
Ketika berjalan mencari Adrian, Serly melihat Pak Tejo berada di pohon sebelah kirinya. Pak Tejo senyum kepada Serly. Tidak lama kemudian Pak Tejo menghilang. Serly kemudian mengusap- ngusap matanya, lalu melihat kembali kearah Pak Tejo tadi, tetapi Pak Tejo benar-benar tidak ada lagi.
Setelah itu Serly menoleh kearah kanannya, ia melihat Adrian berdiri di sebuah pohon. Adrian juga memberi senyum pada Serly. Tidak lama kemudian Adrian juga menghilang, Serly kaget.
Serly kemudian menoleh kebelakang nya, ia melihat Adit menatapnya sambil senyum padanya. Serly membalas senyum kepada Adit. Tidak lama kemudian Adit berubah pucat pasi, tubuhnya kering, dan perut bolong. Serly berteriak histeris
" Akhhhhhhhhh "
Serly menceritakan apa yang di alaminya kepada Rani dan Eva.
" Itulah Ser, kamu selalu berpikiran negatif. Akhirnya halusinasi mu muncul terus " ujar Eva.
" Va, Serly lagi lemas. Tidak usah marah-marah lagi " ujar Rani.
" Ran, Ser, Va makan malam sudah siap tuh " panggil Tania dari luar.
" Oke Tan " jawab Rani.
Eva langsung keluar, sementara Rani masih bersama Serly di kamar.
" Ran aku tidak ikut, aku masih lemas "
Rani meninggal Serly sendiri di kamar. Seperginya Rani, Serly memperhatikan ruang kamarnya, hingga ia menjadi takut lagi.
" Ran tunggu, aku ikut "
<<
" Serly cerita tidak, sebab ia teriak histeris hingga pingsan tadi "
" Tau Sendiri kan dia, dari awal hingga sampai kesini. Pikirannya selalu negatif terus, akhirnya berhalusinasi terus "
" Memang kenapa sih ? "
" Katanya ia melihat Pak Tejo dan Adrian di balik pohon senyum kepadanya, lalu mereka menghilang. Terus ia melihat Adit, tapi Adit tiba-tiba menjadi hantu. Mukanya pucat, kurus kering dan perutnya bolong "
" Hahahaha, lucu bangat ya si Serly "
" Dit sejak kapan kamu jadi hantu " ucap Tania menanyai Adit sambil tertawa. Adit hanya tersenyum kepada mereka. Sementara Akbar dan Evan ikut tertawa.
Rani dan Serly tiba di dapur. Serly melihat Adit hanya tunduk, ia tidak berani menatap Adit.
" Adit benar-benar sangat pucat, dan kurus sekarang. Sungguh menakutkan " Gumam Rani
" Sut sut, liat tu Serly tidak mau menatap Adit " ujar Eva
" Ya udah biarin saja, malas urus dia " jawab Tania.
<<
" Dimas dimana ? " tanya Namasya tiba-tiba muncul
" Dia masih di kamar ? " jawab Akbar
__ADS_1
" Biar aku pergi susul dulu.
Di dalam kamar Dimas masih bingung dan cemas. Ia bingung bagaimana memberitahu teman-temanya dan bagaimana caranya bisa keluar dari hutan ini, jika ucapan sang kakek itu benar. Dalam keadaan berpikir Dimas tak sengaja menatap dua lemari tua.
Dimas membuka lemari - lemari tua itu. Di dalam ia melihat beberapa buah dan Al-Qur'an. Ia juga melihat ada dua cermin besar. Adit kemudian membongkar isi lemari itu, lalu ia menemukan selembar foto. Foto itu bergambarkan Namasya dan seorang lelaki.
Adit memperhatikan Foto itu dalam- dalam. Tidak lama kemudian ketukan pintu mengejutkannya.
" Siapa ? "
" Aku Akbar. Tinggal kau yang di tunggu di meja makan "
<<
Di meja makan Dimas tidak berani menatap Namasya, ia hanya duduk serius makan. Lantaran lahapnya makan, mereka tidak sadar Namasya dan Adit telah tiada.
" Namasya dan Adit dimana ya ? " ujar Evan yang sudah selesai makan
Dimas, Rani dan Serly kaget mendengarnya. Sontak mereka menatap tempat duduk Adit dan Namsya tadi.
" Ya palingan keluar berkencan " ujar Tania
" Yah si Adit bukan datang meneliti, tapi datang berkencan " ujar Akbar
" Astaga Adit, padahal malam ini sebelum tidur kita rembuk dulu untuk kegiatan besok " ujar Rani
" Adih Ran, tidak usah tunggu Adit. Setelah ini pimpinan kita untuk bahas rencana besok " ujar Akbar.
