Arwah Namasya

Arwah Namasya
Bab 14 ( Kepanikan )


__ADS_3

Dimas berlari menuju arah Utara untuk menemui Rani dan Serly. Namun meskipun sudah jauh berlari, Ia tidak menemukan mereka


" Apa iya mereka berjalan terlalu jauh, atau jangan-jangan mereka juga di hadang oleh hantu Namasya ! " pikir Dimas sambil beristirahat sejenak.


Sementara istirahat, Dimas mendengar suara orang berbicara sambil menangis " Ser bangun Ser, aku takut sendirian, huhuuuu ".


Dimas memperjelas suara itu. " Sepertinya itu suara Rani deh " gumamnya, kemudian Ia mencari arah suara itu. Tidak lama kemudian ia melihat Rani sedang menangisi Serly yang sedang pingsan.


" Ran, Serly kenapa ? ". Rani Melihat Dimas datang, langsung berdiri memeluknya. " Dim, aku sangat takut " sambil menangis.


" Tenang Ran, tenang. Kita sudah dalam bahaya, kepanikan hanya menambah beban saja " hibur Dimas sambil mengelus- ngelus belakang Rani.


" Serly dari tadi pingsan, aku tidak tau apa penyebabnya " ujar Rani sambil melepaskan pelukannya, lalu kembali menghampiri Serly


Rani mengangkat kepala Serly, lalu membaringkan di pelukannya. Sementara Dimas mengambil minyak angin di tasnya, lalu mencium kan kepada Serly.


Serly membuka pelan-pelan matanya, ketika melihat Rani dan Dimas ia langsung bangun memeluk Rani, badannya gemetar sembari menangis.


" Kamu kenapa Ser ? " tanya Dimas


" Dim kita harus segera pergi dari sini. Kita sudah dalam bahaya "


" Ia aku tau, tapi kenapa kamu tiba-tiba panik bangat seperti ini "


" Dim, Ran " sambil menatap mereka. " Adit, Pak Tejo dan Adrian ada di kamar yang selama ini di pakai Adit, tubuh mereka di gantung, mereka tinggal badan. Kaki, paha dan tangan mereka sudah tidak ada, bahkan perut mereka bolong "


" Apa Ser ? " kaget Rani


" Tau dari mana kamu Ser ? " tanya Dimas.


Serly pun menceritakan kejadian yang di alaminya.


" Dim, Rani, mari kita pergi dari sini sekarang ? "


" Tenang Ser, tenang " ujar Dimas


" Apa yang harus di tenangkan Dim, secara jelas-jelas bahaya sudah ada di depan mata kita "


" Ser aku di sini karena Namasya, aku berlari dari kejarannya. Bahkan kali ini menampakkan wujud seramnya kepada aku, kemudian dia menyerang aku, dia mencekik leherku "


" Justru itu, maka kita harus segera pergi dari sini " ujar Serly.


" Maksudku aku Ser, tidak mudah kita keluar begitu saja dari hutan ini. Namasya tidak akan membiarkan kita, ia sangat dendam " ujar Dimas


" Maksud kamu apa Dim ? " tanya Rani


Kemudian Dimas menceritakan apa yang di alaminya tadi. Hingga membuat Rani dan Serly semakin takut


" Berarti wanita seram di sungai tadi, adalah hantu Namasya " ujar Rani setelah mendengar cerita Dimas.


" Maka dari itu Ran, Ser, Namasya sudah menguasai hutan ini, susah sekali untuk kita bisa keluar dengan selamat "


" Lalu kita harus bagaimana ? tanya Rani

__ADS_1


" Kita harus mengikuti pesan kakek itempo hari, hanya itu satu-satu cara yang bisa membantu, saya sudah membuktikannya barusan. Akal sehat, cermin, terutama Al-Qur'an bisa membuat Namasya pergi atau menjauh dari kita "


Rani mengangguk kan kepalanya. " Kalau begitu kita harus kembali pada rencana awal " ujar Rani.


" Bagaimana Ser, apa kamu masih bisa melakukannya ? " tanya Dimas. Serly mengangguk kan kepalanya, meskipun berat hati.


" Kalau begitu, mari kita kembali ke rumah itu " ajak Dimas, kemudian mereka pun pergi.


°•°


Tiba di halaman Rumah mereka bertemu dengan Akbar dan Tania


" Tan, Akbar ! " sapa Rani


Tania langsung berlari memeluk Rani.


" Ran ayo kita pergi dari sini, hutan ini keramat "


Rani, Dimas dan Akbar bertatapan.


