
Serly dan kakek itu kemudian tiba di rumah sang kakek. Sang kakek mempersilahkan Serly masuk, Serly melangkah dengan begitu lemah, hingga membuat sang kakek kasihan.
" Sebaiknya kamu istirahat dulu, lalu kemudian sembuhkan dulu luka-lukamu "
" Tidak kek, aku harus segera mencari bantuan, agar teman-teman aku bisa selamat dari hutan itu "
" Kamu masih lemah nak, lukamu sangat parah"
" Insya Allah aku masih kuat kek "
Kakek itu hanya tersenyum menggeleng-geleng kan kepalanya atas keras kepalanya Serly. Namun kakek itu memuji rasa persahabatan Serly
" Kesetiakawanan mu sangat tinggi, tapi apakah kamu yakin akan masuk kembali di hutan itu ? "
" Iya kek, aku ingin mencari bantuan secepatnya. Namasya pasti akan makin ganas kepada mereka dengan terlepasnya aku dari hutan itu "
" Kalau begitu bersihkan dulu darah luka wajahmu, lalu kita menemui Ustad Arman, semoga beliau bersedia membantu "
Serly menganggukkan kepala, lalu menanyakan kamar mandi. Sang kakek mengintruksikan kepada Serly agar juga membersihkan luka perutnya dan memberi perban, agar darah tidak mengalir terus.
Kemudian sesudah itu, mereka pergi menemui Ustad Arman. Sambil berjalan Serly melempar beberapa pertanyaan kepada sang kakek
" Nama kakek sebenarnya siapa ? "
" Orang-orang memanggil aku kakek Fial "
" Kakek tinggal sendiri ya di rumah itu ? "
" Iya. Sudah berpuluh-puluh tahun kakek hidup sendiri "
" Mmm maaf kek, kalau boleh tau anak istri kakek di mana?
" Istri dan anak-anak saya sudah lama meninggal, begitupun keluarga saya yang lain. Mereka semua di bunuh oleh Namasya "
" A apa ! . Jadi keluarga kakek juga korban dari Namasya? "
" iya "
" Jadi kakek dan keluarganya pernah juga kehutan itu? "
" Dulu hutan itu adalah sebuah desa, Aku dan anak istriku termaksud penduduk desa itu. Tetapi karena hantu Namasya yang ganas banyak penduduk meninggal dunia dan pindah tempat. Itu pun orang-orany yang pindah harus melewati tantangan, Namasya menghadang mereka "
" O oh Jadi begitu . Terus hantu Namasya itu dari mana asalnya kek ? "
Sang Kakek menghembuskan nafas, lalu menceritakannya kepada Serly
Sebenarnya di hutan itulah desa Lambusango sesungguhnya. Di situ Lambusango sangat indah, asri, sejuk, namun masyarakatnya kurang asupan ilmu agama.
Di dalam desa itu ada sebuah gadis yang hidup bersama neneknya, mereka hidup apa adanya tetapi selalu bahagia. Gadis itu sangat cantik, lembut namun polos, ia selalu di gadang-gadang sebagi kembang desa. Banyak pria yang mengejar-ngejarnya, sehingga tak heran banyak gadis-gadis lain yang iri dengannya. Saat itu Namasya masih umur belasan tahun, ia tidak tahu apa yang namanya cinta , ia hanya tahu pekerjaan rumah dan ibadah. Tiap sesudah sholat subuh, kita selau sudah mendengar lantunan suaranya lewat membaca Al-Qur'an, setiap sore ia belajar mengaji di rumah kakek Fial.
Hingga pada akhirnya datanglah seorang pemuda dari kota, namanya Irwan. Irwan ini adalah kemenakan dari pak Tedi juragan tanah di desa kami, yang tak punya keturunan. Irwan di panggil pak Tedi untuk di tunangan kan dengan Ranti, anak pak ramli kades desa kami saat itu.
Pak Ramli ini selain kades juga memiliki sawah berhektar-hektar, juga memiliki banyak tanaman lain yang menghasilkan. Itulah kenapa akhirnya Irwan mau bertunangan dengan ranti anak kepala desa itu.
Besoknya Irwan berjalan keliling desa kami bersama sahabatnya yang juga datang dari kota, Namanya adalah Ian. Ketika berkeliling itu
Irwan melihat seorang gadis di balik jendela kamarnya, gadis itu sedang bercermin sambil senyum melihat wajahnya di kaca. Irwan langsung jatuh hati kepada wanita itu, begitupun dengan ian.
Irwan tidak peduli kalau dia akan di tunang kan dengan Ranti, ia tetap pergi mendekati Namasya
" Ian gadis itu cantik bangat, samperin yuk?
__ADS_1
" E eh Wan ingat kau !, Kau itu sudah punya tunangan, jadi yang ini bagian saya ? "
" Ah bacot kau, pokoknya jangan bahas pertunangan di depan cewek itu "
" Ah tanpa aku ngomong pun pasti beredar kok kabarnya "
" Pertunangan kami itu masih khusus keluarga yang tahu dan tidak di besar-besar kan, jadi aman "
" Ia tahu, tapi jangan serakah dong bro "
Irwan tak peduli dengan ian, ia langsung meninggalkan nya pergi menghampiri Namasya.
