Apa Kabar Cinta

Apa Kabar Cinta
Permulaan


__ADS_3

Pagi yang cerah, Aristia memperlambat langkah kakinya. Ia memasuki gerbang utama sekolahnya.


Di kanan dan kiri dekat gerbang masih ada taman, yang terkadang di tempati siswa-siswi untuk bersantai ketika istirahat atau pun pulang sekolah.


Pohon-pohon yang sudah cukup besar tumbuh di tengah hamparan rumput. Terkadang di musim seperti ini, daun-daun yang berguguran menghamparkan permadani kuning, yang bisa mengundang siapa pun untuk menghempaskan diri di hamparan permadani alami itu.


Aristia menghirup udara pagi sebanyak-banyaknya, sebanyak yang ia mampu. Seandainya masih cukup banyak waktu, betapa ia ingin duduk sambil membaca buku di taman sekolahnya ini.


"My Tia!!" Aristia terkejut dan menoleh ke sumber suara. "Hallo.... lagi ngelamun ya? pagi yang cerah seperti ini memang pas untuk berkhayal kan. iya kan?" seru Rudi jenaka


"Ah...." Aristia menahan tawanya


"My Tia!" Seseorang meneriakkan kembali namanya.


Serempak Aristia dan Rudi menoleh ke belakang. Terlihat Putri sedang berlari mengejar mereka.


"Astaga...." Putri terengah, ia berucap ketika sudah berhasil menyusul kedua sahabatnya. Rudi tertawa melihat Putri, "Yok kita ke kelas." ajak Putri tanpa memperdulikan Rudi yang tertawa.


"Kamu habis begadang Rud?" tanya Putri tiba-tiba sambil mereka melangkah menuju kelas.


"Iya, semalam aku tidak bisa tidur." jawab Rudi lesu, tampak lingkaran hitam di matanya.


"Pantes pagi ini kamu tambah jadi jelek." Putri tertawa . Namun Rudi diam saja mendengar itu, meski raut wajahnya tampak kesal.


Ketiganya sampai di depan kelas. Aswin menyunggingkan senyum ketika melihat ketiganya. Sedang Rafa terlihat tidur di meja.


"Rafa bangun!" teriak Rudi. Mendengar teriakkan Rudi Rafa tetap pada posisinya.


"Pagi Aswin." sapa Putri lalu duduk


"Pagi juga," Aswin menjawab sapaan Putri, "Nanti sepulang sekolah ayo kita nonton." ajak Aswin


"Sorry... Tapi kali ini aku ama Tia gak bisa ikut." kata Putri menimpali.


Aristia mendengar itu hendak menjawab, namun segera Putri menyenggol tangannya. Aristia hanya diam setelah di senggol.


"Kenapa kalian gak bisa ikut?" tanya Rudi padahal ia sangat ingin pergi nonton.


"Ada keperluan pribadi." kata Putri. Putri menengok pada Aristia sambil tersenyum.


"Ada apa?" tanya Aristia


"Kamu tau kak Rio?" kata Putri, "Nanti sepulang sekolah dia ngajakin aku ketemuan di Orange Cafe. Temenin aku ya...." ajak Putri


"Dih.... kamu mau ketemuan kenapa ngajak aku." kata Aristia.


"Aku terlalu gugup untuk sekedar ketemu. Jadi aku ngajakin kamu. Yah....yah...." kata Putri memelas


"Iya iya...." Aristia menganggukkan kepalanya.


*****


Aristia dan Putri menyeruput minumannya. Putri sedari tadi menengok jam ditangannya. Senyumnya mengembang, raut wajahnya menampakkan kebahagiaan.

__ADS_1


Selama ini Aristia hanya mendengar cerita dari Putri, dia belum pernah bertemu dengan lelaki itu.


Mario nama lengkap lelaki itu, dan Rio adalah nama panggilannya. Terakhir kali Aristia mendengar cerita Putri, bahwa lelaki itu sedang melanjutkan kuliahnya di luar negeri.


Akhirnya hari ini ia bisa melepas rasa penasarannya. Iya dia penasaran lelaki seperti apa yang bisa menaklukkan hati seorang Putri.


"Hai... Sudah lama menunggu?" tiba-tiba sebuah suara menyapa mereka.


Aristia melihat Putri yang sudah memasang senyumnya yang sempurna.


Ia menengok ke belakang, tampak seorang laki-laki menggunakan pakaian casual dengan rambut yang sedikit bergelombang.


Manik matanya berwarna hitam terang yang meneduhkan. Hidungnya pun mancung. Aristia terpesona dengan laki-laki yang sedang ia temui, pantas saja Putri menyukainya.


"Lumayan Kak.... Ayo duduk, ini teman aku." Putri memperkenal Aristia.


"Mario, panggil aja Rio." kata laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya.


"Aristia...." Aristia berkata sambil menjabat tangan Rio


"Jadi dia Aristia, aku sering mendengar tentang kamu dari Putri." kata Rio.


