Apa Kabar Cinta

Apa Kabar Cinta
Patah Hati


__ADS_3

Sekolah seharian ini membuat Aristia ingin segera tiba di rumah dan menghempaskan diri di tempat tidurnya yang lembut dan nyaman.


"Mama...." teriak Aristia memasuki rumah. Tak ada sahutan, "Kak Lintang...." teriak Aristia lagi, namun tak ada sahutan. Itu artinya tidak ada orang di rumah.


Aristia melangkah ke dapur, membuka lemari es lalu mengambil air putih. Sambil meraih toples kue kemudian, di bawanya semua itu ke dalam kamarnya.


Aristia menaruh tasnya, lalu melompat ke tempat tidurnya. Sudah pukul setengah lima sore. Sungguh hari yang amat panjang dan melelahkan.


-kruyukk kruyukkk-


Suara perut Aristia terdengar. Aristia keluar rumahnya, ia membuka pintu gerbang lalu tepat di depannya sebuah motor berhenti. Aristia melihat motor di depannya. Terlihat Lintang sedang turun dari motor Samudra.


"Sore Tia, mau ke mana?" Samudra menyapa Aristia


"Hai kak.... Mau beli bakso di depan sana." Aristia menjawab sambil menunjuk ke arah perempatan jalan.


"Mau aku anterin?" Samudra menawarkan diri


"Kamu kan capek Sam, baru pulang." Kata Lintang menimpali


"Gak apa-apa, ayo." kata Samudra


"Gak usah kak, aku bisa sendiri, lagian deket kok." Tolak Aristia, ia merasa tak enak karena wajah Lintang terlihat keberatan atas perkataan Samudra.


"Benar gak mau?" Kata Samudra lagi, ia meyakinkan Aristia.


"Iya" jawab Aristia singkat


"Baiklah, aku pulang ya." kata Samudra, kemudian ia pergi meninggalkan Aristia dan Lintang.


"Gimana? Aku serasi gak sama Samudra?" Lintang bertanya sambil tersenyum pada Aristia.


"Kakak pacaran dengan Kak Samudra?" Tanya Aristia.


Kini ia memberanikan diri untuk bertanya, setidaknya rasa penasarannya akan hilang jika Lintang menjawab.


"Menurut kamu gimana?" Lintang balik bertanya


"Mana Aku tahu."


Aristia menggelengkan kepalanya, ia tidak bisa menebak hubungan antara kak Samudra dan Lintang.


Melihat hanya karena sering pulang bareng tidak menunjukkan hal yang spesial kan. Ia butuh jawaban pasti agar rasa penasarannya terjawab sudah. Selain itu Samudra dan Lintang memang sudah dekat sedari kecil.


"Jadi kalian pacaran atau enggak nih?" Aristia mengulang pertanyaannya lagi.


"Ade deh!" Jawab Lintang tersenyum


"Ish...." kata Aristia, lalu ia berkata "Aku beli makanan pergi dulu ya Kak." Aristia Lalu meninggalkan Lintang.


Aristia berjalan sambil menghela nafas. Setelah beberapa lama berjalan ia masuk ke warung bakso yang tidak jauh dari rumahnya. Setelah memesan ia duduk. Di dalam warung terdengar musik dari Natalie Cole.


Aristia mengamati sekitar, hanya terlihat beberapa orang berada di situ. Sambil menunggu pesanannya datang Aristia memainkan ponselnya. Kemudian Ada pesan baru masuk dari Samudra.


[Kamu dimana?]

__ADS_1


"Di warung bakso Udin."


[jangan melamun. Aku tau kamu sendiri. Aku bisa melihat mu]


Aristia tersenyum, membaca pesan Samudra.


"Kakak dimana?"


[Tepat di hadapan kamu duduk.]


Aristia mengangkat kepalanya, tampak Samudra benar-benar sudah ada di depannya sambil tersenyum.


"Kakak dari kapan di sini?" Tanya Aristia heran karena melihat Samudra.


"Rahasia." Jawab Samudra.


"Ini baksonya." suara seseorang terdengar, lalu menaruh dua mangkok bakso di depan mereka.


"Makasih Mas," kata Samudra. " Lagunya bagus ya." lanjut Samudra setelah pelayan tadi pergi.


"Iya, lagunya Natalie Cole kak." Kata Aristia.


Aristia dan Samudra menyantap bakso. Di temani alunan musik yang merdu.


I miss you like crazy


No matter what I say or do


There's just no getting over you


I miss you like crazy


*****


"My Tia...." Putri memanggil Aristia yang baru saja masuk ke halaman.


"Ada teman kamu, aku langsung pulang ya." Kata Samudra.