Namasya yang lagi asik memperhatikan wajahnya, tiba-tiba mendengar suara
" Hai neng "
Namasya menoleh ke arah suara itu , " kamu siapa? "
" Kenalin aku Irwan, kemenakan pak Tedi "
" Aku baru liat kau "
" iyalah, aku kan baru datang ke sini " dengan gaya genit
" Oh, saya Namasya "
" Asli sini ya ? "
" iya kang "
" Wah kirain tadi asli mana neng, kok cantik bangat " Irwan mulai merayu
Namasya menunduk sambil tersipu malu, kemudian muncul ian
" Oh iya, saya Namasya. Memang kalian ke kampung ini ngapain? "
" mmmm "
" Jalan- jalan saja kok, refreshing gitu " ujar Irwan memotong cepat ucapan Ian
" O o oh "
Setelah perkenalan itu Irwan dan adrian masing-masing mendekati Namasya, beberapa kali Namasya menolak mereka
" Aku minta maaf kang aku tidak bisa pacaran, aku menunggu laki-laki yang serius melamar aku. Tapi belum sekarang, karena aku masih kecil, aku masih 17 tahun " itulah alasan Namasya yang selalu di ucapkan dalam menolak mereka.
Namun karena Irwan sangat pandai merayu, pada akhirnya Namasya jatuh cinta juga pada Irwan, hingga akhirnya mereka berpacaran. Ian sangat kecewa mengetahui hal itu, namun tidak bisa berbuat apa selain diam, sebab ia mendapat ancaman Irwan.
Selama pacaran Irwan selalu berniat menyentuh namasya, namun namasya menolak. Trik demi trik Irwan selau berusaha, hingga akhirnya di malam itu ia menemukan ide
" Neng besok akang mau balik ke kota " sambil menatap mata Namasya
" Jadi kakang mau tinggalkan saya ? "
" Tidak mungkin aku meninggalkan mu sayang, aku akan balik lagi kok. Aku ke kota utuk kerja, biar dapat uang dan menikahi kamu nanti "
Namasya senyum kegirangan, perasaanya terharu.
" Tapi neng, akang takut "
" Akang takut kenapa ? "
__ADS_1
" Aku takut jika aku pergi nanti, tiba-tiba kamu akan menikah dengan laki- laki lain, secara banyak laki-laki yang mengejar-ngejar kamu di disini"
" Tidak kok kang, saya akan tetap menunggu kakang "
" Buktinya "
" Kang mau bukti apa? "
" Jika memang kamu mau menunggu saya ,malam ini aku mau kita melakukan sesuatu, sebagai ikatan ku padamu "
" Apa itu "
Irwan menatap penuh Namasya, lalu mengecup bibirnya
" Jangan kang ", Namasya menolak
" Jika kamu sayang aku dan mau menungguku, maka malam ini kamu akan memberikan tubuhmu, sebagai ikatan kesetiaan kita. Tetapi jika kamu menolak ini terakhir aku menginjak desa ini, juga terakhir melihat kamu "
Namasya yang sudah terlanjur jatuh cinta pada Irwan, tidak mau kehilangan Irwan. Akhirnya Namasya mengiyakan kemauan Irwan.
Setelah berhubungan dengan Irwan Namasya yang merasa dirinya kotor, ia selalu menangis dan menangis dalam beberapa hari. Akan tetapi jika mengingat janji manis Irwan tangisannya selalu berubah senyum.
Nenek Namasya bingung melihat tingkah cucunya beberapa hari itu, sangat aneh menurutnya. Hingga pada akhirnya sang nenek menegurnya
" Ndo o, ada apa kamu akhir-akhir ini. kamu terkadang selalu murung, diam tetapi kadang kamu senyum- senyum sendiri "
" Aku tidak apa- apa ko nek "
" Ndo sejak kapan kamu belajar bohong, matamu bengkak, kamu selalu menangis "
Akhirnya Namasya menceritakan apa yang terjadi padanya, namun belum sempat menyebutkan nama laki-lakinya sang nenek menampar Namasya
" Ndo dosa apa yang kamu lakukan. Selama ini nenek ajarkan kamu ilmu agama, agar kamu bisa kuat iman, namun akhirnya sia-sia. Nenek kan sudah bilang jangan pernah pacaran kecuali langsung menikah "
Sambil menangis Namasya memohon maaf pada neneknya.
" Nek aku minta maaf "
" Bagaimana kalau laki-laki tidak bertanggung jawab, hancurlah hidup mu ndo ! "
" Nenek tenang aja, pacar saya sudah janji akan datang kembali untuk bertanggung jawab, ia masih balik kota untuk mencari uang pernikahan kami "
" Memangnya laki-laki itu siapa ndo? "
" Irwan nek, kemenakan Pak Tedi yang dari kota itu "
" A apa, Irwan kemenakan pak Tedi itu ! " sang nenek kaget
" Nenek tahu dia ? "
Sambil menangis sang nenek memegang bahu Namasya, sembari menatapnya
" Ndo kamu sudah melakukan kesalahan besar, Irwan itu datang kesini karena di tunang kan dengan Ranti anak kepala desa "
" A apa ? " Namasya kaget
" Irwan itu tidak ke kota Ndo, dia masih di rumah pak Tedi, kamu di bohongi sama dia nak "
Namasya langsung berdiri pergi, ia pergi mencari Irwan.
" Ndo mau kemana ? "
__ADS_1
Namasya tidak menghiraukan neneknya.