
Esoknya di sekolah, kantung mata Aristia hitam. Kejadian kemarin, menyita begitu banyak pikirannya sehingga ia tidak bisa memejamkan matanya.
Aswin, Rafa, Rudi, dan Putri tampak mengerubunginya. Aristia tampak tidak bersemangat, begitu juga ketika istrirahat teman-temannya mengajak ke kantin tapi di tolaknya.
Ia tak merasa lapar padahal tadi pagi ia belum sarapan.
Aristia memandang Putri dan Rudi yang tengah bermain game bersama. Aswin duduk membaca buku sambil sesekali mengunyah roti.
Aristia mengalihkan pandangan matanya pada Rafa yang sedari tadi sudah menatapnya.
"Nih makan sendiri atau aku suapi." Ia menyodorkan roti pada Aristia. Dengan malas ia mengambil lalu menaruhnya di tas.
Rafa membelai rambut Aristia.
"Hei, aku bukan anak kecil"
Aristia memegang tangan Rafa yang telah menyentuh kepalanya. Di taruhnya tangan Rafa di meja. Rafa kembali mengulanginya, begitu pun Aristia. Beberapa kali mereka melakukan itu.
Dengan kesal Aristia menggenggam tangan Rafa, menaruhnya di meja lalu ia menaruh kepalanya di atas genggaman tangan Rafa.
"Dari pada seperti itu, lebih nyaman di sini" Rafa menunjuk pada lengannya.
"Oke."
Aristia bersiap hendak menghantukkan kepalanya pada Rafa agar ia kesakitan. Aristia kalah cepat, sebelum itu terjadi Rafa telah lebih dulu menaruh kepala Aristia pada bahunya.
"Lebih nyaman seperti ini kan?" Kata Rafa tanpa memperdulikan Aristia.
Tanpa mereka sadari ketiga temannya telah memperhatikan mereka, lalu menggelengkan kepalanya.
"Terserahlah." kata Aristia.
Kini ia malah memposisikan dirinya senyaman mungkin. Rafa tersenyum dalam hati.
Bel pulang telah berbunyi. Aristia melangkahkan kakinya, rasa lemas pada lututnya mulai terasa. Ia duduk kembali di bangkunya.
Rafa berjongkok membelakanginya, Rafa menengadahkan tangannya ke belakang.
"Apa?" Aristia memukul Rafa, "Kamu mau gendong aku kan. Pokoknya gak mau." balasnya hendak memukul Rafa kembali.
Sedari tadi Rafa menunggu momen itu, setelah memperhitungkan kecepatan tangan Aristia.
-Hap-
Secepat kilat Rafa memegang tangan Aristia, lalu menariknya ke punggung sehingga gadis itu berada di punggungnya.
"Kamu mau memposisikan diri sendiri atau aku paksa lagi?"
"Iya, iya," Aristia memposisikan dirinya di punggung Rafa.
Rafa mulai berjalan sambil menggendong Aristia.
"Aku gak beratkan?" tanyanya
"Berat sedikit. Makan roti mu selama di punggung ku nanti ketika di bawah kamu sudah punya tenaga."
__ADS_1
"Aku pikir kamu akan menggendong sampai rumah." Aristia kemudian tertawa. Aristia mulai memakan rotinya. Ia tersenyum melihat Rafa.
Rafa melewati koridor kelasnya, lalu menuruni tangga menuju ke bawah di mana teman-temannya menunggu.
"Tia, baik-baik aja?" tanya Putri
"Aku cuma lemas sebentar tadi. Ini sudah makan roti jadi udah bertenaga lagi."
"Anak baik...." Putri menyentuh rambut Rafa dan mengelusnya.
Rafa menghindar dari tangan Putri. Ia berjalan dengan cepat, Aristia tertawa dalam gendongan Rafa. Aswin hanya melihat tingkah teman-temannya itu dari belakang.
"Betapa menggembirakannya masa-masa seperti ini" gumamnya pelan.
Aswin tak menyangka mereka akan sedekat ini. Aristia yang ceria meski terkadang ia pendiam, Putri yang cantik namun juga galak.
*****
"Tia tolong antar kue ke rumah tante Rani" sahut ibunya dari dapur
"Suruh kak Lintang ma, aku lagi nonton nih." serunya dari ruang keluarga.
Sebenarnya ia malas karena ke rumah tante Rani pasti akan bertemu Samudra.
Semenjak ia marah beberapa waktu lalu, ia belum menghubungi Samudra pun begitu sebaliknya.
