Apa Kabar Cinta

Apa Kabar Cinta
Sebuah Kebaikan


__ADS_3

Aristia mempercepat langkahnya dengan hati yang deg-degan. Namun semakin cepat ia melangkah, derap langkah yang membayangi sedari tadi pun seakan memperlambat langkahnya.


Dengan nafas yang memburu, Aristia terus mempercepat laju kakinya. Aristia mengerahkan segala daya yang ada agar segera meninggalkan koridor kelas yang mulai sepi.


Hari Sabtu, Sekolahnya memang tidak libur namun di fokuskan untuk Ekstrakulikuler. Segala kegiatan yang mendukung minat siswa-siswi di laksanakan pada hari ini.


"Hei...."


Langkah Aristia terhenti seketika saat di rasakannya sebuah tangan menyentuh bahunya.


"Ngapain buru-buru?" Tanya Sandro sambil tersenyum


Aristia sedikit menepis tangan Sandro. Wajah Sandro mengingatkannya pada preman-preman yang pernah ia tonton dalam film atau drama.


"Aku.... eh.... di.... ditunggu sama Putri di kelas ujung sana." Aristia tergagap


"Aku gak akan lama." Sandro tersenyum


"Langsung aja Sandro!" Kata salah satu teman Sandro


Tiba-tiba saja Aristia merasa rindu pada Rafa dan Aswin. Ia gugup. Selama ini jika ada lelaki yang mengganggunya merekalah yang menolong.


Pernah suatu ketika seorang lelaki yang menyukai Putri, ia ingin memberi Putri hadiah namun tak berani dan menitipkannya pada Aristia.


Aristia yang merasa tidak enak hati pun membantunya. Hadiah itu pun di tolak oleh Putri, lalu Aristia mengembalikannya. Lelaki itu marah dan hendak memukul Aristia, beruntung Rafa dan Aswin menolongnya.


Sekarang Aristia benar-benar ketakutan, meski tak terlalu tampak di wajahnya. Rafa dan Aswin sekarang sedang berlatih di lapangan basket, tim mereka akan bertanding dengan sekolah lain.


"Aa...Aku? Apa salah ku?" Aristia masih terbata.


Aristia menyesali perbuatannya tadi, ia tak sengaja melempar Sandro dengan kotak susu. Seandainya tadi ia mau menaruh karton susu yang telah ia minum dengan benar ke kotak sampah pasti tidak seperti ini.


"Tunggu apa lagi Sandro!" Kata temannya yang lain


"Beri satu ciuman di pipinya. Di jamin kapok dia!" kata teman yang lain ikut memanas-manasi.


Mendengar itu Aristia tambah ketakutan. Kini di benaknya Sandro bukan lagi seorang preman, namun pria mesum yang jahat.


Keringat dingin membasahi sekujur tubuh Aristia. Lututnya gemetar.


Ia mengira kejadian seperti ini hanya terjadi di film-film. Tapi kini ia mengalaminya sendiri di Sekolah. Sandro mulai mendekat, ia hendak menyentuh Aristia.


Aristia memegang dengan erat kedua pipinya untuk melindungi, sambil berdoa dalam hati dengan kuat ia berharap ada orang yang menolongnya meski bukan Rafa atau Aswin.


"Hei.... Hei.... Kamu kenapa?" Suara Sandro mengagetkan Aristia.


Aristia mendongakkan kepalanya melihat Sandro. Kini Sandro tersadar bahwa kata-kata yang keluar dari Aristia tadi bukan karena gugup, tapi ketakutan.

__ADS_1


"Ini.... Punya Mu kan?" Sandro memperlihatkan sebuah gelang dengan batu seperti pelangi, ia mengambil tangan Aristia lalu menaruh gelang itu.


Aristia menggenggam erat gelang itu.


"Ayo kita pergi. Jika Rafa atau Aswin melihat, bisa repot urusan." Ucap Sandro lagi.


Sebelum sempat berkata Sandro telah pergi meninggalkan Aristia.


"Kenapa ini bisa ada sama Sandro?" Aristia memang mencari gelang pemberian Samudra di dalam kamar, namun tak di temukannya juga.


Aristia terus berfikir tentang Sandro yang menemukan gelang ini, tapi tak satu pun bisa menyimpulkan pertanyaannya.


*****


Aristia duduk di taman depan sekolahnya. Hari ini latihan tari nya selesai lebih cepat. Ia menikmati suasana taman sambil mendengar musik dari walkman yang tadi Rafa pinjamkan padanya.