"Iya kak, makasih. Aku jadi makan gratis." Kata Aristia


"Iya. Sama-sama." Samudra melangkahkan kakinya menuju rumahnya.


Aristia menghampiri Putri di teras rumahnya.


"Sudah hampir malam, kenapa kamu kesini." Kata Aristia


"Karena sedang berdua dengan kak Samudra jadi kamu gak sempet baca pesan aku. Padahal aku kirim pesan loh." Putri berkata menggoda Aristia, namun nada suara sedikit parau.


"Apaan sih!" Aristia membuka isi pesannya. "Ayok kalo mau menginap." Kata Aristia masuk ke dalam rumah. Putri mengekor dari belakang.


"My Tia.... Kak Rio...." kata Putri dengan suara pelan sesampainya di kamar.


"Kenapa?" Tanya Aristia. Aristia bersemangat akan mendengarkan cerita sahabatnya ini.


"Kak Rio nolak Aku." Jawab Putri tanpa semangat.

__ADS_1


Ia mengingat kejadian sore tadi sepulang ketika ia sudah janjian dengan Rio di sebuah cafe.


"Hah! kak Rio nolak kamu? Kamu salah paham mungkin Put."


Aristia tak percaya bahwa Putri akan di tolak. Selama ini hubungan Putri dan Rio baik-baik saja, bahkan Rio menunjukkan sinyal yang bagus.


Tadi di sekolah Putri menerima sebuah buket bunga. Ada sembilan puluh sembilan tangkai bunga mawar. Di tengah kebingungan sebuah pesan masuk dan itu dari Mario alias Rio.


"Apa-apan!! Wah.... Setelah dia mengirim bunga dan ketika kamu mengungkapkannya dia menolak." Aristia kesal mendengar cerita sahabatnya.


Kini Putri mulai terisak, Aristia mendekati Putri lalu memeluk gadis yang sedang bersedih itu.


"Sudah.... Lupakan dia, suatu saat pasti akan ada yang lebih baik dari dia." Aristia menghibur Putri.


Hujan di luar yang tiba-tiba turun menambah suasana menjadi kelabu.


Dua gadis menangis bersamaan. Iya, Putri dan Lintang. Bedanya Putri menangis di temani Aristia, sedang Lintang menangis di kamarnya seorang diri.


Lintang mengingat kembali percakapannya dengan Samudra. Tadi ia melihat Samudra dan Aristia.


"Hallo...." suara Lintang terdengar sedang menelfon seseorang.


"Iya, kenapa Lin?" Suara Samudra terdengar


Ingin rasanya Lintang bertanya apakah Samudra sudah merubah perasaannya pada Aristia. Namun di urungkannya. Sekarang ia belum sanggup mendengar jawaban Samudra.


"Hallo.... Lin, ada apa?" Suara Samudra bertanya


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya bosan." Kata Lintang berbohong.


"Kamu orang yang pertama aku beri tahu!" Kata Samudra, "Aku ingin bercerita beberapa hari ini aku bahagia jika melihat seseorang." Kata Samudra memulai percakapan


-Deg-


Lintang merasa cemas mendengar perkataan Samudra.


[Apa Samudra sudah move on.] Pikiran Putri mulai melayang jauh.


"Siapa? Aku?" Tanya Putri ia ingin memastikan apakah itu dirinya dengan nada yang seolah bercanda.


Suara tawa di seberang sana terdengar.


[Kamu memang selalu membuat ku bahagia. Tapi kali ini berbeda, rasa bahagia ini berbeda dengan bahagia aku ketika bersama mu, sepertinya aku menyukainya.] Ucap Samudra masih ragu.


"Jadi siapa dia?" Tanya Lintang suaranya sedikit bergetar mulai menahan tangis.


[Nanti aku akan memberitahu mu jika aku sudah benar-benar memastikan perasaan ini.] Kata Samudra, [Lin sudah dulu ya. Ada panggilan masuk.] Samudra memutus sambungan telfon.


Bersamaan dengan berakhirnya percakapan mereka, Lintang mulai menangis air matanya mulai turun.


Bukankah belakangan Samudra sudah berbaikan dengannya Aristia. Lintang mendekati kamar adiknya yang berada di samping kamarnya.


Di lihatnya Aristia sedang memeluk Putri. Itu berarti bukan Aristia yang menelfon. Lalu siapa orang itu.


Lintang kembali masuk ke dalam kamarnya. Air matanya sekarang sudah turun dengan deras, mengingat Samudra sudah mulai menyukai orang lain. Padahal selama ini Lintang selalu berusaha berada selalu di sisi Samudra.

__ADS_1


__ADS_2