Arwah Namasya

Arwah Namasya
Bab 1 ( Menuju Hutan )


__ADS_3

Sebuah bis dengan muatan 10 orang, 9 Mahasiswa dan 1 Supir, menuju Desa Lambusango. Mereka bertujuan melakukan penelitian tugas dari kampus mereka. Mereka adalah



Adit ( ketua kelompok/L)


Rani ( wakil ketua /P)


Dimas ( L )


Eva ( P )


Adrian ( L )


Tania ( P )


Evan ( L )


Serly ( P )


Akbar ( L )


Pak tejo ( sopir mobil/L )



Sekitaran jam 06.00 sore mereka telah memasuki kawasan desa Lambusango, sejuknya udara di kawasan itu membuat mereka nyaman dan senang meneliti di Lambusango tersebut.


" Waaah, udaranya sejuk bangat ! " ucap Tania


" Ia Tan, sejuk bangat " kata Eva


Mereka semua tampak menikmati keindahan alam selama di perjalanan itu, namun belum sampai di perumahan warga, ban mobil mereka tiba- tiba meletus " Bumm "


" Aaaaw " teriak Tania, Eva dan Serly


" Astagfirullah " ucap Dimas dan Rani


" Ada apa ini Pak Tedjo ? "


" Sepertinya ban mobil kita pecah adik-adik ! "


Mereka pun menghembuskan nafas dan mengelus dada, setelah mengetahui penyebab letusan itu, setelah itu mereka turun dari mobil.


" Gais bantu pak tedjo ganti ban mobil ya, aku mau pipis dulu " ujar Adit


" Ok kawan " jawab Cowok-cowok kompak


" Adit " Serly menahan


" Ada apa Ser ? "


" Liat papan pengumuman itu " ujar Serly sambil menunjukannya


Adit menoleh ke arah papan tersebut, lalu membacanya di dalam hati


" Dilarang berhenti disini, berbahaya ! "


" Wallah Ser, hari gini masih percaya begituan, takhayul tau ! ", kemudian Adit pergi


Di depan mata ada pertigaan, namun karena lantaran Adit kebelet, ia memilih jalan yang sudah lama tidak di fungsikan. Ketika ia berbelok di jalan itu, Adit melihat garis polisi line yang sudah lusuh, juga papan peringatan yang telah rapuh


" Dilarang keras memasuki hutan ini ! " bunyi papan peringatan itu


Adit tidak menghiraukan peringatan tersebut, ia malah masuk di dalam dan membuang hajat di sana. Sambil membuang air, adit sambil memperhatikan sekeliling hutan itu, ia tertarik dengan suasana dalam hutan itu


" Hutan ini sangat indah, jika masuk kedalam lagi pasti akan lebih indah, pasti banyak tanaman langka kebutuhan penelitian kami " gumamnya.


Adit kemudian kembali kepada para sahabatnya, namun ketika melewati papan peringatan itu, ia berhenti. Kemudian Adit melirik kanan, kiri dan belakanganya, lalu membuka garis polis line dan papan peringatan itu


" Kalau aku tidak membukanya, pasti teman-teman tidak setuju masuk di dalam hutan ini " gurau Adit


Setelah itu, Adit melempar jauh papan peringatan dan garis line itu .


•°•


" Sudah lega ya Dit ? " tanya Akbar


" Alhamdulillah sudah ! "


" Apa sih isi tas itu Dit, biar pergi buang hajat tidak di lepas ? tanya Adrian dengan nada mengejek


" Ini snack-snack yang di sediain yanti, katanya untuk ngemil di perjalanan "

__ADS_1


Adit mengeluarkan isi tasnya itu, kemudian menawarkan kepada teman-temannya, " makan- makan ".


Kemudian Adit menoleh kearah Serly, ia melihat Serly seakan bingung dan banyak pikiran, ia pun menegurnya


" Kamu kenapa Ser ? "


" Aku tidak apa-apa Dit, cuman kepikiran saja dengan papan larangan ini "


" Waduh Ser, ini hanya keisengan warga saja, tau sendiri kan, anak-anak kampung itu selalu usil ! " ujar Tania


" Tau ini Serly, bodoh bangat " timpal Adit kesal.


