Arwah Namasya

Arwah Namasya
Bab 8 ( berembuk )


__ADS_3

" Kita akan tinggal di sini Dim "


" Kalian harus menemaniku disini " ucap Adit kepada Dimas.


Kemudian muncul Namasya, juga memberitahu Dimas


" Kalian tidak akan bisa pergi dari sini "


" Usaha apapun kalian tidak akan bisa "


" Kalian menjadi penghuni hutan ini "


Namasya dan Adit kemudian tertawa bersama, setelah itu wajah mereka berubah seram


" Akhhhhh" Dimas terbangun dari tidurnya.


" Mimpi buruk lagi kau Dim ? " tanya Akbar, yang sementara berpakaian


Dimas hanya diam, ngos-ngosan


" Aku tidak bisa mati di hutan ini, kami harus tetap pergi " gumam Dimas


" Dim, tidak usah bengong kayak gitu. Mandi cepat sana, teman-teman sudah pada ngumpul tuh " tegur Akbar


" Masih pagi buta begini Kbar "


" Entahlah, Rani dari tadi sudah membangunkan kita semua. Katanya kumpul secepatnya "


Dimas pun akhirnya pergi mandi. Dimas sambil menyiram badannya, sambil ia kepikiran dengan mimpinya tadi. Beberapa saat kemudian Dimas jadi melamun


" Apakah kami akan mati di hutan ini "


" Tidak-tidak, kami harus selamat dari hutan ini " gumam Dimas dalam hati.


Tidak lama kemudian Dimas, merasakan bahunya di pegang dari belakang " Hha " Dimas kaget hingga menoleh dengan cepat


" Eva "


Dimas melihat dengan heran, ia tidak memakai busana.


" Apa-apaan kamu Va ?


" Dim puasin aku dim, aku butuh kehangatan " ujar Eva sambil mengelus badan sispeg Dimas


Dimas melepaskan tangan Eva " kamu gila Va "


Eva mengambil tangan Dimas lalu menempelkan di buah tomatnya, tangan satu Eva meremas rudal Dimas. Batin Dimas akhirnya memuncak, ia membiarkan Eva menuntun dirinya.


Eva membasahi leher Dimas hingga pelan-pelan menuju bibirnya.


" Jika kalian mengalami hambatan atau hal yang aneh jangan kebawa panik, gunakan akal sehat kalian. sebaiknya kalian jangan pisah dengan Al-Qur'an dan cermin " Dimas terbesit pesan kakek itu lagi di pikirannya.


" Sangat aneh Eva tiba-tiba seperti ini, Meskipun berpenampilan seksi tapi ia selalu tidak mau di sentuh cowok " Gumam Dimas


Sambil menahan nikmatnya sentuhan Eva Dimas berpikir. Ketika bibir Eva akan menyentuh Dimas, Dimas memegang bahu Eva lalu mendorongnya kesamping agar tidak terlempar di luar.


Dimas menoleh ke arah Eva, Dimas kaget. Dimas tidak melihat ada Eva disitu. Sambil menatap arah Eva jatuh, tanpa sengaja ia memegang tubuhnya. Dimas merasakan zat kental di tubuhnya, Dimas gercep melihat.


Dimas sangat terkejut, zat kental itu adalah darah. Dimas memperhatikan badan nya penuh dengan darah, lantai-lantaipun bersimbahan darah. Dimas menarik handuknya lalu berlari sambil membalut dirinya.

__ADS_1


Dimas mendorong pintunya, lalu masuk dan menutup pintu dengan cepat. Dengan nafas ngos-ngosan Dimas bersandar di pintu, diam membisu.


Tidak lama kemudian terdengar ketukan pintu, yang membuat Dimas terkejut lagi


" Siapa ? "


" Ini aku Rani "


" Ada apa Ran ? "


" Tinggal kau yang di tunggu di ruangan tuh "


Dimas menghembuskan nafas dua kali


" Tunggu sebentar ya Ran, aku berpakaian dulu "


Baru selangkah, Dimas kembali memanggil Rani


" Ran tunggu Ran "


Dimas membuka pintu dan hanya mengeluarkan kepalanya


" Ran aku perlu bicara sama kau dan Serly, tetapi sebelum kita semua ngumpul di depan. Ini sangat penting "


" Aku tunggu di kamar "


<<


Dimas mengetuk-ngetuk pintu Rani. Rani membukanya dan mempersilahkan masuk


" Memangnya ada apa Dim ? " tanya Rani


" Ini mengenai ke anehan hutan ini. Aku sudah beberapa kali melihat dan mengalami hal yang aneh. Aku yakin kakek tempo hari ceritanya benar "


