"Kakak.... Ngapain malam-malam begini." Aristia berkata setelah melihat Samudra di depannya. "Kayak maling deh." ucapnya lagi.
"Ini untuk kamu...." Samudra menyodorkan sebuah kotak kecil.
Aristia mengambil kotak tersebut lalu di bukanya, terlihat sebuah cup cake coklat dengan Strawberry di atasnya.
"Terimakasih," seru Aristia sambil tersenyum. "Kenapa gak lewat pintu depan aja." Aristia berkata dengan heran.
Mendengar itu Samudra tertawa kecil. "Sudah malam, gak enak membangunkan orang rumah. Lintang pun tampaknya sudah lelah." jawab Samudra dengan senyum. Kemudian keduanya terdiam.
"Kak Lintang beli makanan untuk apa?" tanya Aristia ia menggigit cup cake.
"Untuk acara di fakultasnya." balas Samudra singkat. Ia memandang Aristia, "Coba sini deh." Samudra memberi isarat agar Aristia mendekat.
"Apa?" Aristia mendekatkan kepalanya di jendela.
Samudra melangkahkan kakinya mendekat menuju jendela. Kini mereka berhadapan. Lama Samudra memandang gadis yang ada di depannya.
Aristia bingung melihat tatapan Samudra. Samudra mendekatkan lagi langkah kakinya ke arah Aristia. Kemudian ia menyentuh pipi Aristia, seolah mengusap sesuatu.
"Kamu makan cup cake sampai pipi juga ya." Kata Samudra.
Mendengar itu Aristia tersipu malu mukanya mendadak merah. Belum sempat membalas perkataan Samudra, laki-laki itu sudah pergi.
Namun sejurus kemudian Samudra membalik badannya, sambil berucap.
"Aku dan Lintang tidak pacaran. Kami berteman!" setelah mengatakan itu Samudra pergi menuju rumahnya.
Dalam perjalanan pulangnya Samudra tersenyum, tadi setelah melihat ekspresi Aristia yang tersipu ingin ia menjahili tapi di urungkan niatnya.
Aristia menutup jendela kamarnya sambil tersenyum pula. Mendadak kebahagian menyapa hatinya. Ia membaringkan kembali tubuhnya di kasur. Hatinya berbunga-bunga.
"Astaga Tia, kamu kan seharusnya gak perlu sesenang ini." Di tariknya nafas dengan dalam.
Ia ingat perkataan Aswin beberapa waktu lalu. Meski tidak berpacaran dengan Kak Lintang, bukan berarti ia akan berpacaran dengan kamu kan.
"Terserah deh!!"
Aristia memejamkan matanya, rasa kantuk mulai menerpa namun tiba-tiba ia secepat kilat bangun.
"Kamu belum sikat gigi Tia!" Aristia melangkah ke kamar mandi dengan malas. Setelah selesai kembali ia menuju kamarnya.
Tampak ponselnya menyala, ia memeriksa sebuah pesan masuk. Ia membuka pesan itu.
[Selamat tidur.]
[selamat tidur juga kak.]
Aristia menaruh ponselnya. Ia memejamkan matanya. Lalu tertidur dengan pulas.
__ADS_1