Apa Kabar Cinta

Apa Kabar Cinta
Suara hati


__ADS_3

Sore ini aku bingung dengan perubahan sikap Aristia. Kami memiliki janji untuk pergi bersama. Rencananya aku akan mengajak ia menemani ku untuk mencari hadiah.


Mencari hadiah? Sebenarnya itu salah satu alasan yang ku pakai agar bisa pergi dengannya.


Sudah beberapa hari ini, melihatnya dengan diam-diam adalah kesukaan ku. Hanya sekedar melintas di depan rumahnya bisa membuat hati berdebar.


Begitu sampai depan pintu rumahnya, aku melihat ia sedang membuka pintu. Ia tampak begitu cantik.


Aku tersenyum dan hendak hendak menyapanya, namun ia mendadak membatalkan janji kami tanpa sebab yang jelas. Sungguh, aku sudah berusaha merayunya. Janji yang ia buat akhirnya di gantikan Lintang kakaknya.


Rasa bahagia yang meluap, menguap sudah. Aku sudah menyiapkan rencana setelah kami mencari hadiah.


Menonton film bersama, aku bahkan telah mempersiapkan tempat yang sangat ingin ia kunjungi. Memilih beberapa makanan yang akan ia makan.


Lalu tanpa sengaja aku melihat ia sedang berada di toko roti padahal tadi ia enggan aku ajak pergi. Berbagai pertanyaan muncul di benak ku.


Ahh.... Aku sedikit kesal padanya. Dengan mudahnya ia mengingkari janji dan pergi bersenang-senang sendiri. Tapi melihat senyumnya yang sedang asik mengambil gambar, membuat hati ku mencair. Aku apa memang seaneh ini?


Tapi lagi-lagi ia bersikap ketus pada ku. Tanpa alasan yang jelas ia menghindar. Aku ingin mendengar penjelasannya meski tanpa ada kata maaf yang terucap dari bibirnya.


Aku tidak ingin hubungan kami menjadi seperti tahun yang lalu.


Aku melepaskan tangannya, ketika ia berkata bahwa tidak ada yang spesial di antara kami.


Dia benar. Aku bahkan tidak bisa menjelaskan aksara dari hati ku. Bagaimana mungkin hubungan kami spesial. Entahlah aku tidak dapat berkata apa-apa lagi. Ia memang gadis yang aneh.


*****


Aku pertama kali melihatnya ketika ia baru pindah rumah. Ia sedang mengangkat barang pada waktu itu. Ia adalah tetangga baru kami.


Rumahnya tepat di samping rumah. Aku langsung suka padanya pada pandangan bersama. Aku sering mengintipnya diam-diam, tak berani untuk berkenalan secara langsung padanya.

__ADS_1


Tanpa di sangka ia satu sekolah dan sekelas dengan ku. Waktu itu tahun ajaran baru kelas dua sekolah dasar.


Seiring berjalannya waktu kami tumbuh bersama. Selalu berada di sekolah yang sama, meski tidak selalu sekelas. Suka yang dulu ku pikir hanya suka-suka biasa nyatanya bertumbuh sampai aku dewasa.


Aku menunggunya untuk mengungkapkan perasaanya pada ku ketika kami lulus SMA (Sekolah Menengah Atas). Namun hal itu tak terjadi.


Aku menyukainya tanpa mengatakan apa-apa adalah cara terbaik yang bisa ku lakukan. Dengan sabar aku menantinya. Berharap ia menyadarinya. Bukankah teman-teman sekolah pernah menggoda bahwa kami terlihat seperti pasangan kekasih.


Tapi bagai petir di cuaca yang cerah. Setelah liburan semester pertama ia mengatakan memiliki kekasih. Aku menangis semalaman, sabar yang ku tanam telah di tuai sebelum waktunya. Aku tak mengerti mengapa ia tak menoleh ke arah ku, padahal aku yang lebih dulu mengenalnya.


Apa yang paling melelahkan mengejarnya atau hati ku yang selalu berharap padanya? Aku sadar itu sia-sia, tak apa aku bisa mundur pelan-pelan sekarang begitu pikir ku.


