
Samudra masuk ke dalam rumah, dengan terpaksa ia masuk mengikuti dari belakang. Ia duduk di sofa ruang tamu sambil mengirim pesan pada Putri. Di lihatnya Samudra terus melangkah ke dalam.
[ðŸ˜]
[Masih marahan sama Kak Samudra?]
[Aku lagi di rumah Kak Samudra. Berdua aja.]
[Semangat!]
[Hah.... Semangat untuk apa?]
[Semangat mencari kesempatan. Ha.... ha.... ha....]
[Duh... --']
Tampaknya Putri sedang sibuk, terbukti dari pesan balasan yang ia kirim.
Aristia berselonjor di sofa, bahunya ia senderkan pada sofa. Ia asik menggeser ke atas dan ke bawah layar ponselnya.
Samudra memasuki ruang tamu, lalu menutup pintu. Melihat itu Aristia menegakkan tubuhnya.
"Kenapa di tutup Kak?!"
"Sebentar lagi hari mulai gelap. Memang kenapa?"
"Kan di rumah ini cuma kita berdua." Suara Aristia terdengar pelan, hampir tidak terdengar.
"Ada Mbok Dori di kamar lagi istirahat."
Samudra tersenyum, ia perlahan mendekati Aristia. Lalu di tatapnya gadis itu, sedetik kemudian ia mendekatkan wajahnya ke wajah Aristia.
Sedikit mundur Aristia karena hal itu. Ia diam, hatinya mulai berdebar.
"Kamu gak perlu kuatir. Jangan mikir yang aneh-aneh. Rasanya aku gak tertarik sama kamu."
Samudra tertawa melihat tingkah Aristia. Ia melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga.
Aristia yang sempat bengong mendengar kata-kata Samudra, setengah berlari ia memukul Samudra, lalu duduk di karpet. Ia menghadap TV, lalu berkata.
"Iya, iya.... Aku yang suka sama Kakak."
"Gak perlu kamu kasih tahu, aku sudah bisa menebaknya." Samudra tersenyum.
Aristia sangat sebal melihat senyum Samudra yang kini duduk di sampingnya. Ia mengambil kue yang ada di depannya.
"Gak perlu pura-pura marah kalo mau makan kue itu." Oceh Samudra sambil tertawa, ia senang melihat Aristia kesal.
Samudra memang sudah menyiapkan kue coklat itu sedari tadi. Ia tahu Aristia akan datang ke rumahnya.
"Nanti mama akan pergi bersama Tante Mirna. Aristia biar di sini ya Sam, Ayahnya dan Lintang lagi tidak di rumah." Kata Mama tadi pagi.
Samudra melihat Aristia yang sedari tadi mengunyah. Hening di antara mereka setelah percakapan tadi.
__ADS_1
"Maaf...." suara Samudra memecah keheningan di antara mereka.
"Untuk apa?" Jawab Aristia pura-pura tidak mengerti. Ia sedari tadi memang ingin mengucap kata maaf, tapi kata itu tidak bisa keluar dari mulutnya.
"Entahlah.... Aku merasa kamu marah."
"Aku yang harusnya minta maaf. Kemarin sudah marah." Kata Aristia
"Tuh kan bener beberapa waktu lalu kamu ngambek. Kenapa bilang enggak?" Kata Samudra antusias
Aristia menyadari masuk dalam jebakan Samudra.
"Jadi kakak tadi sebenernya ngetes aku marah beneran atau gak? Iya gitu."
"Bukan seperti itu. Aku hanya merasa kamu marah tanpa sebab. Kamu marah kenapa?"
"Gak apa-apa." Jawabnya dengan cepat. Enggak mungkin kan aku bilang karena ia bersama Kak Lintang. Batin Aristia dalam hati.
"Bener?"
"Iya, beneran. Ya udah sekarang kita baikan ya."
"Emang kita berantem? Kan cuma kamu yang marah." Goda Samudra
"Isshh.... iya, iya...." Kata Aristia lagi
Samudra tertawa, ia mengelus rambut gadis yang belakangan ini mengisi hatinya.
"Mau nonton?" Tanya Samudra
"Ada nih. Bukannya kamu takut sama film horor?"
"Aku suka kok. Meski setelah nontonnya nanti ketakutan."
"Oke."
Samudra memutar kaset film horor yang telah mereka pilih.
