Apa Kabar Cinta

Apa Kabar Cinta
Ulang tahun Samudra part 2


__ADS_3

"Selamat ulang tahun Kak Samudra"


Secepat kilat Aristia mengalihkan pandangannya dari samudra, lalu melihat langit malam yang ada di depannya.


Samudra menatap gadis disampingnya itu sambil tersenyum. Sekarang tak ada lagi rasa canggung di antara mereka.


"Aku suka suasana seperti ini, Tuhan. Langit begitu indah. Jangan biarkan cepat berlalu." Aristia berdoa sambil memejamkan matanya.


Melihat Aristia berkata seperti itu, Samudra merasa senang.


"Pada cuaca cerah seharusnya akan banyak bintang yang bisa terlihat, baik dalam pola rasi maupun gugusan galaksi." Samudra berkata, menatap langit malam yang gelap.


"Kok aku ngerasa sama aja ya Kak? aku gak bisa membedakan mereka. Semua terlihat sama. Mereka semua tampak cantik, menghias langit yang gelap." Aristia melihat langit yang membentang didepannya.


Tampak hanya beberapa bintang yang muncul.


"Bintang-bintang yang kamu bilang cantik itu, bisa di artikan bahwa kamu sedang melihat masa lalu."ujar Samudra sambil menengok Aristia, lalu mengalihkan lagi pandangannya.


"Kenapa? apa karena orang yang biasanya sedang jatuh cinta atau patah hati suka banget liat bintang."


Aristia bertanya tanpa melihat Samudra. Ia mengerutkan keningnya, sambil berfikir.


"Bintang cahaya penerang dari masa lalu. Cahaya yang kita lihat sekarang, adalah cahaya dari masa lalu." kata Samudra, "Misalkan sebuah bintang jaraknya adalah seratus tahun cahaya dari Bumi. Maka, cahaya yang datang dari bintang membutuhkan sekitar seratus tahun untuk mencapai Bumi. Jadi, cahaya yang kita lihat sekarang adalah cahaya bintang seratus tahun yang lalu." Kata Samudra menjelaskan maksud perkataannya tadi.


"Wah.... kakak benar-benar mengerti tentang bintang. Aku bahkan cuma bisa menikmati kecantikannya tanpa tau apa-apa. " ujar Aristia merasa kagum atas ucapan Samudra, "Ternyata pikiran aku sesederhana itu ya." Kata Aristia lagi


"Ha....ha....ha.... Itu kata-kata dari sebuah cerita yang pernah aku baca kok" Kata Samudra sambil tertawa kecil.


"Sejak dulu, manusia menggunakan bintang sebagai petunjuk. Bintang digunakan untuk menentukan arah." ujar Samudra lagi.


"Bintang kebanyakan sendirian, dan jarak bintang yang paling dekat dengannya adalah sejauh jutaan cahaya. Seperti Matahari, bintang yang dekat dengannya yaitu Proxima Centauri, yang berjarak  4,24 tahun cahaya." Kata Samudra menjelaskan pada Aristia.


"Bahkan bintang juga ada yang jomblo sejak tercipta ternyata." kata Aristia tertawa mendengar penjelasan Samudra yang tadi ia dengar.


Melihat Aristia yang tertawa senang karena mendengar bahwa ada bintang yang sendiri. Samudra langsung berdehem.


"Jangan terlalu senang mengetahui sebuah bintang yang sendiri seperti itu. Karena ada juga bintang yang berpasangan. Bintang-bintang yang berpasangan ini bisa disebut Binary Stars." Kata Samudra.


Aristia langsung terdiam mendengar perkataan Samudra.


Melihat ekspresi Aristia seperti itu, Samudra tersenyum.

__ADS_1


"Selain itu, ada juga bintang yang memiliki lebih dari satu pasangan alias berpasangan tiga, empat, atau lebih. Bintang-bintang ini juga dikenal dengan nama Multiple Stars." kata Samudra.


Bintang dimalam hari memang sangat tepat untuk menggambarkan suatu mimpi seseorang atau dengan melihat bintang di malam hari bisa saja tanpa sadar kita menjelajah memori dan mengingat seseorang.


Bintang malam memang hadir untuk menghias langit malam yang gelap seperti yang tadi Aristia katakan.


[Bahkan langit yang gelap pun jadi terlihat terang dan cantik karena adanya bintang.] Samudra berkata dalam hati.


Aristia masuk ke dalam tenda lalu duduk, ia mengambil selimut lalu menutup bagian kakinya.


Melihat itu Samudra berbalik dan melihat Aristia dengan senyum.


"Ini buat Kakak...." Aristia menyodorkan sebungkus coklat pada Samudra.


"Untuk apa?" Samudra balik bertanya.