Ia pun kini tak pernah bertemu dengan Samudra, padahal kali ini ia tak menghindar.
Mama mendekat ke arah Aristia, lalu menaruh kue itu di depannya.
"Kan Kak Lintang bisa ma." balasnya lagi
"Kak Lintang lagi pergi, katanya mau konsul proposalnya. Cepat, anak gadis gak boleh males."
"Iya," Aristia beranjak ia mengambil piring yang berisi kue. Lalu membawanya keluar.
Aristia melangkahkan kakinya kini ia sudah berada di depan pintu rumah Samudra yang terbuka. Aristia masuk ke dalam rumah.
"Tante...." panggilnya, di lihatnya rumah Samudra sepi.
Lega rasanya ia tak mendapati Samudra, ia akan merasa canggung jika bertemu Samudra.
"Anak gadis tante, sudah lama ya gak main ke sini. Kangen banget pergi bareng kamu." tante Rani keluar dari dapur. Ia tersenyum menyambut Aristia.
"Ini dari mama tante."
"Mama kamu bikin kue lagi. Makasih."
"Tante masih masak apa? kok wangi...." Aristia mencium aroma masakan.
"Masak opor ayam, baru mateng. Ayo kita makan dulu."
"Oke tante. Aku udah lama nih gak makan masakan tante." tanpa basa-basi Aristia menuju dapur.
Sudah lama ia tidak datang ke sini. Biasanya ia sangat sering main ke sini.
__ADS_1
"Makan yang banyak." tante menambah nasi dan ayam di piring Aristia.
"Makasih tante, masakan tante selalu enak." pujinya sambil mengacungkan jempol.
Tante Rani tersenyum melihat Aristia yang lahap memakan masakannya. Ia memang hobi memasak, ia sangat menyukai Aristia karena gadis itu selalu bisa memakan makanan yang ia buat dengan lahap.
"Karena di kasih makan tuh ma makanya muji begitu." Suara Samudra tiba-tiba terdengar.
Aristia tersedak, ia tak menyangka ada Samudra disitu.
"Jangan ngegetin gitu Sam! Aristia tersedak kan."
"Kakak sudah dari kapan di situ?"
"Sedari suapan pertama kamu tadi." balasnya sambil mendekat ke meja makan.
Wajah Aristia memerah, ini memalukan Aristia tadi kamu membuka mulut mu begitu besar.
Sial ia tak mendengar suara langkah Samudra. Ia membatin dalam hati.
Samudra mengambil piring dan mengisinya dengan makanan. Aristia menatap Samudra dengan melotot.
"Gak perlu melihat aku dengan tatapan seperti itu. Aku sudah harus menerima kenyataannya kalo makan mu banyak." Samudra berkata sambil menyuap nasi ke mulutnya.
"Gak perlu! Aku kan gak minta kakak nerima kenyataannya." balas Aristia ketus.
"Ya udah, kalian lanjut aja dulu ya. Tante pergi dulu mau siap-siap." tante Rani meninggalkan mereka.
Samudra sudah menghabiskan makanannya, lalu beranjak menuju wastafel. Aristia menaruh piring di wastafel lalu hendak pergi.
"Mau ke mana?" secepat kilat Samudra menahan tangan Aristia.
"Mau pulang Kak."
"Bantuin cuci piring dulu"
"Biasanya cuma taruh kok, Nanti Mbak Dori yang mencuci."
"Sekarang kan berbeda." Samudra tersenyum, "Apa kamu memang gak bertanggung jawab begini ya." ucapnya lagi.
"Iya, iya, aku bantuin kak! cuma cuci dua piring, sama dua gelas ini aja."
Aristia membilas peralatan makan yang tadi telah mereka gunakan. Samudra tersenyum sambil melirik gadis di sampingnya itu.
Setelah selesai Aristia keluar, di teras terlihat Tante Rani dan Mamanya sudah bersiap masuk ke dalam mobil.
"Loh, Mama sama Tante mau ke mana? ini udah sore." tanya Aristia
"Kamu di sini aja. Tadi mama sudah kirim pesan sama Lintang setelah pulang dari kampus dia akan ke sini."
"Aku di rumah aja deh Ma,"
"Di rumah kamu sendirian. Samudra titip Aristia ya." Belum sempat Aristia menjawab mamanya sudah masuk ke dalam mobil meninggalkan ia dengan Samudra.
Aristia melirik Samudra yang masuk ke dalam, dengan terpaksa ia mengikuti Samudra ke dalam.
__ADS_1
Samudra tersenyum, tiba-tiba ia hatinya merasa senang.