Apa Kabar Cinta

Apa Kabar Cinta
Awal


__ADS_3

Pagi yang cerah, Aristia berjalan melambat. Ia ingin lebih lama menikmati perjalanan menuju sekolahnya. Aristia menghirup udara pagi yang sejuk itu dalam-dalam. Sebanyak paru-parunya dapat menampung.


Seandainya saja banyak waktu betapa ingin ia berhenti dan berlama-lama. Pasti nikmat sekali.


"Pagi Tia." seseorang menyapanya dari belakang


"Pagi juga Rafa." ucap Aristia malu-malu


"Kenapa pipi kamu merah?" goda Rafa


"Ini karena pagi dan masih dingin tahu!"


"Ah yang bener, bukan karena mikirin aku." ujar Rafa tertawa


"Narsis, sana balik jadi Rafa si Gunung Es." Aristia cemberut


"Iya deh iya, apa yang enggak untuk pacar aku tersayang."


Aristia secepat kilat menutup mulut Rafa dengan kedua tangannya.


"Ssssstttt, jangan keras-keras nanti ada yang denger."


"Oke cantik."


Rafa mengacak rambut Aristia sehingga menjadi berantakkan.


"Ih Rafa..."


Keduanya berlari menuju sekolah dengan gembira.


"Rafa....." suara seseorang memanggil, "Rafa bangun!" suara itu kembali terdengar.


Rafa membuka matanya, ia menghela nafas panjang ternyata itu hanya mimpi. Pikirnya.


"Kamu tidur sambil senyum-senyum sendiri. Mimpi jorok ya!" ucap mama Rafa terkikik


"Mama ada-ada aja deh."


"Ini mama bawain nasi goreng di makan ya Nak, kamu telat makan terus udah beberapa hari ini."


"Makasih Ma,"


Rafa melirik HP-nya setelah selesai memakan nasi goreng. Di grub tampak sepi.

__ADS_1


Ia kembali mengingat mimpinya tadi, mimpi memang berbalik dengan kenyataan. Seminggu yang lalu setelah ia mengutarakan rasanya pada Aristia, esoknya ketika mereka bertemu Aristia langsung menjawab perasaannya.


"Maaf... Aku belum yakin apa aku sudah benar-benar lupa Kak Samudra. Aku senang ketika berdua dengan kamu. Tapi aku juga masih selalu berdebar jika melihat Kak Samudra. Untuk itu aku belum bisa menjadi kekasih Mu."


Rafa menutup ingatannya tentang hari itu. Setidaknya kami masih tetap berteman 'kan? Ada perasaan perih di hatinya.


Senyum Aristia adalah perioritasnya saat ini, meski jauh di lubuk hatinya ada perasaan sedih ketika menatap wajah itu.


-Tring-


Suara pesan masuk terdengar. Rafa malas untuk melihatnya.


-Tring-


Kembali suara pesan masuk terdengar. Rafa melihat layar ponselnya tertulis nama Putri di sana.


- Tring Tring Tring -


Belum sempat Rafa membuka pesannya, suara pesan masuk berulang-ulang terdengar.


"Astaga! Ini anak di kejar setan apa" umpatnya tanpa sadar.


[Ayo, nonton. Akhir pekan enggak ada kegiatan 'kan?]


[Ayo,]


[Go go,]


[Ayo, nonton. Jangan melamun.]


Dasar, dari mana anak ini tahu aku sedang bengong. Semenit kemudian Rafa mengetik balasan untuk Putri.


"Oke. Aku jemput kamu."


*****


"Kamu enggak ada niat nyari pacar?" tanya Rafa pada Putri yang tengah meneguk minumannya.


Putri menggeleng.


"Kenapa?"


"Ada kalian yang selalu bersama aku," Putri menyengir menampakkan gigi nya yang berbaris dengan rapi.

__ADS_1


Semenit kemudian Putri menatap Rafa dengan lekat, sampai Rafa merasa tak enak.


"Ngomong aja kalo ada yang mau di omongin."


"Hemmmm, kamu belakangan ini berubah."


"Berubah gimana? Kearah yang bagus atau sebaliknya."


"Ha...Ha...Ha... Kasih tahu atau gak ya?"


"Enggak di kasih tau juga enggak apa-apa. Cowok tampan seperti saya ini bebas." ucap Rafa cuek


"Hah! Sumpah kamu belajar narsis begitu dari siapa coba?" Putri tertawa cekikikan


Rafa acuh pada sikap Putri. Putri melirik Rafa yang ada di depannya tampak Rafa sedang memainkan HP-nya.


Rafa memang tampan di antara teman-temannya, meski ia tidak sepopuler Aswin karena Rafa selalu dingin jika ada seorang wanita yang mendekatinya.


"Hei, Gak usah terpesona sama ketampanan saya. Sampe bengong begitu." Rafa melambaikan tangannya di depan wajah Putri.


"Kamu lagi jatuh cinta ya?" tanya Putri menyelidik.


Bukan sehari dua hari mereka berteman. Perubahan sikap Rafa membuatnya penasaran.


Skak. Rafa berkata dalam hatinya, Putri memang sangat pintar membaca situasi. Rafa mengernyitkan dahinya. Rafa hanya diam.


"Ayo jawab!" Putri tampak bersemangat melihat laki-laki di depannya ini terdiam.


"Jawab apa?"


Tiba-tiba sebuah suara terdengar.


"Hai teman-teman. Hai My Tia duduk sini," Putri menarik sebuah bangku.


"Jawab apa? Kenapa enggak di jawab." Rudi mengulang pertanyaannya.


"Enggak apa-apa lagi becandaiin Rafa. Apa lagi jatuh cinta."


"Hah, Rafa jatuh cinta? Sama siapa? Pantesan berubah jadi aneh beberapa hari ini." Rudi menggeleng-gelengkan kepalanya.


Rafa diam, lalu melirik Aristia yang duduk tepat di depannya. Tampak Aristia mengalihkan pandangannya.


"Hayalan kalian ini pinter banget ngarangnya!" Kata Rafa, "Ayo cepetan kita masuk ke filmnya bentar lagi mulai."

__ADS_1


Rafa bangkit dari duduknya, diikuti oleh teman-temannya.


__ADS_2