
Hari ini Aristia duduk di taman, ia duduk sendiri sambil memainkan sepatunya. Ia mengitari sekeliling taman dengan matanya, sambil sesekali melihat jam yang melingkar di tangannya.
Tak berapa lama seseorang yang ia kenal muncul, ia melambaikan tangannya.
"Rafa...." panggilnya.
Seraya berdiri menghampiri. Ia menengok kanan kiri namun hanya Rafa yang di lihatnya.
"Kamu nyari apa?" tanya Rafa sambil ikut menengok kanan dan kiri.
"Yang lain mana? kok gak kelihatan...." tanya Aristia
"Gak ada." jawab Rafa singkat
"Loh mereka gak jadi dateng? kenapa?" Aristia kembali bertanya sambil memandang Rafa yang ada didepannya.
"Memang sedari awal cuma kita berdua." jawab Rafa
Aristia melihat Rafa dengan serius, ia mencoba menerka ekspresi Rafa.
"Aku kan tadi juga ngajak pergi nontonnya cuma kamu!" balas Rafa lagi, ia mengerti maksud pandangan Aristia pada nya.
Aristia mengingat kembali ketika tadi di sekolah Rafa memang hanya mengajaknya. Ia berfikir bahwa Rafa sudah mengajak Putri, Aswin, dan Rudi terlebih dahulu.
"Aah..." ia bergumam dan tersadar.
Kalo memang berangkat rame-rame pasti Putri sudah sibuk menanyakan keberadaannya. Kata Aristia dalam hati.
"Kenapa? gak suka?" tanya Rafa dengan nada yang datar membuyarkan lamunan Aristia.
Aristia menggeleng dan terlihat sedang berfikir. Rafa langsung terdiam memandang gadis di depannya.
"Aku gak mau nonton." jawab Aristia sejenak menjeda, lalu melanjutkan kembali perkataannya "Kemarin aku lihat poster di kamar Kak Lintang. Ada festival gak terlalu jauh dari sini. Gimana kalo kita ke sana?"
Aristia tersenyum menunggu jawaban Rafa.
"Ayo kita ke sana." Rafa menjawab singkat
Aristia tertawa kecil melihat Rafa yang menjawab seperti itu.
Tapi baginya Rafa tidak sedingin seperti julukannya. Rafa memang terlihat cuek, tapi sebenarnya ia cukup perhatian. Bahkan waktu hari libur bulan lalu, Rafa membawakannya kue tiramisu coklat kesukaannya.
Rafa berjalan keluar dari taman, diikuti Aristia dari belakang. Karena langkah Rafa yang sedikit cepat untuknya, lalu ia sedikit berlari memposisikan dirinya disamping Rafa.
Mereka menyusuri jalan sambil menikmati suasana yang mulai ramai karena orang berlalu lalang.
"Jalanannya ramai ya," Aristia berkata sambil melirik Rafa.
"Ini sabtu sore. Tentu banyak orang akan keluar rumah menikmati hari libur."
Aristia mengangguk dan tersenyum sambil menikmati suasana. Terkadang ia mencuri pandang pada Rafa.
Rafa tak meliriknya, ia tetap diam. Padahal sedari tadi Aristia sudah menggandeng tangannya sepanjang perjalanan.
Tak terasa tempat festival yang mereka tuju sudah dekat.
Memasuki Area festival, di sepanjang jalan mereka di sambut pohon sakura yang bermekaran. Pohon imitasi tentunya, pohon yang dibuat menyerupai pohon sakura ini tampak seperti pohon asli.
Aristia memandangi tepi jalan yang ditanami sakura buatan dengan senyum, lalu kemudian langkahnya berhenti.
__ADS_1
Rafa memandang Aristia dari samping, lalu diliriknya tangan yang sedari tadi sudah Aristia genggam. Rafa hanya tersenyum melihatnya.
"Ini keren Rafa! sakuranya juga cantik."
Tampak Aristia kagum pada sakura buatan yang berjejer sekitar tiga puluh lima meter yang terpampang dihadapannya. Matanya berbinar.
"iya, cantik...." Rafa berucap sambil melirik Aristia di sampingnya.
Aristia mengeluarkan HP-nya, kemudian menarik Rafa untuk sedikit lebih dekat padanya. Ia mengambil gambar dengan pohon sakura itu sebagai latar.
"Rafa ayo senyum dong...."
"Enggak!"
"Senyum Rafa sekali aja ya? setelah ini sudah. Foto kita yang tadi kamu gak senyum." Aristia merajuk pada Rafa. Akhirnya Rafa mengalah.
"Bagus banget!" Aristia tersenyum puas, jarang-jarang Rafa tersenyum pikirnya.
Aristia menunjukkan hasil jepretannya pada Rafa. Rafa tersenyum kecil, terlihat keduanya sangat bahagia dengan jarak yang dekat.
Setelah puas mengambil gambar, mereka berjalan menuju tempat pusat festival itu berlangsung.
Rafa mendekat pada sebuah stand pernak pernik yang sepi, stand itu tak seramai stand yang lain.