" Maksud kamu apa Tan ? " tanya Dimas berpura-pura.


Tania pun menceritakan kejadian yang di alaminya.


" Walah Tan, aku yakin tadi itu kamu salah dengar suara, kemudian kamu jadi parno, sebab berjalan sendirian di hutan yang begitu lebat " ujar Akbar


" Demi Allah kbar, aku serius. Telingaku masih normal mendengar, mataku masih jernih melihat "


" Buktinya aku tidak alami apa-apa, santai saja. Adit juga begitu, saat tadi ketemu dia, ia tidak cerita apa-apa. Bahkan Adit malah pergi lagi keliling hutan ini "


" Ia Adit " tanggap Akbar


" Kok kalian kaget mendengar nama Adit ? " tanya Tania yang heran dengan mimik Dimas, Serly dan Rani.


" Tidak kok Tan, kami bertiga capek sekali mencari Adit dari tadi, tapi tidak ketemu - ketemu. Eh ternyata Akbar ketemu dengannya " jawab Dimas beralasan.


" Tau sendiri kan itu Adit kayak hantu, menghilang pergi kemana saja yang ia mau, tanpa pamit " ujar Akbar.


" Ran aku capek, aku mau istirahat " ujar Tania.


" Ya sudah kita masuk ke dalam dulu, Akbar, Dim tolong angkat kan tas kami " ucap Rani.


Kemudian Dimas dan Akbar mengangkat semua tas yang ada di luar, Dimas panik ketika melihat tas Evan dan Eva.


" Astaga Eva dan Evan ternyata belum balik " gumamnya, lalu kemudian ia berlari ke dalam


" Ran memangnya Eva dan Evan meneliti nya ke arah mana ? tanya Dimas


" Astagfirullah, Evan dan Eva hampir terlupakan " ucap Rani


" Mereka jalurnya ke arah barat Dim " jawab Akbar


" Sudah mau hampir magrib mereka belum pulang ya " ujar Dimas

__ADS_1


" Jangan- jangan " Serly menghentikan bicaranya


" jangan-jangan apa Ser ? tanya Akbar


" Jangan-jangan mereka kesasar " Serly merubah kalimat ucapannya


" Semoga hanya kesasar, tidak di hadang oleh binatang buas " ujar Dimas merubah kalimat ucapannya


" Aamiin " ucap semuanya


<<


" Ran aku takut sendirian " ujar Tania.


" Ya sudah kita bertiga saja di kamar aku dan Serly "


" Ran aku juga takut, sebaiknya kita semua tidur di kamar Dimas dan Akbar " ujar Serly.


" Kalian pada kenapa sih ? " ujar Akbar.


" Akbar sudahlah, biarkanlah saja mereka ke kamar kita " ucap Dimas.


" Bukan soal kamar Dim, tapi aku heran saja kenapa pada takut. Ni ni Tania kenapa tiba-tiba takut begini, padahal kemarin-kemarin sama sekali tidak ada rasa takut-takutnya " ujar Akbar


" Kbar bukan nya Tania sudah bercerita kepadamu tadi ! " ucap Rani


" Iya tau Ran, tapikan itu cuma halusinasi saja " ujar Akbar


" Sudahlah Akbar, namanya juga cewek " ujar Dimas


" Ya sudah, ayok kalian ke kamar aku dan Dimas " ucap Akbar.


<<


Tiba di kamar mereka cemas dengan keadaan Evan dan Eva.


" Semoga Eva dan Evan baik-baik saja " ujar Rani


" Sebaiknya kita harus pergi mencari mereka " ucap Akbar


" Tapi ini sudah masuk malam Kbar " ucap Serly


" Justru itulah hingga kita perlu pergi mencari mereka "


" Sabar Kbar, jika mereka tidak pulang malam ini, maka sebaiknya nanti besok baru kita mencari " usul Dimas


" Apa kalian mau tunggu nasib mereka seperti Adrian dan Pak Tejo " ujar Akbar


" Justru itu yang aku khawatirkan Kbar. Jika kita keluar mencari mereka malam ini, aku takut kita semua akan mengalami nasib seperti Adrian dan Pak Tejo. Bagaimanapun keduanya menghilang di kala malam " jelas Dimas.


Akbar pun terdiam kan.


" Besok kita harus mencari mereka bersamaan, kita semua tidak boleh terpisahkan lagi " ujar Rani

__ADS_1


" Lalu bagaimana jika kita tidak menemukan mereka ? " tanya Tania


" Maka seperti Rencana awal, kita segera pulang, lalu memberitahu orang tua mereka masing-masing "


__ADS_2