"Hadiah ulang tahun, aku lupa jika kakak ulang tahun. kebetulan yang sangat kebetulan ya...." kata Aristia, "Hadiah yang sangat sederhana. Gak apa-apa kan?" ujar Aristia lagi.


Ia benar-benar tidak menyangka bahwa ia akan bersama Samudra malam ini.


"Kamu menemani ku malam ini merupakan hadiah yang berharga." kata Samudra


"Kakak yang menemani ku, bukan sebaliknya...." Kata Aristia, ia membuka bungkus coklat lalu memakannya. Rasa manis membuatnya tenang.


Meski hatinya menolak untuk menghampiri, tapi pada akhirnya kekhawatirannya mampu mengalahkan rasa penolakan hatinya.


Yang tidak ia sangka adalah hari ini bertepatan dengan ulang tahunnya, ia benar-benar lupa akan hal ini.


"Ada sebuah cerita. Ini merupakan cerita tentang seseorang yang menemukan sebuah bintang yang cantik. Lalu terjadi beberapa hal yang tak terhindar. Karena hal itu, orang itu kini tidak bisa lagi memiliki bintang yang tadi ia temukan." Kata Samudra


Aristia mendengarkan perkataan Samudra dengan serius.


"Ketika kamu menyukai dan sudah memilih satu bintang diatas jutaan bintang yang ada. Maka Kamu akan cukup bahagia meski hanya ada satu bintang yang bersinar terang dimalam yang sunyi." Kata Samudra ekspresi wajahnya kini berubah.


"Semangat Kak! Semoga selalu dikuatkan ya."


Samudra melihat Aristia yang tersenyum. Tiba-tiba deg jantungnya berdetak. Aristia yang dipandangi menatap Samudra keheranan, menyadari itu Samudra mengalihkan pandangannya.


Tapi jika itu sebuah bintang pasti ada batas waktu sampai batas maksimal ia bertahan kan. Aristia berkata dalam hati.


Samudra hanya tersenyum mendengar itu. Ia sedikit menyesali perkataannya tadi.

__ADS_1


Memperlihatkan sosoknya yang sedih. Ia bahkan mengatakan ceritanya pada Aristia, padahal ia masih menganggap gadis itu sebagai anak kecil.


Tapi kata-kata penyemangatnya tadi benar-benar mengena dihatinya.


Ini pasto karena tadi ia terbuai dengan suasana malam yang membuka memorinya yang pernah tersimpan.


Memori yang ia simpan rapat. Kenangan yang pernah ia lalui bersama bintang yang bersinar terang di dalam hatinya.


"Tapi Kak Samudra...." Aristia sekarang menatap Samudra didepannya dengan lekat.


Samudra melihat gadis di depannya karena ucapan Aristia yang terjeda.


"Apa?"


"Tentu saja kakak harus melupakan masa lalu. Kenangan itu, seharusnya kehilangan warna dan memudar seiring berjalannya waktu." Kata Aristia, ia menarik nafasnya perlahan lalu melanjutkan perkataannya, " Jadi jangan terlalu merasa tersiksa atau berusaha mengingat masa lalu. Yang terpenting masa sekarang. Aku memang gak tau apa yang terjadi, tapi aku percaya itu bukan salah kak Samudra".


Mendengar kata-kata Aristia.


-Deg....deg.... deg-


Denyut jantung Samudra berdenyut lagi.


Rasanya seperti hatinya menemukan sesuatu yang ia cari. Perasaan lega.


Perkataan Aristia yang terdengar tulus itu, wajah Aristia yang menatapnya dengan polos, membuatnya tanpa sadar mendekat dan memeluk gadis yang ada di depannya.


"Terimakasih...." Ucap Samudra tersenyum memeluk Aristia


"Untuk apa?" Aristia bertanya dengan kaku. Meski ia membiarkan Samudra memeluknya.


"Sudah menemani ku, dan mendengarkan cerita ku. Ini hari ulang tahun yang tahun yang menyenangkan." Kata Samudra.


Ini pertama kali ia benar-benar bersyukur Aristia berada sangat dekat dengannya.


Ketahuilah bahwa perasaan memang tak sesederhana seperti kita bisa menghitung jari dari satu sampai sepuluh, lalu selesai.


Bahkan ketika disamakan dengan bintang malam yang gemerlap di langit pun tetap tak terkira, sebab rasa bukan rumus yang bisa di hitung dan memberikan jawaban pasti.


Perasaan tetaplah perasaan yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata apa pun.


Begitu pun rasa Samudra pada Aristia malam ini. Perkataan tulus Aristia telah tersampaikan dengan tepat, bahkan sampai ke sudut hati Samudra. Perkataan sederhana yang mampu menenangkan pada kondisi dan waktu yang pas.

__ADS_1


[Terimakasih untuk kata semangat mu tadi Aristia]


Samudra berkata dalam hati.


__ADS_2