Apa Kabar Cinta

Apa Kabar Cinta
Hadiah dari Rafa


__ADS_3

Aristia bangun dari tidurnya, ia tersenyum mengingat kembali hari yang kemarin ia lalui.


Ia mengambil ponselnya, membuka galeri lalu membuka album foto. Ia memandang fotonya bersama Samudra tengah berada dibawah sakura.


Semalam setelah Rafa pulang Lintang meminta foto dibawah Sakura karena ia menunjukkan foto yang ia ambil bersama Rafa. Bukan, itu bukan foto Samudra dan Aristia berdua, melainkan ada Lintang juga di dalam foto itu.


Melihat Lintang Aristia pun menggeserkan fotonya. Tampak foto Aristia berdua dengan Rafa.


Aristia bangun dari ranjangnya, ia mengambil kotak kecil berwarna merah yang Rafa beri semalam. Ia hampir lupa jika tidak melihat gambar Rafa tadi.


Dibukanya kotak kecil itu.


Ia tersenyum, matanya berbinar-binar. Ia mengambil sesuatu yang cantik ada didalamnya.


Sebuah kalung berantai perak. Tampak sebuah bandul berbentuk bintang, ditengah bintang tersebut ada leontin.


Leontin yang berbentuk bola kaca kecil yang terbuat dari kristal putih membuatnya semakin cantik. Tapi yang membuat Aristia terpana, didalam bola kaca itu ada butiran-butiran kecil berwarna kuning seperti emas.


Aristia melihat ke arah kaca, lalu ia memasang kalung itu di lehernya. Ia memandang dirinya sendiri didalam kaca. Kalung itu berkelap-kelip terkena cahaya, "Ini benar-benar cantik." batin Aristia


Aristia mengambil Hp-nya. Ia langsung menelpon Rafa. Setelah tersambung ia langsung berkata sebelum sempat Rafa berkata.


"Terimakasih Rafa...." ucap Aristia, "Ini benar-benar cantik! apa ini emas?" Aristia terharu mendapat hadiah itu.


"Dasar bodoh! itu bukan emas, tapi batuan Pyrite."


Mendengar suara Aristia yang berbunga-bunga, Rafa tersenyum mendengar kata-kata Aristia.


Aristia yang mendengar itu, mendadak langsung kesal. Sia-sia rasa haru yang tadi sempat ia tampakkan.


"Kenapa ngasih ini?" Aristia berkata dengan singkat, ia berharap Rafa mengerti bahwa ia sedang kesal


"Kalo gak mau ya dibuang aja."


"Hah!"


Aristia hanya hanya bisa melongo, sebab sambungan telpon sudah terputus setelah Rafa mengatakan itu.


"Dasar Rafa sialan!" umpat Aristia,


ia keluar rumah. Ia merasa kesal, "Wah.... Perasaan macam apa ini? " ia membatin.


Padahal semalam Rafa begitu baik untuk pertama kalinya. Ia mendudukkan tubuhnya di taman samping rumahnya.


"Mau?" sebuah suara terdengar.


Aristia menoleh, terlihat Samudra sedang menyodorkan ice cream coklat padanya. Meski agak gugup diterimanya juga ice itu.


Aristia merasa canggung duduk berdua dengan Rafa. Namun ia senang menerima ice cream, sedikit terobati rasa kesalnya pada Rafa.


"Makasih Kak...."


"Gak apa-apa. Sebenarnya itu untuk Lintang, tapi aku pikir kamu lebih membutuhkannya. Sepertinya Lintang juga belum pulang."


Aristia ternganga. Ya ampun kak! meski ini bukan untuk aku. Harusnya kamu gak usah sejujur itu sama aku. Buat aku tambah kesal aja. Aristia memaki Samudra dalam hati.


Ia membuka bungkus ice cream, ia menggigit dengan perasaan kesal. Ia berulang kali menarik nafas secara perlahan-lahan.


"Pelan-pelan tak usah terburu seperti itu. Nanti aku bisa beli lagi untuk Lintang." balas Samudra sambil tersenyum.


Aristia memandang Samudra dengan lekat. Ia berseru dalam hati. Kamu tersenyum sama aku, tapi senyum kamu gak memiliki perasaan Kak.


Sungguh ingin rasanya ia segera pergi dari tempat ini, tapi tubuhnya seperti ingin berlama-lama. Bersama Samudra.


"Kalung kamu cantik!"


Samudra membuka percakapan karena dari tadi Aristia diam.

__ADS_1


"Iya, makasih Kak. Pantes gak?" jawab Aristia.


Ia tak boleh terlihat kaku, apa lagi jika Samudra sampai tau isi hatinya.


"Iya, itu kalung Pyrite?"


Sebenarnya Samudra sudah sedari tadi ia ingin menanyakan kalung itu. Kalung bintang dengan lionting bola kristal kaca. Didalamnya ada batuan Pyrite tampak bercahaya terkena cahaya matahari.


Samudra menatap wajah Aristia dan kalung itu, keduanya sangat cantik sangat pas di leher Aristia. Tapi Samudra tidak mengatakannya.


Aristia hanya mengangguk.


"Sam..." suara seseorang memanggil.


Aristia tau siapa yang datang.Tentu ia mengenal suara siapa itu. Suara kakaknya Lintang.


"Baru pulang?" tanya Samudra


Lintang sudah mendekat dengan mereka. Lintang tersenyum melihat Aristia dan Samudra.


"Kalian lagi apa?" Lintang tersenyum


"Lagi duduk sore aja kak." Aristia menjawab sekenanya.


