Apa Kabar Cinta

Apa Kabar Cinta
Cinta


__ADS_3

Aristia menghela nafas panjang, ia membaringkan tubuhnya di kasur. Ia memejamkan matanya, setelah beberapa saat ia berbalik dan memeluk gulingnya.


Ia membuka matanya lalu memandang dinding kamar. Sejenak pikirannya mengembara, mengingat kejadian tadi di Sekolah.


"Aku suka kamu!"


Rafa berkata ketika tadi ia pulang latihan tari. Bola mata Aristia sedikit terbelalak, raut wajahnya menampakkan kebingungan. Ia benar-benar gugup mendapat pernyataan cinta dari Rafa.


"Bercandanya gak lucu Fa." timpal Aristia mengatur sedikit ekspresi keterkejutan di wajahnya.


"Aku serius."


Aristia menatap wajah Rafa dengan serius. Di sana terlihat senyum Rafa, ia bisa melihat keseriusan atas perkataan Rafa.


"Kamu gak perlu menjawab sekarang. Aku akan menunggu sampai kamu benar-benar siap."


Belum sempat Aristia menjawab, Rafa sudah melanjutkan perkataannya.


"Dan satu lagi aku gak akan pernah menjauhi mu apa lagi membenci mu karena hal ini. Jadi kamu gak perlu merasa terbebani. Sampai bertemu lagi hari senin."


Kembali ke saat ini. Aristia menggeleng-gelengkan kepalanya, ia benar-benar tidak bisa berkata apa-apa untuk situasi saat ini. Berulang kali ia menghela nafas namun hatinya tetap tidak tentram. Sungguh ia tak menyangka Rafa akan mengungkapkan perasaannya.


-tring tring-


Notifikasi pesan di HP Aristia berbunyi. Aristia mengambil HP lalu melihat pesan grup di aplikasi berwarna hijau itu.


[Kita malam mingguan di mana? aku kesepian.]


[Dasar jomblo!]


[Kamu juga jomblo Put.]


[Tapi aku gak pernah kesepian. 😛]


[Lama-lama kalian berdua jodoh loh!]


[Najis!]


[Apa lagi aku. Gak sudi sama Rudi jelek.]

__ADS_1


Aristia hanya tersenyum membaca pesan-pesan yang terkirim. Ahh sejenak ia berhenti memikirkan Rafa.


Rafa kenapa ia tidak muncul di grup. Biasanya meski hanya satu huruf ia akan memberikan sinyal kehadirannya.


Apa Rafa marah? Tapi aku kan belum menjawab apa-apa. Berhenti mikirin Rafa Tia! ia memukul kepalanya beberapa kali.


Aristia mengetik beberapa kalimat, tapi ia urungkan lagi. Ia menghapus beberapa kata, sungguh ini baru pertama kali baginya kesulitan untuk membalas pesan dari sahabat-sahabatnya itu.


-Tring-


Notifikasi kembali berbunyi. Ia membaca pesan di layar HP nya.


[My Tia ngetik kok lama banget gak selesai.]


Duh, ia berkata dalam hati. Entahlah skrng ia benar-benar bingung mau berkata apa.


[Hi.]


Tulisnya lalu ia kirimkan, dengan segera ia menutup aplikasi dan menaruh HP nya di ranjang. Aristia melihat HP nya, sedetik dua detik tak tahan ia ambil kembali Hp nya.


[My Tia mengetik balasannya cuma Hi?]


[Ada yang aneh?]


Putri bagaimana ia tahu jika ketika tadi ia mengetik dalam keadaan gugup.


Aristia, kamu sudah kenal lama dengan mereka kenapa malah bersikap seolah baru kenal. Kembali Aristia mengetik, namun seketika ia terhenti begitu melihat tulisan Rafa mengetik.


-Deg-


Degup jantung Aristia entah kenapa berdetak lebih kencang. Hatinya berdebar.


Aristia ayolah ini bukan seperti kamu. Rafa teman mu, mungkin kamu terlalu senang karena pertama kalinya mendapat pernyataan cinta. Pikirnya dalam hati.


[My Tia, Rafa kompak banget cuma mengetik tanpa mengirim pesan.]


[Sibuk.]


[Sibuk apa?]

__ADS_1


[Nyuri hati.]


-Deg deg-


Membaca itu Aristia menjadi berdebar. Ia bingung namun pada akhirnya ia tersenyum juga.


[Rafa itu bener kamu?]


[?????]


[Gak lucu!]


[Kamu akhir-akhir ini aneh?]


[Si gunung es mencair?]


[Rafa jangan mencair nanti makin banyak yang patah hati.]


[Hati dia yang mencair.]


[Bucin]


[Rafa serius ini gak lucu.]


Aristia memejamkan matanya ia benar-benar bingung mau membalas apa pada teman-temannya.


Rafa sahabatnya yang dijuluki Si Gunung es beberapa waktu ini memang tampak berbeda. Jauh lebih hangat dari biasanya.


Aristia hanya menatap layar ponselnya. Ia urungkan mengirim pesan. Ia memencet kembali, di layar tampak pesan dari Rafa.


[Kamu baik-baik aja?]


Aristia tersenyum mulanya ia tidak ingin membalas, namun diketik balasan pesan untuk Rafa. Belum sempat terkirim.


[Besok pagi aku menjemput mu.]


[Oke.]


Setelah membalas Aristia baru tersadar dengan situasi yang ia alami. Ingin rasanya ia menghapus kembali pesan yang telah terkirim.

__ADS_1


Terserah! akhirnya Aristia memilih untuk menutup matanya sambil menghela nafas panjang.


__ADS_2