
Aristia membuka matanya, ia melihat Samudra ada didepan TV sedang tidur. Ia tak melihat Lintang.
Aristia bangun dari sofa tempatnya tidur. Ia melangkah perlahan ke dapur. Tadi ia tertidur sebelum sempat makan malam.
Tak ada apa pun di meja. Ia kembali menuju ruang TV dan duduk kembali di sofa. Agak menyesal ia tidur sebelum makan.
Aristia memandang Samudra yang tengah tertidur. Ditatapnya laki-laki itu. Lalu ia tersenyum.
Aristia mengelilingi rumah Samudra, ia berharap rasa laparnya hilang. Aristia masuk ke sebuah kamar yang pintunya terbuka sedikit.
Didalam kamar tidur tersebut ada Lintang. Kamar yang dipakai Lintang adalah kamar Kak Diana, Kakak Samudra. Tapi sekarang sudah menikah, dan akan ditempati jika Kak Diana pulang ke rumah.
Disamping Diana adalah kamar Samudra. Aristia menyentuh gagang pintu, dahulu ia sering masuk ke kamar ini. Tapi sekarang entah kenapa ia merasa canggung.
Gak apa-apa kan ya? aku cuma penasaran aja sekarang bagaimana. Aristia berkata dalam hati.
-Kluk-
Dibukanya juga kamar Samudra. Tampak kamar dengan cat warna putih. Aristia masuk dan di pandanginya kamar Samudra.
Gak banyak yang berubah. Cuma bertambah satu rak buku disana. Rak buku berwarna biru.
Didekatinya rak buku itu, ia menatap rak itu. Banyak album foto disitu. Aristia mengambil salah satunya.
Album foto berwarna biru dan putih dari luarnya ada tempelan bunga-bunga. Cantik. Pikir Aristia.
Aristia membuka album foto itu, terlihat Samudra dengan teman-temannya. Ini foto awal mereka kuliah ya. Terus dibukanya album foto tersebut.
Aristia tersenyum melihat foto Samudra. Ditaruhnya album foto tersebut. Aristia melihat ada beberapa bingkai foto disana.
Bingkai foto itu tidak berdiri seperti biasanya tapi tidur dengan bagian foto dibawah. Aristia membuka bingkai foto itu, foto Lintang dan Samudra berdua memakai seragam SMA.
Kenapa malah ditutup seperti itu. Aristia memposisikan bingkai tersebut dengan benar. Dibukanya kembali satu bingkai yang ada disamping. Tampak foto mereka bertiga.
Foto kelulusannya ketika SMP. Aristia tersenyum, ia mengingat setelah kelulusan SMP tersebutlah ia mengungkapkan perasaannya.
Kamu memang bodoh Aristia. Rutuknya dalam hati. Aristia melirik bingkai foto yang satunya.
Tangannya menyentuh bingkai foto tersebut, bingkai itu tampak lebih besar dari bingkai yang lainnya. Belum sempat ia membuka, sebuah suara Samudra sudah terdengar.
"Hai, ngapain malam-malam begini masuk ke dalam kamar cowok."
"Kakak.... Bikin aku kaget aja!" Aristia memegang dadanya.
"Kamu ngapain di kamar aku?"
"Gak apa-apa aku kelaperan tapi di bawah cuma ada nasi."
"Terus apa hubungannya masuk kamar aku?"
"Gak ada Kak, tadi cuma keliling aja biar gak kerasa laper." Aristia tersenyum lalu ia duduk di kasur.
Samudra masuk, ia duduk di kursi belajarnya.
"Kamu mau tidur di sini?"
"Kenapa?"
"Kamu gak takut?"
"Takut kenapa?"
__ADS_1
"Ini kamar cowok kan?"
"Aku juga kan sudah sering ke kamar ini. Lagian Kakak kan gak tertarik sama aku."
"Terus...."
Samudra mendekat ke arah Aristia. Ia beralih duduk di tepi ranjang tempat Aristia. Di dekatinya gadis itu perlahan-lahan.
Aristia tersenyum, ia malah mendekatkan dirinya ke tubuh Samudra. Melihat itu Samudra kaget dan sedikit memundurkan badannya.
Aristia tertawa. Samudra merasa malu, ia lalu berdeham.
"Kakak lucu banget deh. Mau ngerjain aku tapi malah Kakak yang kaget sendiri."