Lalu kemudian mereka meneruskan dengan ngemil, sambil gantian membantu Pak Tedjo. Dalam keadaan serius bercanda, Adit tanpa sengaja ia meraba kantong celananya, ia rasa dompet tidak ada.


" Waduh, sepertinya dompet ku tercecer di tempat buang hajat ku tadi ! ", hingga tanpa basa-basi ia langsung pergi kembali ketempat tadi.


<<


Adit mencari dompetnya dengan serius, ia tengok sini, lihat sana


" Waduh, tercecer dimana ya itu dompet ? guraunya.


Cari mencari dompetnya itu, tiba-tiba seorang wanita cantik muncul satu kali di hadapannya


" Astagfirullah " kaget Adit, sambil mengelus-elus dadanya.


Gadis itu tersenyum manis kepada Adit, sambil memperlihatkan dompet Adit ada di tangannya.


" Akang mencari ini ya ?"


" Iya Neng "


Wanita itu memberikan dompet kepadanya, Adit menerima dengan grogi, ia terpesona dengan kecantikan wanita itu.


" Kok Neng sendirian saja di sini ? "


" Aku sedang menunggu teman "


" Memang temannya di mana ? "


" Nih sudah ada, sudah di depan aku "


" Ah kamu ada-ada saja neng "


<<


" Alhamdullilah, selesai juga akhirnya " gurau pak Tejo, kemudian ia memberitahu kepada anak-anak, merekapun bergembira.


Mereka pun tinggal menunggu Adit utuk melanjutkan perjalanan, sambil menunggu mereka sambil bercanda. Tetapi tidak lama kemudian canda itu terhenti, seorang kakek menemui mereka.


" Cucu-cucu mau kemana kalian ? "


" Kami mau ke desa ini kek, mau penelitian " jawab Rani


" Kalau begitu, sebaiknya cepat menuju perkampungan, area sini berbahaya ! "


" Berbahaya ! " heran Dimas


" Maksud kakek apa sih ? " tanya Adrian


" Tidakkah kalian melihat papan larangan, dan coba liat jalanan tua itu, di situ sudah di garis line dan di beri papan peringatan juga "


Tania menyenter arah jalan tua itu, karena waktu sudah mulai malam, tetapi ia tidak melihat garis line dan papan peringatan itu


" Kakek ini bohong, di situ tidak ada kok, garis line dan papan peringatan itu ! " ujar Tania


Sang kakek mendengar itu, langsung ikut menyenternya, ia pun kaget dan bingung ketika melihat papan peringatan dan garis line itu tidak ada.


" Bahaya papan peringatan dan garis line nya telah tidak ada, ini siapa yang membukanya ! " gumam sang kakek


" Cucu-cucu ku percayalah kakek, aku orang sini, tidak mungkin berbohong. Alangkah baiknya kita semua pergi dari sini sekarang ! " ujar kakek itu


" Ia kek, tapi kami lagi menunggu teman. Teman kami lagi pergi mencari dompetnya, tadi jatuh saat buang hajat di dalam hutan itu " ucap Dimas


" Aapa, teman anda masuk buang hajat dalam hutan itu ! " sang kakek kaget


" Ia kek ! "


" Astagfirullah, teman anda sudah dalam bahaya ! "


" Maksud kakek apa sih ? " Ucap Eva sedikit kesal


" Memangnya ada apa dengan hutan itu kek ? tanya Serly dengan lembut

__ADS_1


" Hutan itu mengerikan, hutan itu angker ! "


" Namanya juga hutan, pasti ada angker-angkernya sedikitlah " ujar Adrian meremehkan


" Cucu-cucu ku, aku tidak berbohong, sudah banyak korban dan kejadian yang mengerikan di dalam hutan itu "


" Memangnya kejadian seperti apa itu kek ? " tanya Rani


Kakek itu menghembuskan nafasnya, lalu kemudian bercerita kepada mereka


" Salah satu kejadian yang mengerikannya adalah 5 tahun yang lalu. 5 tahun yang lalu ada seorang Pengusaha Kaya datang mencari anaknya yang berkunjung di hutan ini. Karena anaknya sudah satu minggu lebih selesai dari kegiatan, tidak pulang-pulang, bapak itu membawa 4 orang Polisi dan 3 orang Ustad. Bapak itu membawa Polisi dan Ustad, karena telah mendengar cerita, bahwa hutan ini angker. Setelah di lakukan pencarian, anak pengusaha tersebut di temukan tewas dengan tidak wajar. Tubuh anak pengusaha tersebut pucat tak berdarah lagi, sebagian anggota tubuhnya sudah tidak ada, perutnya bolong tidak ada lagi hatinya. Sementara para sahabat anak itu, mereka tidak di temukan lagi.


