
Serly berjalan sangat cepat dengan tidak mengenal lelah, hingga tidak jauh lagi ia akan mencapai perbatasan. Namun sebelum mencapai perbatasan ia mendengar suara dengan nada halus memanggil namanya, " Serly, Serly ".
Serly berhenti satu kali, lalu menoleh kanan kiri dan berbalik belakang mencari suara itu, Namun ia tidak melihat siapa-siapa. Serly kemudian teringat pesan Dimas, ia pun langsung mempercepat langkah perginya.
" Hi hi hi hi hi hi " Suara seram menakuti langkah Serly, Serly berlari dengan cepat sambil menoleh di belakang. Ketika ia berbalik kembali ke depan, Namasya muncul tiba-tiba di hadapannya " Akhhh " Serly kaget hingga ter mundurkan
" Mau kemana kamu Ser, jangan pikir kamu akan bisa keluar dari hutan ini ? "
" Minggir kau wanita iblis, jangan halangi jalanku "
" khi khi khi khi !. Tidak ada satupun yang bisa keluar di hutan ini, semua akan jadi santapanku "
Muka Namasya berubah menjadi seram, mata melotot dan lidah menjulur keluar, kemudian melambangkan tangannya menyerang Serly. Serly mundur ke belakang menghindari tangan Namasya itu, namun ia tetap tergapai.
Namasya mencekik leher Serly, Serly gercep mengambil cermin di tasnya lalu menyodorkan ke wajah namasya. Namasya pun akhirnya menghilang.
Serly menoleh samping kanan, kiri dan belakangnya, ia sudah tidak melihat lagi Namasya. Serly pun langsung berlari pergi.
Ketika Serly berlari Namasya tiba-tiba mencekik lehernya dari belakang, Kemudian mengangkat Serly ke atas dengan cekikan nya itu. Serly pun tercekik hingga hampir tidak bisa bernapas lagi. Serly menjulurkan kembali cermin ke wajah Namasya, Namasya pun menghilang lagi.
Serly terjatuh kan ketanah, namun setelah itu ia langsung berdiri cepat. Ketika akan melangkah lari Namasya kembali mencekik lehernya.
" Kamu tidak mudah menyerah, darahmu sangat segar dan Nikmat "
Kemudian ia menjulurkan lidahnya ke leher Namasya.
Sekuat tenaga Serly kembali mengangkat cermin nya, hingga ia bisa menyodorkannya lagi di wajah Namasya, Namasya menghilang lagi.
Serly tidak lagi menurunkan cermin dari tangannya, ia terus menjulurkan kedepannya. Akan tetapi Namasya tiba-tiba muncul dari sampingnya, kemudian memukul tangannya hingga cermin nya jatuh terhempas ketanah.
Namasya gercep mencekik leher Serly, lalu membalikan tubuhnya berhadapan langsung dengannya. Serly memukul-mukul tangan Namasya, Namasya tidak merasakan apa-apa
Namasya mencakar wajah Serly beberapa kali, setelah itu menusuk perutnya dengan cakarnya. Serly tidak bisa berbuat apa-apa lagi, dirinya sudah makin lemah, ia hanya bisa pasrah ketika merasakan perutnya di koyak-koyak Namasya.
__ADS_1
Serly kemudian teringat lagi apa yang di katakan Dimas untuk selalu menggunakan akal sehat saat kewalahan. Serly cepat mengangkat tangannya lalu menusuk mata Namasya, hingga menekan secara kuat.
Namasya merasa kesakitan, ia melepas cakarnya dari perut Serly, lalu membuang Serly. Serly pun terlempar kan hingga terbentur ke pohon dengan kuat. " Akhh " Serly merintih kesakitan.
Sekuat tenaga Serly bangkit berdiri, lalu bergegas lari. Dari jauh Namasya menjulurkan tangannya, lalu menarik kaki Serly. Kemudian Namasya menyeret tubuh Serly ke tanah Sambil tertawa seram " Khi khi khi khi "
Namasya menyeret tubuh Serly di tanah yang berbatu, hingga membuat Serly makin terluka dan menjerit kesakitan. Kali ini Serly benar-benar sudah putus asa dan pasrah, tidak ada lagi yang bisa di lakukan nya.
" Dim Ran, tolong aku " keluh Serly.