Aristia mengikuti Rafa lalu ia juga melihat-lihat. Rafa melihat sekotak gantungan yang isinya ada lima.
"Saya mau ini Pak." Rafa menunjukkan barang yang dipegang lalu membayarnya.
"Ini bagus Rafa...." Aristia memandang gantungan HP yang dipegang Rafa.
Gantungan berbentuk kristal, yang memiliki warna biru gelap, terdapat serat serta bercak warna perak di atasnya.
Aristia memilih satu pada kotak yang disodorkan padanya. Setelah memilih Aristia mengembalikan kotak itu pada Rafa. Namun Rafa mengabaikannya.
"Oke. Nanti biar aku yang ngasih sama mereka ya." kata Aristia tersenyum.
"Aku gak pernah bilang ini untuk mereka." elak Rafa
"Iya iya...." Aristia tertawa kecil melihat ekspresi Rafa. "Yang ini untuk kamu." Aristia menunjukkan pada Rafa.
Namun belum sempat Rafa mengambil, Aristia sudah membelokkan pandangannya pada sebuah stand makanan dan berlari ke sana.
"Ayo kita makan yang ini, ini, ini, ini, dan itu." Aristia menunjuk pada semua makanan yang ia inginkan.
Setelah membayar dan mendapatkan makanan yang ia pesan. Aristia dan Rafa mencari tempat duduk.
Setelah beberapa kali berjalan dan menengok kanan kiri akhirnya mereka mendapatkan tempat duduk. Mereka mendudukkan diri mereka di kursi dan menaruh makanan di meja yang ada di depan mereka.
"Kamu ini laper atau rakus Aristia Azzalia!" Rafa memandang Aristia yang didepannya sudah ada beberapa macam makanan.
Aristia tidak memperdulikan Rafa, Ia menengadahkan tangannya pada Rafa seolah meminta. Rafa mengernyitkan dahinya.
"Hp kamu mana? Sini...." pintanya pada Rafa.
Rafa bingung namun diserahkannya juga HP-nya pada Aristia. Aristia memasangkan gantungan yang tadi mereka beli.
"Aku tau kamu pasti gak akan masang ini kalo gak di pasangin." kata Aristia lagi.
Rafa hanya tersenyum melihat Aristia yang memasang gantungan pada Hp-nya.
__ADS_1
"Nah.... Benar-benar bagus!"
Aristia menunjukkan Hp Rafa dan HP nya yang telah terpasang gantungan, "Sekarang ayo kita makan." lanjutnya lagi.
Aristia memakan makanannya dengan lahap, "Rafa gak makan?" tanya Aristia
Rafa menggeleng, "Pelan-pelan nanti kamu tersedak." Rafa membukakan air mineral untuk Aristia
"Terimakasih.... kamu beneran gak mau Rafa?" tanya Aristia meyakinkan
"Gak usah, ngeliat kamu aja aku sudah senang." kata Rafa
Aristia yang mendengar itu langsung tertawa. Rafa menopang dagu dengan tangannya, melihat Aristia yang tertawa.
"Tia.... Rafa.... Kalian ke sini juga?" tiba-tiba suara seseorang menyapa mereka.
Aristia dan Rafa menoleh, disamping mereka sudah berdiri kak Lintang dan kak Samudra.
"Malam kak...." sapa Rafa.
Aristia hanya diam sambil mengunyah perlahan makanan yang ada dimulutnya.
"Kami duduk disini ya?" Lintang menimpali
"Iya, Kak...."
Lintang dan Samudra duduk bersama mereka setelah itu.
"Kalian berdua pacaran?" tanya lintang tiba-tiba menyelidik.
Rafa hanya terdiam, sedang Aristia tersedak mendengar ucapan Lintang.
Samudra memberi Air mineral yang ada di meja pada Aristia.
"Makasih Kak...." jawab Aristia, setelah ia meminum air. Rasa gugup terdengar dari nada suaranya.
"Kamu ini Lintang mereka kan memang bersahabat jadi wajar mereka pergi bareng. Pergi berdua bukan berarti pacaran. " kata Samudra.
Rafa memperhatikan Aristia yang terdiam, ekspresi wajahnya sudah berubah. Ia tau mood sahabatnya tidak lagi seperti tadi.
"Kakak juga ke sini cuma berdua. Kalian pacaran?" jawab Rafa
"Ha...ha....ha....ha...."
Lintang hanya tertawa mendengar itu, sedang Samudra hanya menatap Aristia yang ada didepannya.
Setelah beberapa saat, Rafa berpamitan untuk pulang.
"Aku pulang duluan Tia, sudah ada kak Lintang yang menemani kamu pulang." pamit Rafa
"Hati-hati Rafa. Nanti sudah sampai rumah hubungi aku."
Rafa yang sudah membalikkan badannya, tiba-tiba kembali berbalik. Lalu mendekati Aristia sambil memberikan kotak kecil berwarna merah.
"Ini untuk kamu."
"Terimakasih...." kata Aristia, sambil menerima pemberian Rafa.
Rafa pergi. Lintang hanya memandang mereka berdua. Sedang Samudra hanya terdiam menyaksikan itu.
__ADS_1