Apa Kabar Cinta

Apa Kabar Cinta
Rasa


__ADS_3

Sore mulai merambat, matahari mulai bersinar dengan lembut. Sebentar lagi Kak Samudra akan datang. Berdebar-debar Aristia menantinya.


Pukul 16.30, kenapa Kak Samudra belum datang juga? Aristia mulai gelisah.


Sebentar-bentar ia melihat jam di tangannya, berdiri sebentar lalu duduk dengan resah di kursi teras rumahnya.


Berkali-kali ia melakukan itu. Aristia menarik nafas, mencoba menenangkan debar di dadanya. Ah kenapa aku gerogi seperti ini? Aristia masuk ke dalam rumah ia mengambil bolu gulung yang tadi telah ia siapkan.


Pada saat bersamaan, sebuah panggilan masuk ke ponselnya.


"Tia, ayo kita pergi ke bioskop. Kami akan menyusul mu ya?" Suara Putri terdengar.


"Duh, aku gak bisa Put. Aku sudah ada janji nih. Sory ya...." ucapnya.


"My Tia! Kamu kenapa membuang kami." Suara Rudi terdengar


"Hei, hei siapa yang membuang. Kalian yang mendadak membuat janji." Balas Aristia


"Dia tidak setia kawan!" Rafa menimpali


Aristia terdiam, syok mendengar perkataan Rafa. Padahal baginya Rafa sudah sering berkata seenaknya begitu.


"Ya sudah. Selamat berakhir pekan ya Aristia. Mereka ini memang biang rusuh. Aku tutup dulu ya telfonnya." Kini suara Aswin yang terdengar.


Aswin memang selalu perhatian dan pengertian seperti ini. Beruntung ia memiliki Aswin pikirnya.


Di dalam rumah Aristia terlonjak kaget mendengar bel berbunyi. Itu pasti Kak Samudra pikirnya gembira. Bergegas Aristia menuju pintu. Degup jantungnya kembali kencang setelah tadi mereda.


Ketika membuka pintu, Aristia terkejut melihat siapa yang datang.


"Kak Lintang?" Serunya kecewa


Lintang terpana melihat dandanan adiknya yang terlihat tidak seperti biasanya. Kaus dan celana, menampakkan kealamian kecantikan Aristia.


"Segar sekali kamu sore ini Tia."


"Aku baru selesai mandi kak." Aristia memberi alasan, ia melihat Samudra di belakang Lintang.


"Kamu mau pergi sama Aristia ya Sam?"


"Gak kok kak, aku cuma mau duduk di teras aja sambil makan bolu ini." Balas Aristia sebelum Samudra sempat menjawab.


"Aku masuk dulu ya mau ganti baju dulu. Sam tunggu aja di teras ada Aristia."


Samudra duduk mengikuti Aristia. Aristia diam, ia mengunyah bolu yang tadi akan di sajikan untuk Samudra.


"Tia, kenapa kamu bilang gak jadi pergi."


"Gak apa-apa kak aku cuma mau di rumah aja." Jawab Aristia ketus.

__ADS_1


"Bukannya kamu mau pergi menemani aku membeli kado?"


Aristia hanya diam, tiba-tiba saja begitu melihat Lintang dan Samudra bersama rasa cemburu merayapinya.


"Kamu beneran gak mau nemenin aku? Ayo kita pergi." Rayu Samudra


"Jadi kamu tadi memang mau pergi dengan Tia" suara Lintang tiba-tiba terdengar.


"Iya," jawab Samudra singkat


"Kalo Aristia gak mau biar aku aja yang nemenin kamu Sam." Lintang menimpali


Mendengar itu Aristia menjadi kesal, tiba-tiba saja rasa tidak suka pada kakaknya timbul.


"Tuh, Kak Lintang mau pergi dengan Kakak. Pergi aja berdua, aku mau di rumah aja." Kata Aristia lagi


"Kamu yakin?" Samudra merasa canggung


"Iya,"


"Tuh Aristia memang gak mau."


"Kita bisa pergi bertiga kok Tia." Ajak Samudra lagi


Bertiga! Wah.... Kak Samudra benar-benar gak peka. Batin Aristia.


Mendengar itu Samudra diam, lalu berkata "Kami pergi dulu ya Aristia."