Ia merasa was-was jika Lintang sudah datang.


Pahadal aku sendiri yang selalu bilang semua sudah berlalu, tapi kenapa masih aja deg deg begini setiap kak Lintang mendekat. Aristia berkata dalam hati.


"Kalung kamu bagus Tia? kakak baru pertama kali liat."


Lintang melihat leher Aristia dan juga gagang ice cream yang sudah tergeletak di tanah.


"Iya kak, ini hadiah."


"Itu emas?"


"Bukan kak, tapi ini Pyrite. Tadi kak Samudra langsung ta...."


"Tadi kamu mau ngomong apa dek?" tanya Lintang kemudian, kini ia melihat ke arah Aristia.


Aristia yang melihat itu, lidahnya langsung kelu untuk menjawab pertanyaan dari Lintang. Ia terdiam.


"Itu pirit Lintang. Bukan emas."


"Itu dari kamu?"


"Bukan."


"Kakak pasti capek kan? Aku bawain ke dalam ya tas nya?"


Aristia berkata demikian, ia ingin segera pergi dari tempat ini jadi ia memiliki alasan.


"Oke. Ini dek. Nanti kamu keluar lagi ya,sekalian bawain kue yang kakak bikin semalem."


Aristia tersenyum dan mengangguk. Ia melangkahkan kakinya ke dalam. Kenapa aku mengangguk ya tadi. Bodoh! Ia merutuki dirinya sendiri dalam hati.


Aristia keluar membawa kue, dan air minum.


Sekarang Lintang dan Samudra sudah tidak lagi di taman, mereka pindah ke teras rumah. Aristia menaruh makanan dan minuman di meja.


"Makasih adek aku tersayang" balas Lintang, "Sini duduk cobain juga dong. Kita sudah lama ya gak ngobrol begini." ujar Lintang lagi


"Ini kamu yang buat?" kata Samudra


"Iya, itu untuk bazar mata kuliah Kewirausahaan besok. Layak jual enggak?"


"Enak."

__ADS_1


"Makasih...."


Aristia benar-benar seperti bayangan, ia menemani mereka tanpa bisa berkata apa-apa.


Padahal dahulu ia selalu merasa senang jika bisa berlama-lama bercengkrama seperti hari ini. Kini malah Aristia berfikir untuk segera pergi.


Saat suara Hp-nya berdering ia terlonjak bahagia, tanpa sadar ia bangkit. Melihat itu Lintang dan Samudra langsung menatap Aristia.


Aristia yang sadar akan perilakunga, langsung menimpali, "Aku mau ngangkat telpon Putri dulu ya kak."


Ia langsung berjalan ke arah taman samping.


"My Tia masih apa?" tanya Putri.


Kini Putri dan Rudi memanggilnya my Tia. Iya semenjak kejadian liburan akhir pekan beberapa waktu lalu.


"Aku lagi melihat pemandangan."


Ia memandang ke arah Kakaknya Lintang yang sedang tersenyum didepan sana. Keduanya tampak serasi.


"Waahh.... Enak dong! aku juga mau. Aku lagi bad mood. Kamu di mana? aku mau liat pemandangan juga bareng kamu." kata Putri, suaranya terdengar senang dan bersemangat.


"Jangan Put! meski pemandangan disini bagus. Tapi mata aku sakit ngeliatnya, dan mood aku juga malah buruk." Balas Aristia secepat mungkin mendengar perkataan Putri.


"Emang kamu liat pemandangan apa? dimana?"


Putri sangat penasaran dengan perkataan Aristia barusan.


Aristia yang tersadar dengan perkataannya langsung buru-buru bertanya, "Kamu bad mood kenapa?"


"Gak tau kenapa, tiba-tiba menjadi buruk" suara Putri terdengar lemah


"Mana mungkin kamu kesal tanpa ada alasan."


"Entahlah, mungkin aku bosan."


"Coba membaca buku seperti biasanya." Aristia gemas mendengar perkataan itu. Terkadang Putri memang seperti itu.


"Lagi enggak malas-malasan." balas Putri lagi


"Oke. Besok di sekolah aku kasih kamu coklat ya... Gimana?" Aristia membujuk


"Gak mauu...." kata Putri, kemudian ia terdiam. "Tapi tiga ya coklatnya" lanjut Putri setelah menjeda kalimatnya.


"Hahaha, kamu ketahuan banget pengen makan coklat!" jawab Aristia mendengar perkataan Putri.


Kemudian kedua gadis tertawa bersama.


Aristia asik dengan percakapannya, setelah tiga puluh menit berlalu keduanya mengahiri percakapan mereka.


"Sampai jumpa di sekolah besok my Tia."


"Sampai ketemu di sekolah juga Putri."


Aristia menutup telepon dari Putri sambil tersenyum.


Aristia berbalik dilihatnya Samudra sudah ada di dekatnya.


"Astagaaa!" Aristia terkejut melihat Samudra


"Sudah selesai?"


"Sudah Kak.... Sejak kapan kakak disini?"


Aristia ia melihat ke arah teras, dan Lintang sudah tidak ada disana.


"Baru beberapa menit. Lintang sudah masuk ke dalam." Jawab Samudra, karena dilihatnya Aristia tadi menengok ke arah teras.

__ADS_1


"Aku masuk dulu kak." kata Aristia berlalu, ia berlari-lari kecil meninggalkan Samudra.


Samudra melihat Aristia yang berlari kecil, lalu ia pergi melangkahkan kakinya menuju rumahnya.


__ADS_2