Jantung Aristia berdegup dengan kencang, film yang terputar mulai menampakkan kengerian. Lantai yang berlumur darah mulai terlihat.
Aristia menggeser duduknya mendekat ke arah Samudra. Ia mulai menutupi matanya. Samudra yang melihat itu hanya tersenyum.
Ia tahu Aristia sangat menyukai film horor. Tapi ia tetap tidak mengerti kenapa gadis itu juga ketakutan ketika menonton genre kesukaannya itu.
Samudra memegang kepala Aristia lalu menyenderkan kepala gadis itu di bahunya. Aristia hanya menurut, namun ia tersenyum.
Aristia memegang tangan Samudra. Samudra memandang gadis itu.
"Tangan aku terlalu kecil untuk menutup mata. Jadi pinjem tangannya juga ya."
Samudra tak menjawab, ia membiarkan tangan Aristia masuk ke celah-celah jarinya.
Aristia kini menonton dengan tenang, hanya terkadang ia menutup matanya. Melihat Aristia memejamkan matanya, jantung Samudra berdegup kencang.
__ADS_1
Dasar ******** kamu Samudra. Kamu gak boleh suka. Dia Aristia. Samudra berkata dalam hati, ia menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya. Kini perasaannya sudah mulai tenang.
Tidak terasa sudah sejam lebih film terputar. Film yang mereka tonton sudah selesai. Aristia masih dengan posisinya menggenggam tangan Samudra dengan kepalanya bersandar pada bahu Samudra.
Mereka berdua diam. Aristia yang merasa tersadar, menarik tangannya namun jari Samudra malah menggenggamnya dengan erat.
Tiba-tiba suara pintu seperti di buka terdengar. Aristia mengalihkan kepalanya dari bahu Samudra. Terlihat Lintang sudah masuk.
"Hai, kalian lagi apa?" Tanya Samudra
"Kami habis nonton film Lin." Jawab Samudra
"Dengan berpegangan tangan?" Lintang menyelidik
"Kami nonton horor, Aristia ketakutan jadi aku pegang tangannya."
Samudra melepas genggaman tangannya. Aristia hanya diam.
"Aku mau ikutan dong, tapi tunggu ya aku bersih-bersih dulu."
Lintang pergi ke kamar mandi. Setelah beberapa menit berlalu ia keluar. Wangi jeruk mulai tercium setelah lintang datang.
"Ayo kita menonton. Kita nonton horor lagi ya."
"Oke." Sahut Aristia bersemangat. Ia senang akan berada di tengah.
Lintang mendekati mereka, lalu duduk di antara Aristia dan Samudra. Samudra tidak bergeming dari tempatnya, sementara Aristia sedikit menggeser ke samping.
"Yah, kok Kak Lintang malah di tengah sih. Padahal aku pikir aku yang akan di tengah"
"Kakak juga penakut dek!" Lintang tersenyum
Film mulai terputar dengan kesal Aristia berdiri. Kemudian ia pindah dari tempat duduknya lalu naik ke sofa, yang ada di belakang Samudra dan Lintang. Ia kemudian mengambil bantal kursi, lalu merebahkan tubuhnya.
Ini sangat nyaman, tidak buruk juga pindah pikirnya. Kekesalannya kini mulai hilang.
Lintang berdiri lalu mematikan lampu, suasana menjadi gelap. Aristia tidur miring kedua tangannya di taruh pada bantal. Rasa takutnya kini berubah menjadi rasa kantuk.
Samudra tiba-tiba memegang kepala Aristia dari samping. Gadis itu hanya diam, lalu memegang tangan Samudra yang mengelus kepalanya. Ia bisa merasakan kekhawatiran Samudra padanya.
Aristia merasa senang, namun ia melepaskan tangan Samudra, ia lalu mundur ke arah punggung Samudra.
Ia menyembunyikan wajahnya di situ. Samudra tersenyum dengan perilaku Aristia. Dari balik punggung gadis itu menonton.
Film kedua pun sudah selesai. Lintang kembali menghidupkan lampunya. Suara ponsel Samudra berbunyi.
"Nampaknya kalian akan menginap di sini."
"kenapa?" jawab Lintang
"Gak tahu. Cuma bilang kalian di suruh menginap. Kalian tidak lapar?"
"Masak mie aja yuk." ajak Lintang
__ADS_1
"Oke."
Lintang dan Samudra pergi ke dapur. Aristia memejamkan matanya. Rasa kantuk mulai terasa.