" Ia Ran bahas saja sekarang, tidak perlu formal-formal " timpal Tania.
" Ya sudah kalau begitu. Jadi bagaimana besok apakah kita masih akan mencari pak Tejo dan Adrian atau lanjut meneliti saja. Aku mau dengar usul dari kalian dulu sebelum memutuskan "
" Sebaiknya kita meneliti saja sambil mencari Adrian dan Pak Tejo. Kita sudah tiga hari disini belum ada hasil sedikitpun " usul Dimas
" Aku setuju dengan Dimas " ujar Akbar
" Aku juga " ujar Evan
" Aku juga " ujar Tania
Semuanya setuju.
Oke kalau begitu, soal lokasi untuk penelitian nanti besok pagi kita bahas. Kemudian apakah di bagi dua kelompok atau lebih, nanti besok juga.
<<
" Ran aku datang menuntut janjimu "
" Kamu sudah bilang datang bersama, maka pergi pulang bersama " ujar Adit sambil memutari-memutari Rani.
Kemudian Wajah Adit berubah pucat, tubuh kurus kering dan perut bolong. Rani berteriak ketakutan " Akhhhhhhhh "
Adit mencekik leher Rani, Rani pun kesakitan. Kemudian wajah Adit menjadi Namasya, lalu berubah seram "
__ADS_1
" Akhhhhhh " Rani terbangun dari tidurnya.
Rani langsung memeluk Serly yang terbangun karena teriakannya.
" Aku mimpi buruk lagi Ser. Kali ini sangat menyeramkan "
" Ran sebaiknya kita pulang saja besok "
" Besok kita harus bagi banyak kelompok, dan usahakan selesai penelitian sebelum ashar. Setelah itu kita langsung pergi dari sini " ujar Rani
" Kenapa kita tidak pergi pagi saja "
" Tau sendiri kan teman-teman bagaimana ! "
Serly pun mengangguk kan kepalanya.
<<
" Kamu belum tidur dari tadi Dim " tanya Akbar, yang ke bangun dari tidurnya
" Saya belum, ngantuk "
Akbar melanjutkan tidurnya, sementara Dimas hanya duduk membisu sambil menghisap sebatang Rokok.
jam 00.00 malam Dimas mendengar suara wanita
" Wajahku , wajahku, huuuu huuuu "
Dimas kaget dan sontak memperjelas suara itu.
Dimas kemudian berdiri untuk mencari suara itu. Namun ketika membuka pintu kamar, ia tiba-tiba teringat ucapan kakek itu
"Jika kalian mengalami hambatan atau hal yang aneh jangan kebawa panik, gunakan akal sehat kalian. sebaiknya kalian jangan pisah dengan Al-Qur'an dan cermin "
" Mana ada suara wanita tengah malam begini, berada di luar " pikir Dimas
" Tapi jangan sampai Rani, Serly, Eva atau Tania "
Dimas sangat bimbang, saat itu. Namun ucapan kakek itu selalu juga membayangi nya.
" Tidak- tidak jika itu Rani ataupun yang lainnya, pastikan akan berteriak memanggil salah satu dari kami "
Suara itu makin menusuk telinga Dimas, hingga membuat Dimas merasa iba dan khawatir. Dimas pun menjadi lupa dengan pesan sang kakek itu. Namun ketika akan melangkah tiba-tiba ia teringat cerita Evan
" Tunggu - tunggu aku ingat sekarang, semalam dia bangunin aku. Kalau tidak salah dia mendengar suara cewek menangis, tapi aku tidak menghiraukannya. Aku hanya asik tidur "
Dimas langsung berhenti, kemudian ia teringat lagi pesan sang kakek itu. Dimas sontak menutup pintu lalu mengambil Al-Qur'an dalam lemari. Lalu ia merobek kertas dan membuat bulatan kecil lalu menutup telinganya. Kemudian ia memeluk Al-Qur'an.
Beberapa saat kemudian suara itu menghilang, Dimas pelan membuka tutup telinganya.
" Setelah selesai penelitian besok aku harus bertindak, teman-teman percaya tidak percaya aku tidak peduli. Besok bagaimanapun caranya kami harus segera meninggalkan hutan ini. Sangat ironis jika kami meninggal dalam hutan ini " Gumam Dimas dalam hati.
" Astaga Dimas, sudah hampir subuh kamu belum tidur juga " ujar Akbar yang lagi-lagi sadar dari tidurnya.
__ADS_1