Kemudian dalan membawa jasad anak itu, sangat tidak mudah, penuh perjuangan, karena mereka di hadang dan di serang penghuni hutan tersebut "


Serly dan Rani merinding setelah mendengar cerita itu, begitupun Dimas, akan tetapi yang lainnya tidak percaya.


" Bohong, Kakek itu bohong, ia sembarang mengarang cerita "


Sebuah suara mengagetkan mereka, merekapun berbalik ke arah suara itu, ternyata Adit dengan wajah marah.


" Suara Adit kok agak beda ! " gumam Rani


" Betul itu, kakek ini pasti berbohong " timpal Akbar


" Pergi kamu dari sini, tua bangka " usir Adit


" Dit, yang sopan dong sama orang tua, kakek ini niatnya baik, ia tidak mau kita bahaya " ujar Dimas


" Jadi Kamu percaya sama kakek gila ini ! "


" Adit, jaga ucapan mu " bentak Rani


" Intinya saya putuskan, kita akan masuk meneliti dalam hutan itu, titik " ucap Adit dengan emosi


Sang kakek pun hanya diam melihat dan mendengar Adit berbicara.


" Kalau kalian tidak setuju, aku pergi sendirian saja " lanjut Adit


" Adit jangan begitu dong, kita datang bersama, maka harus pergi dan pulang bersama juga " ucap Rani


" Benar kata Rani Dit, tetapi alangkah baiknya jika kita musyawarahkan dulu, juga mempertimbangkan cerita kakek ini. Bukankah kita..... "


" Yang mau ikut dengan saya silahkan, yang tidak mau silahkan pulang " ucap Adit tegas, memotong pembicaraan Dimas, lalu pergi berdiri depan pintu mobil.


" Aku ikut Dit " Ujar Adrian


" Aku juga " Ujar Akbar


" Aku juga " ujar Tania


" Ayolah Dim, Ran. Hari gini kalian masih percaya takhayul, kampungan deh ! " Ujar Eva.


Dengan berat hati Serly terpaksa ikut, begitupun dengan Rani.


" Aku minta maaf ya kek, atas kekasaran bahasa teman- teman aku, aku juga mewakili teman-teman untuk pamit pergi " ujar Dimas


" Cu jangan nekat, kalian akan bahaya ! "


" Dimas, mau ikut atau tidak ? tanya Adit dari jauh dengan marah


Dimas tersenyum pada kakek itu, lalu memberi isyarat minta maaf, lalu hendak pergi. Namun belum sempat pergi, kakek itu menahan tangan Dimas, terus menggerakkan kepala tanda larangan.


" Nak masih banyak tempat lain di daerah Lambusango ini, selain hutan itu ! "


" Sekali lagi aku minta maaf kek, tapi teman-teman aku sudah sepakat untuk meneliti di hutan itu, doakan kami saja kek, semoga kami tidak kenapa-kenapa di sana " ucap Dimas lalu melepaskan tangan kakek itu


" Tetapi nak laki- laki pemarah itu bukan manusia lagi "


" Maksud Kakek ? " Dimas kaget


" Dimas aku tanya sekali lagi, kamu mau ikut atau tidak " teriak Adit lebih keras lagi


" Ikut Dit "


" Maaf Kek, aku harus pergi " ujar Dimas


Kakek itu tetap menahan Dimas


" Sepertinya aku tidak bisa menahan kalian lagi, tetapi satu hal ingat baik- baik pesanku ini. Jika kalian mengalami hambatan atau hal yang aneh jangan kebawa panik, gunakan akal sehat kalian. sebaiknya kalian jangan pisah dengan Al-Qur'an dan cermin "


" Dim ayolah, Adit sudah geram bangat tuh " ujar Rani yang datang susul Dimas


" Kami pergi dulu ya kek " Izin Rani

__ADS_1


" Hati-hati kalian, dia adalah Namasya " Bisik Kakek itu.


__ADS_2