Serly yang sudah putus asa tiba-tiba merasakan sesuatu di balik tas slempang nya, Serly kemudian teringat bahwa itu adalah Al-Qur'an. Sekuat tenaga ia mengambil tas yang di tindih nya itu, namun belum sempat bisa mengambil, tas itu putus hingga terlepas di badannya. Dengan tangkas Serly menangkap tas itu, lalu kemudian gercep mengambil Al-Qur'an di dalamnya.
Serly gesit membuka lapisan kain Al-Qur'an itu, kemudian membuka lembarannya. Serly teriak memanggil Namasya, Namasya". Namasya pun menoleh kearah Serly, Serly langsung menyodorkan Al-Qur'an itu ke arah wajah Namasya, Namasya menjerit kepanasan " akhhhhh ", kemudian menghilang.
Serly cepat berdiri, namun dari jauh ia melihat Namaysa terbang menuju lagi dirinya. Serly menyodorkan kembali Al-Qur'an kepada Namasya, Namasya pun tidak bisa mendekatinya.
Serly tidak mau lagi menyimpan Al-Qur'an nya di dalam tas, ia berlari sambil memeluk Al-Qur'an . Tinggal beberapa langkah Serly mencapai gerbang pembatas, tiba-tiba ia mendengar suara meminta tolong. " Ser tolong aku Ser, tolong aku " suara itu sambil menangis.
Serly menoleh kebelakang nya, ia melihat Rani bersimbah darah melangkah dengan lemah, hingga jatuh lemas ketanah . " Rani ", Serly langsung berlari menghampirinya.
Setelah itu Serly kembali pada Rani, lalu mengambil tubuhnya, terus merangkulnya.
" Ran ayo cepat kita keluar dari sini " gurau Serly
Dengan tubuh yang lemah Serly berusaha membawa Rani keluar hutan itu. Namun tidak lama kemudian ia merasakan tubuh Rani berat, hingga ia tak bisa berjalan.
Serly menoleh ke arah wajah Rani, ternyata yang ia rangkul adalah Namasya. Serly berteriak " akhh " lalu melepaskan rangkulannya, akan tetapi ia tidak bisa melepaskan lagi.
Namasya mendekap tubuh Serly sekeras, lalu membekuk tangannya. Kemudian tanpa basa -basi Namasya langsung mengigit leher Serly untuk mengisap darahnya.
Kali ini Serly sudah tidak bisa melawan, senjata untuk menolongnya tidak ada lagi. " Ya Allah tolonglah hamba mu yang penuh dosa ini, sesungguhnya tidak ada tempat meminta selain kepada engkau dan hanya engkau pula maha penolong" , Serly berdoa dalam hati.
Serly semakin lama wajahnya semakin pucat, darahnya sudah banyak keluar di hisap Namasya. Namun tidak lama kemudian tiba-tiba kakek itu hari muncul menolongnya
__ADS_1
" Namasya hentikan " ujar kakek itu sambil menyodorkan Al-Qur'an kearah nya
Namasya menoleh ke arah kakek itu " akhhh " Namasya menjerit kepanasan. Namasya menghilang lagi, Serly jatuh tergeletak di tanah.
Kakek itu gercep pergi mengambil Al-Qur'an Serly, lalu menghampirinya, kemudian membantu Serly berdiri
" Nih Al-Qur'an kau " ujar sang kakek sambil menyodorkan
" Terimakasih kek "
" Mari kita keluar dari wilayah hutan ini, Usahakan Al-Qur'an mu terus kau peluk "
Sang kakek merangkul Serly, Mereka berjalan keluar perbatasan hutan.
Namasya masih menggangu Serly, ia mempengaruhi telinga Serly dengan memperdengarkan suara teman-temannya.
" Serly tolong aku " Suara Rani
" Serly tolong " suara Tania
" Tolong Ser " Suara Akbar
" Tolong " Suara Dimas
Serly berhenti, lalu menoleh kebelakang.
" Kenapa Nak ? "
" Teman-teman aku dalam bahaya, mereka membutuhkan bantuanku "
" Itu hanya tipu daya Namasya, sebaiknya abaikan saja apa yang kamu dengar atau lihat "
Serly mengingat lagi pesan Dimas, lalu menutup telinganya. Sambil berjalan ia sambil menutup telinga, hingga beberapa saat kemudian mereka tiba di kampung Lambusango.
__ADS_1
" Sebaiknya neng ke rumah saya dulu, obati luka dan istrahat di sana"
Serly menganggukkan kepalanya.