Apa Kabar Cinta

Apa Kabar Cinta
Cerita Aristia dan Putri


__ADS_3

Malam semakin larut, Aristia dan Putri berjalan menuju dapur.


Disana di meja makan mereka melihat Ardi kakak Putri sedang mengambil air minum.


Tanpa memperdulikan Aedi, mereka lalu membuka lemari makanan. Mengambil tiga bungkus mie rebus. Sedang Putri mengambil telur empat butir dari lemari pendingin.


"Kalian mau makan mie sebanyak itu di tambah telur juga?"


"iya dong...." Putri menimpali pertanyaan kakaknya


"Gendut nanti!" Ardi berkata dengan senyum yang jahil.


"Gendut itu imut kak...." Aristia membalas perkataan Ardi.


"Terserah kalian deh! pantesan jomblo makannya banyak sih...." kata Ardi tertawa lalupergi meninggalkan mereka.


"Gak ada hubungannya makan banyak sama jomblo kak!"


Putri berkata dengan suara sedikit keras agar terdengar Ardi yang telah berlalu meninggalkan mereka.


Aristia dan Putri kini asik dengan aktivitasnya masing-masing.


Aristia menyalakan kompor lalu merebus air, sedang Putri memecahkan cangkang telur dan menaruhnya di dalam mangkok.


-cis...cis....cis....-


Suara air telah mendidih terdengar. Aristia mendekati kompor lalu memasukkan telur ke dalam air mendidih, tidak berapa kemudian mie juga di masukkan.


"Akhirnya matang juga!" Aristia berkata sambil mematikan kompor, lalu ia menaruh bumbu pada mie rebus dan mengaduknya. Aristia membaginya menjadi dua mangkok.


"Hemm.... Wangi"


Putri mencium mie yang ada di hadapannya, ia mengambil saos dan kecap lalu menuangkan ke dalam mangkok.


"Ayo makan...." Kata Aristia, "Mau kemana?" Aristia berkata ketika dilihat Putri beranjak dari tempat duduknya.


"Mau ambil sosis!"


Putri mengambil dua buah sosis dan menaruh satu pada mangkok Aristia.


"Terimakasih...." Aristia lalu memakan mie dan sosis yang tadi diberi oleh Putri.


"Kenyangnya...." Aristia berkata sambil menyandarkan bahunya di kursi panjang dalam kamar Putri.


Di lihatnya Putri hanya duduk di sampingnya sambil mengangguk.


"Sini HP kamu...." kata Aristia, ia lalu mengambil HP yang di sodorkan Putri padanya.

__ADS_1


"Untuk apa?"


"Taadaa...."


Aristia menunjukkan gantungan HP yang sudah di pasang Aristia.


"Wah bagusnya...." Putri berkata sambil mengambil HP.


Aristia mengambil HP-nya juga, lalu menunjukkan pada Putri.


"Jadi ini sepasang?"


"Lebih tepatnya ada lima...." Aristia menjawab dengan senyuman.


"Padahal aku pikir mau menunjukkannya ama Rudi" kata Putri ia berkata sambil menghela nafas, "Kenapa beli lima?"


"Rafa yang beli waktu festival...." jawab Aristia singkat.


Putri diam sejenak.


"Aku gak pernah inget kita pernah ke festival" Putri memandang Aristia, "Kalian pergi tanpa mengajak kami?"


"Aku, emmm.... Ada kak Lintang dan kak Samudra juga."


Ia bingung menjelaskan pada Putri. Memang selama ini jika akan pergi ke suatu tempat mereka akan pergi bersama.


Aristia menggeleng, ia tak menjawab perkataan Putri.


"Kamu tau cerita beruang putih?" tanya Aristia pada Putri.


"Cerita tentang apa itu?"


"Itu cerita fantasi. Beruang yang memimpikan sebuah persahabatan yang mulia dan manis. Tiba-tiba aku keinget akan cerita itu." kata Aristia ia kini beranjak menuju ranjang dan membaringkan tubuhnya.


"Aku belum pernah cerita atau pun dongeng beruang itu? kamu tau cerita itu dari mana. Tentang apa memang ceritanya?" Putri bertanya lalu ia duduk dekat Aristia.


"Itu cuma cerita fantasi tentang merindukan orang yang tinggal berdekatan." Aristia menjawab Putri


"Ahh.... Jadi maksud kamu kak Samudra masih ada dalam pikiran kamu." kata Putri


"Mungkin...." Aristia menghela nafas


"Kamu baik-baik aja?"