Samudra dan Lintang pergi. Aristia memandangi kepergian mereka. Ia menarik nafas dalam-dalam mengatur kembali emosinya yang tadi sempat menyeruak.


Matanya sedikit berembun melihat kepergian Samudra dan Lintang.


Ingin rasanya ia mengejar namun ia tahan. Ia menarik lalu menghembuskan nafasnya berulang kali.


*****


Aristia berjalan mengeliling pinggiran Mall, ia melihat toko-toko pakaian yang berjajar. Ada juga toko makanan di sana.


Tadi setelah kepergian Lintang dan Samudra ia memutuskan untuk pergi jalan-jalan sendiri. Ia ingin mengubah mood yang sempat kacau balau, percuma tadi hatinya sempat berdebar karena menunggu kedatangan Samudra.


Setelah puas berkeliling, Aristia mencium wangi roti. Ia mengedarkan pandangannya mencari sumber aroma yang menarik perhatian hidungnya, setelah menemukan sumber aroma ia meliihat sebuah toko roti yang berada di sudut. Toko Raju Bakery tulisannya.


Langkah kaki Aristia cepat, perutnya sudah menagih untuk di isi. Ia mencari-cari tempat, beruntung toko ini masih sepi jadi masih banyak kursi yang belum terisi.


Aristia memilih tempat duduk di sudut yang dekat dengan sebuah tanaman yang bunganya berwarna orange.


-Ckrek crek ckrek-


Suara Aristia mengambil gambar berbunyi, ia ingin mengirim gambar makanan tersebut pada teman-temannya.

__ADS_1


Sedang Asik mengambil gambar, tiba-tiba seseorang duduk di kursi depannya. Aristia menengok.


"Tuh kan benar Sam ini Tia. Kita duduk di sini aja yuk"


Kak Lintang! Duh kenapa mesti ada mereka sih.


"Aku pesan makanan dulu ya. Kamu duduk aja di sini."


"Kamu belum minta izin untuk duduk di sini."


"Tia kami duduk di sini ya."


"Terserah." Jawab Aristia. Ia menolak pun Kak Lintang akan tetap berusaha merayunya.


"Kamu bilang gak mau pergi?" Samudra membuka percakapan karena Aristia tak bersuara sedikit pun, gadis itu hanya fokus memakan makanannya.


"Iya, tadi tiba-tiba pengen pergi aja."


Lintang datang menghampiri. Ia menaruh makanan di meja.


"Makanan aku udah habis, aku pergi duluan ya." Aristia melangkah pergi


Samudra memejamkan matanya sejenak. Lalu ia mengejar Aristia.


"Kamu kenapa?" Tanya Samudra setelah berhasil memegang tangan Aristia.


"Aku gak kenapa-kenapa kak!"


"Tapi kamu aneh. Gimana aku bisa tahu kalo kamu gak menjelaskan apa pun Tia."


"Gak perlu ada yang di jelasin kak. Kita kan gak ada hubungan apa-apa. Kakak yang kenapa sih? Aneh."


Samudra melepaskan tangan Aristia yang ia pegang. Aristia meninggalkan Samudra tanpa menoleh sedikit pun. Lelaki itu hanya memandangi punggung Aristia yang kian menjauh.


"Sam, ayo kita pulang saja sepertinya kamu sudah tidak ingin makan di sini kan."


"Maaf, ayo kita makan dulu di sini. Setelah itu ayo kita lanjutkan menonton film."


"Gak usah, aku sudah membungkusnya. Ayo kita pulang."


"Kamu memang baik dan peka. Beruntung sekali nanti suami mu." Goda Samudra.


"Aku masih kuliah malah udah berbicara suami!" Lintang memukul Samudra. Ada getir di sudut hati Lintang mendengar perkataan Samudra.


"Ayo kita pulang. Maaf ya Lin, entah kenapa suasana hati ku berubah." suara Samudra terdengar lemah.


Lintang mengikuti Samudra menuju parkiran. Ia masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam dengan pikiran mereka masing-masing.


Aku ingin kamu yang mendampingi ku. Selama kamu belum menikah, aku masih boleh kan untuk berjuang. Cinta itu memang harus memiliki kan? Jika Cinta itu tidak harus memiliki harusnya hati ku tidak akan sesakit ini.

__ADS_1


__ADS_2