Aristia hanya membalasnya dengan senyuman.


Rio lalu duduk di depan Putri. Keduanya tampak mengobrol dengan akrab.


Putri selalu memandang Rio tanpa berkedip, dari isarat matanya tampak Putri sangat mengagumi Rio ketika berbicara.


Aristia menengok jam di tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Namun dua orang di depannya tampaknya masih asik mengobrol. Aristia menjadi tak enak untuk memotong pembicaraan keduanya.


-Tring tring-


[kamu ada dimana]


"aku lagi di Orange cafe kak"


[aku akan kesana]


"gak perlu kak, biar aku yang kempat kakak. kakak ada dimana"


Lama tak ada lagi balasan dari Samudra. Aristia menatap layar ponselnya berkali-kali namun tak ada balasan dari Samudra.


Melihat Aristia yang gelisah menatap ponselnya, Putri mengernyitkan keningnya.


"Kenapa? kamu merasa di cuekkin? maaf...." Putri sadar akan sikapnya yang kurang memperdulikan Aristia.


"Ehh iya, aku terlalu asik dengan cerita-cerita ku ya...." tampak raut wajah Rio merasa bersalah


"Bukan.... Bukan karena kalian kok." Aristia merasa tak enak karena tadi dia memang sempat sedikit bosan.


Tapi melihat ekspresi kedua orang yang ada di dekatnya seperti itu, ia malah menjadi merasa bersalah.


-Tring tring-

__ADS_1


Sebuah pesan masuk ke ponselnya, Aristia membuka ponselnya.


Rio dan Putri menatap Aristia yang mengetik di ponselnya. Lalu ia bangkit.


"Sungguh.... Ini bukan karena kalian berdua, kak Samudra sudah di depan. Aku akan pergi keluar, kalian tidak keberatankan."


Aristia hendak meninggalkan bangku tempatnya duduk.


"Tunggu!" teriak Putri, sejenak ia menjeda. "Kamu bilang Samudra? sejak kapan kamu sudah bersikap baik lagi padanya." Putri bertanya pada Aristia


"Nanti... nanti... Aku jelaskan. Aku akan menelpon Mu. Oke?" Aristia bergegas meninggalkan Putri. Melihat itu Putri hanya menggeleng.


Aristia keluar dari cafe, Samudra sudah menyambutnya dengan senyuman.


Hampir ia terpesona dengan senyuman Samudra, namun di urungkannya. Ia ingat sms Aswin waktu itu.


[Berbaikkan lah. Tapi ingat jangan berharap berlebih. Karena kalo kamu terlalu berharap itu cuma akan membuat kamu lelah.]


"Kak Samudra...." Aristia berjalan mendekati Samudra.


Setelah dekat, Aristia tersenyum. Lalu mereka berjalan menyusuri jalan.


"Kamu ngapain di sini? sendiri...." tanya Samudra


Aristia menggeleng. "Sama Putri kak...." jawabnya dengan pelan.


"Terus kenapa kamu ninggalin dia sendiri di dalam?" tanya Samudra lagi.


"Siapa bilang dia Sendiri, dia lagi sama temennya." kata Aristia


"Terus kenapa kamu cemberut? seperti orang yang kesal." kata Samudra


"Aku gak kesal kak. Tadi cuma sedikit bosan saja, Putri sedang asik mendengar cerita kak Rio." Aristia menceritakan kejadian yang tadi ia alami.


Mendengar itu Samudra tertawa. Kini ia mengerti kenapa gadis yang tengah bersamanya ini secepat kilat dalam hitungan detik sudah membalas pesannya.


Aristia terus menyusuri jalanan bersama Samudra. Sudah dua puluh menit mereka berjalan.


"Tunggu dulu! Kita mau kemana Kak?"


Aristia baru tersadar jika ia tidak tau kemana arah langkah kaki mereka. Sedari tadi ia hanya mengikuti Samudra melangkah.


"Kamu benar-benar lucu Aristia. Jadi kamu asal mengikuti aku saja." Kata Samudra menahan tawanya.


Sungguh sekarang setiap tingkah Aristia mampu membuatnya tersenyum. Ini gila! pikirnya.


Aristia mengangguk, Samudra memegang kepala Aristia.


Lalu ia tersenyum, diperlakukan seperti itu debaran jantung Aristia berdetak dengan kencang seperti dahulu.


Aristia yang salah tingkah, Samudra langsung membelokkan kepala Aristia ke sebelah kiri.


Di sana, di seberang jalan Aristia melihat ada pasar malam. Lampu-lampu yang sudah menyala menambah indah suasana pasar malam.

__ADS_1


"Kamu mau ke sana?" ajak Samudra.


Aristia mengangguk. Lampu merah menyala, di genggamnya tangan Aristia dengan erat. Lalu mereka menyeberangi jalanan malam itu.


__ADS_2