Pelan-pelan susah memang, sakit juga pasti terasa. Memang membutuhkan hati kuat yang hebat untuk menerima rasa sakit. Perlu energi yang banyak meski itu hanya untuk pura-pura.


Genap setahun aku mundur, lalu ku dengar hubungannya telah berakhir. Hati ku memang lemah, kembali rasa ini tumbuh.


Hari ini Samudra dan Aristia membuat janji bersama. Aku terkejut. Samudra tidak pernah mengajak Aristia pergi tanpa aku. Biasanya kami pergi bertiga.


Tapi, ada yang aneh dari ekspresi wajah adik ku itu. Ia tampak kesal melihat ku. Aku tahu ia cemburu.


Tatapan matanya sama dengan ku ketika cemburu melihat Samudra dengan kekasihnya dulu.


Aku memanfaatkan kecemburuannya. Tidak, ini bukan tindakan yang jahat? Samudra bukanlah kekasih adik ku. Ini merupakan usaha ku kan. Aku tak ingin lagi seperti dulu.


Aku akan berjuang sekuat yang aku bisa. Menyerah untuk yang kedua kalinya bukanlah pilihan yang tepat.


Semua berjalan sesuai perkiraan. Aku yang pergi dengan Samudra. Aku senang. Tapi Samudra selalu memandangi ponselnya.


Samudra tidak menyadari perasaan sukanya pada Aristia ia masih berfikir itu rasa yang sama seperti dulu.


Tapi aku menyadarinya meski belum sepenuhnya ia menyukai Aristia. Aku menjadi yakin kini Samudra mulai menyukai Aristia.

__ADS_1


Ia mengejar Aristia sambil memegang tangannya. Rasanya aku ingin marah tapi ku tahan. Aku menghela nafas sebelum mendekat kearahnya.


Di waktu seperti ini aku harus menjadi wanita yang pengertian kan? Merengkuh hatinya agar ia tetap selalu berada di sisi ku.


Aku masih sedikit gugup dengan keadaan ini, tapi di sudut hati ku yang lain aku merasa senang Aristia memiliki sifat yang pencemburu.


*****


Aku kesal dengan Kak Samudra, aku telah menunggunya sedari sejam yang lalu. Tapi begitu datang ia malah berdua dengan Kak Lintang.


Ia benar-benar tak peka, bukan bukan tak peka atau telat menyadari, lebih tepatnya ia tak pernah memikirkan aku.


Bahkan ketika aku berkata tidak mau pergi, ia malah pergi bersama Kak Lintang tanpa sedikit pun memikirkan hati ku.


Aku memegang ponsel ku bersiap menghubungi Putri dan anak-anak lain yang tengah menghabiskan waktu bersama.


Ku urungkan niat ku, dan memutuskan pergi seorang diri. Aku tak ingin membuat rusak suasana karena mood ku yang sedang jelek.


Aku mengeliling bagian bawah Mall. Tak ada niat untuk masuk ke dalam. Aku menghentikan langkah di sebuah toko roti untuk mengisi perut ku yang mulai lapar.


Ketika sedang asik, tiba-tiba dua orang menyebalkan datang. Aku secepat mungkin menghabiskan makanan ku, dan ingin segera pergi dari pemandangan yang menyebalkan ini.


Kak Samudra hanya menahan ku sebatas itu. Aku pergi, ia tak mengejar ku. Ku lihat dari jauh ia malah mengobrol dengan asiknya bersama Kak Lintang.


Ingin rasanya aku marah-marah dengan Kak Lintang kenapa ia selalu mengganggu ku ketika sedang bersama Kak Samudra. Mengingat ia adalah kakak ku, tidak sampai hati aku memakinya.


Tapi sikap Kak Lintang belakangan ini sangat menyebalkan.


Benar-benar menyebalkan! sudah tidak lagi dalam batas kesabaran ku. Bahkan tadi aku dengan sangat jelas menunjukkan ekspresi tidak suka ku, tapi ia malah tak menyadarinya.


Dengan polosnya ia menerima perkataan ku dan malah pergi dengan Kak Samudra.

__ADS_1


__ADS_2