Darimana kamu tahu aku hanya bercanda. Pikir Samudra. Samudra hanya tersenyum melihat Aristia tertawa. Sungguh aku ingin memeluk tadi.
Karena Samudra hanya merespon dengan senyum, Aristia merasa tidak enak hati.
"Aku keterlaluan ya?"
"Gak kok. Aku cuma suka liat kamu tertawa seperti itu. Kamu lapar? ayo aku buat nasi goreng untuk kamu."
"Oke."
Aristia mengekor Samudra yang pergi ke dapur. Ia duduk memperhatikan Samudra.
Kalo tadi aku gak tiba-tiba mendekat, aku akan semakin deg deg kalo terlalu dekat dengan Kak Samudra. Lagian kenapa sih Kak Samudra bercanda begitu, bikin aku jadi deg deg. Aristia berkata dalam hati.
"Sudah jadi, ini"
Samudra menyerahkan sepiring nasi goreng pada Aristia.
"Makasih Kak."
"Pelan-pelan makannya. Nanti bisa keselek."
Aristia hanya tersenyum. Malam ini ia benar-benar bahagia.
*****
Aristia terus memandangi gelang pemberian Samudra. Ia tersenyum mengingat Samudra.
"Kamu kenapa Tia?" Rafa bertanya karena sedari tadi sahabatnya itu senyum sendiri.
"Gak apa-apa kok. Beneran, sumpah!" jawab Aristia dengan cepat
"My Tia baik-baik aja kan?" Rudi memegang dahi Aristia
"Bener kan gak apa-apa. Aku baik-baik aja kan?" Aristia mengulang kata-katanya
"Putri dan Aswin mana?" tanya Aristia
"Tadi mereka ke ruang guru."
"Kamu gak latihan Rafa?"
"Enggak. Kenapa?"
"Gak apa-apa. Kita makan takoyaki yuk?" ajak Aristia
"Aku ikut aja kemana pun kalian pergi." Rudi berkata dengan semangat
__ADS_1
"Kamu mendengar makanan langsung deh." Rafa melihat Rudi dengan sebal
"Sudah, sudah...." Aristia berkata
"Aku menyusul Putri dan Aswin ya, kalian jangan pergi dulu. Aku akan cepat datang lagi." kata Rudi
Setelah Rudi pergi Aristia dan Rafa menunggu di depan kelas.
"Kamu beli gelang baru?"
"Ini di kasih Kak Samudra. Gimana? bagus kan"
Aristia menunjukkan gelangnya pada Rafa, sambil tersenyum.
"Kamu sudah pacaran dengan Kak Samudra?"
"Enggak kok. Kami cuma berbaikan aja."
"Oh...."
"Cuma oh aja?"
"Terus aku harus ngomong apa?"
"Ngomong apa gitu."
"Aristia...."
"Ya,"
Aristia menunggu Rafa melanjutkan perkataannya. Setelah beberapa menit tak juga ada lanjutan perkataan Rafa.
"Kamu mau ngomong apa tadi?" akhirnya Aristia yang bertanya.
"Aku gak mau ngomong apa-apa." Rafa merasa heran dengan pertanyaan Aristia.
"Jadi kamu cuma manggil nama aku. Gitu?"
"Jadi tadi kamu menunggu untuk melanjutkan perkataan aku gitu ya. Aku cuma manggil aja. Gak bermaksud ngomong lagi."
"Dasar!"
Rafa tertawa, Aristia memukul Rafa berkali-kali.
"Hei kenapa kalian main pukul-pukul?" tiba-tiba Rudi sudah ada di dekat mereka
"Tadi Aristia nunggu aku ngomong sesuatu. Padahal aku gak mau ngomong apa-apa lagi."
"Kamu itu aneh!"
"Ngomong apa emang?" Putri bertanya dengan serius.
"Nunggu aku bilang cinta mungkin." jawab Rafa sambil tertawa.
"Enggak, enggak gitu." Aristia berkata dengan sedikit keras.
Ia kembali hendak memukul Rafa, tapi Rafa sudah berlari menjauh. Aristia mengejar Rafa.
"Dasar seperti anak kecil." Kata Putri
"Tapi Rafa memang suka banget ya ngejahilin Aristia." Kata Rudi
__ADS_1
"Mereka memang begitu kan. Ayuk, kita pergi juga" ajak Putri
Aswin melihat dari belakang Aristia dan Rafa yang sudah berjalan dengan santai di depan mereka. Ia hanya menggelengkan kepalanya.