Aristia menikmati alunan musik yang terputar, meski ia tak tau siapa penyanyi dari lagu yang di dengarnya.


Aristia sedang menunggu teman-temannya. Putri dan Rudi sedang berada dalam kelas. Mereka mengikuti ekskul KIR (kelompok ilmiah remaja).


Dari jauh Sandro memperhatikan Aristia yang sedang tersenyum sambil menikmati musik. Ia duduk sambil memakan roti. Sandro mengingat sebuah kejadian.


"Kamu gak apa-apa?" Aristia berkata, nada suaranya terdengar gugup.


Sandro melengos pergi meninggalkan Aristia.


Dipojok rak yang memang sepi. Aristia melihat Sandro bersama seorang gadis. Gadis itu memukul Sandro dengan kuat.


Setelah itu, gadis itu pergi meninggalkan Sandro yang tengah memegang kepalanya.


Aristia mengambil buku dan melirik Sandro dari celah buku yang tadi ia ambil.


"Kamu gak apa-apa?" tanya Aristia


Yang ditanya hanya diam. Melihat itu Aristia berjalan sambil mendekati Sandro.


Sandro mendengus dengan kesal, hari ini ia bertemu dengan Aristia sebanyak dua kali.


"Kamu ngikutin aku!" suara Sandro terdengar keras.


Sandro berdiri lalu berjalan. Aristia hanya diam, ia terus berjalan.


"Berenti ngikutin aku!" teriak Sandro lebih keras.


"Siapa yang ngikutin kamu! aku memang mau lewat sini. Kamu pikir kamu siapa." Aristia berteriak lebih keras.


Aristia kesal karena Sandro marah-marah padanya. Padahal ia hanya bertanya.

__ADS_1


Mendengar Aristia yang berteriak lebih kencang, membuat Sandro terdiam.


"Kalo gak mau di tanya ya udah! Dasar gak tau diri dan terima kasih." umpat Aristia ia mempercepat langkahnya


"Tunggu!" suara Sandro terdengar


Aristia berhenti, tanpa mengatakan apa pun ia duduk didekat Sandro.


"Jadi tadi kenapa?"


"Aku cuma menyuruh Kamu berhenti. Bukan berarti kita jadi dekat ya!"


"Terserah deh. Kepala kamu sakit?"


"Gak begitu Sakit. Lumayan."


Aristia hanya tersenyum mendengar itu.


"Kamu tau, Aku membenci Mu Aristia." kata Sandro memulai kata


Aristia kaget mendengar itu. "Kenapa?" tanya Aristia,


Ia agak menjauh dari Sandro. Kini ia tersadar bahwa Sandro bukan orang yang baik.


Sandro diam. "Aku gak suka aja. Kamu berlaku seolah semua baik-baik saja. Aku tambah membenci kamu, apalagi dengan tatapan mata mu waktu itu ketika Rafa dan Aswin memukul ku karena Putri." Sandro berucap dengan nada kesal.


"Waktu itu Kamu......"


Aristia belum selesai dengan kata-katanya. Sandro sudah memotong, "Terus sekarang kamu sok baik!"


"Rasa benci mu hanya akan merugikan dirimu, karena sebagian orang yang kamu benci tak akan peduli dengan kebencian mu." Kata Aristia kesal.


"Orang yang dibenci tidak akan merasakan kesedihan yang dalam, tapi orang yang membenci akan kehilangan banyak kebahagiaan." ucap Aristia setelah menghela nafasnya.


Aristia berkata demikian karena ia pun teringat akan dirinya sendiri yang juga mungkin membenci Samudra. Aristia pergi meninggalkan Sandro.


Sandro menghela nafasnya, ia mengahiri ingatannya tentang Aristia.


Roti yang ia makan telah habis. Ia lalu mengambil roti yang ada tangan temannya lalu memperhatikan Aristia lagi.


"Lebih cantik Putri dari pada gadis itu. Meski mereka berdua bersahabat." kata teman Sandro yang berada di sampingnya.


"Memang." jawab Sandro singkat


"Lalu kenapa kamu melihat gadis itu sedari tadi woi! Ini sudah satu jam." kata teman Sandro


"Berisik!" jawab Sandro ia tetap fokus pada aktivitasnya.

__ADS_1


"Ayo! tanpa Keeper sepak bola tidak bisa berjalan." teman Sandro menarik Sandro untuk pergi. Dengan terpaksa Sandro mengikuti temannya pergi.


__ADS_2