Aristia mengerutkan keningnya, "Pasti aku baik-baik aja. Aku gak sedepresi itu mikirin kak Samudra." Aristia berkata pada Putri sambil tertawa kecil.


"Maksud aku tadi ketika kamu di sekolah. Rudi bilang kamu di ganggu sama kak Riska yang suka Rafa." Putri menjelaskan maksud pertanyaannya

__ADS_1


"Oh. Itu juga baik-baik aja kok. Tadi aku sedikit menakuti mereka." Aristia berkata dengan semangat.


"Serius? Selama ini kamu paling males ribut dan lebih memilih pergi dari pada meladeni mereka."


"Kemarin aku enggak bisa mengelak. Mereka sudah ada di depan pintu kelas. Waktu mereka mau ngedeketin terus aku jatuh, untung Rudi datang." Aristia menjelaskan


Putri tertawa, "Ah.... Seharusnya aku tetap di dalam kelas bersama kamu tadi." kata Putri setelah tawanya mereda.


"Enggak apa-apa, aku bisa mengatasi mereka dengan baik." kelakar Aristia.


"Jadi maksud kamu, kamu gak membutuhin aku?"


"Tentu aku butuh kamu. kamu sahabat terbaik aku." Aristia berkata, Lalu melanjutkan lagi perkataannya "Tapi memang ada juga, saat di mana kita tidak bisa menghindar akan sesuatu seperti ini."


"My Tia.... Tadi aku berencana ngambek dan mau minta coklat sama kamu. Kamu malah jadi serius sih." Putri protes mendengar perkataan Aristia


"ha...ha....ha...."Aristia tertawa mendengar Putri berkata seperti itu, "aku sudah tau akal-akalan kamu. jadi aku gak akan terpengaruh."kata Aristia sambil tersenyum


Putri mendekati Aristia, lalu memandangnya sekejap. Putri menyunggingkan senyum secara tiba-tiba. Aristia merasa heran dengan reaksi Putri. Tidak begitu lama Putri menggelitik Aristia. Aristia sudah tak dapat lagi menghindar.


"Putri.... jangan...."Aristia berusaha pergi karena merasa geli karena Putri menggelitiknya


"kalo begitu coklat dua ya...."kata Putri menghentikan gelitikannya


"oke...oke..."Aristia mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. "kamu curang banget!"Aristia berkata lagi ketika nafasnya mulai beraturan.


"aku gak curang! itu yang namanya usaha...."kata Putri , ia terkekeh.


"usaha dengan menggelitik orang!"kata Aristia, ia tidak membalas Putri karena itu percuma. Putri tidak akan merasa geli seperti dirinya. Bahkan pernah Aristia mencoba menggelitik telapak kaki Putri, namum Putri tidak sedikit pun merasa geli. Malah ia tertawa melihat usaha Aristia yang sia-sia.


"yang penting kan ada usaha, untuk mendapatkannya."elak Putri


"iya deh.... iya deh.... kamu berhasil. Besok aku beliin coklatnya."kata Aristia


"tapi jangan coklat koin ya? itu gak puas kalo di makan"kata Putri lagi.


"oke. Tuan Putri"Kata Aristia.


"ayo kita tidur, hari sudah malam. selamat tidur."kata Putri


"oke."Aristia menarik selimut. Ia memandang Putri yang berbaring di sampingnya.


Sembilan tahun lalu ketika ia sedang menangis karena seseorang mendorongnya ketika bermain di sekolah. Putri datang mengulurkan tangannya, lalu membawanya duduk di taman sekolah. Saat itu Putri adalah murid baru di sekolahnya. Putri menghiburnya dan memberinya coklat.


"kamu bisa memakan coklat itu. Ketika kamu jatuh dan luka seperti ini, cobalah memakannya. Pasti akan merasa lebih baik." Aristia kecil yang mendengar itu, langsung membuka bungkus coklat lalu memakannya. Benar Rasa manis yang meleleh di mulutnya saat itu membuatnya merasa lebih baik.


"jika aku tidak mengosongkan hati, bagaimana aku bisa mendapatkan sesuatu yang baru. Besok aku mau beli coklat juga" Aristia menghela nafas, ia memejamkan matanya lalu perlahan tidur. Ia merasa senang sesat, sampai beberapa saat ia benar-benar lelap dalam tidurnya.

__ADS_1


__ADS_2