" Sebenarnya dari awal aku juga sudah merasakan yang aneh, aku juga sudah berpikir cerita kakek itu benar " ujar Rani


" Coba bayangkan pak Tejo dan Adrian tiba-tiba hilang tanpa jejak. Yang lebih mencurigakan lagi Adit, semakin hari tubuhnya semakin kurus kering dan mukanya pucat seperti mumi " lanjut ucap Rani


" Sebelum kamu datang menghampiri dulu sebenarnya kakek itu bilang bahwa Adit bukan teman kita lagi " ujar Dimas


" Serius kamu Dim " tanya Rani


" Serius Ran "


" Lalu kenapa kamu tidak menceritakan kepada kami ? " ucap Rani


" Percuma Ran, teman-teman tidak akan percaya "


Rani pun terdiam kan.


" Seharusnya dulu kita ikuti larangan kakek itu. Kakek itu benar, bahwa itu bukan Adit lagi tapi hantu. Bahkan Adrian dan Pak Tejo sudah menjadi hantu juga, seperti apa yang kulihat kemarin "


" Apa yang kamu lihat Ser ? " tanya Dimas


Serly pun menceritakan apa yang terjadi padanya, sebab ia pingsan ketika mencari Adrian kemarin kepada Dimas.


" Bentuk tubuh Adit yang di ceritakan Serly itu, sama dengan wujud Adit dalam mimpiku. Hal itu dua kali aku mimpikan " ujar Rani


" Mimpi " tanggap Dimas

__ADS_1


Rani menganggukkan kepalanya lalu menceritakan mimpinya.


" Bukankah kata-katamu itu, kata-kata saat menegur Adit yang mendesak kita untuk masuk hutan ini " ingat Dimas


Rani pun teringat dengan kata-katanya itu


" Tidak boleh begitu Dit, kita datang bersama. maka harus pergi dan pulang bersama juga "


Rani menggelek-nggelekan kepalanya dengan panik.


" Atau jangan- jangan dari awal Adit sudah menjadi hantu " ujar Rani air matanya menetes


Dimas, Serly menjadi diam


" Mungkin wanita dalam mimpi saya itu, adalah sudah penguasa hutan ini " ujar Serly


" Wanita ? " tanggap Dimas


" Iya, dalam mimpiku aku mendengar suara wanita mengatakan wajahku, wajahku sambil menangis. Tapi setelah itu wajahnya berubah seram, luka bakar di wajah dan lidah menjalar panjang "


" Aapa ? " kaget Dimas


Dimas menatap Serly dan Rani


" Ucapan suara dan tangisan itu, sama persis dengan apa yang aku dengar semalam " ujar Dimas


Kemudian Dimas menceritakan kejadian itu kepada Rani dan Serly, lalu ia melanjutkan menceritakan kejadian aneh saat mandi.


Rani dan Serly menjadi semakin takut


" Lalu apa yang harus kita lakukan Dim " tanya Rani


" Sebaiknya kita harus pergi dari sini sekarang " usul Serly sontak mengambil tas kecilnya, Rani pun bergerak mengambil jaketnya.


" Tunggu kalian, kalian tidak boleh se panik ini " Tahan Dimas


" Apa lagi yang harus kita pertahankan Dim, semua cerita dan mimpi kita masing-masing berkesinambungan bila di satukan "


" Lagian kakek itu juga bilang sama kita bahwa nama penghuni hutan Namasya, dan kenyataannya pemilik Rumah ini Namasya " ujar Rani sambil menagis


" Apa Ran, apa benar kakek itu pernah berpesan seperti itu Ran ? tanggap Serly


Rani menganggukkan kepalanya


" Iya, itu pesan terakhir kakek itu sebelum aku dan Dimas meninggalkannya "


" Lalu kenapa tidak memberitahu kami Ran " ucap Serly ikut menangis


" Percuma Ser, teman-teman tidak bakal percaya. Sementara kamu akan panik dan akan menjadi lagi pertengkaran "


Serly pun langsung terdiamkan.


" Kalau begitu fix semua cerita kakek itu benar. ayo Ran kita tinggalkan tempat " ujar Serly


Serly dan Rani pun membuka pintu dengan cepat.


" Jika memang kalian seratus persen sudah percaya dengan kakek itu, maka jangan hanya setengah-tengah mengikuti nasehatnya " ujar Dimas


Rani dan Serly pun berhenti

__ADS_1


" Maksud kamu "


" Kakek itu berpesan . Jika kalian mengalami hambatan atau hal yang aneh jangan kebawa panik, gunakan akal sehat kalian. sebaiknya kalian jangan pisah dengan Al-Qur'an dan cermin "


__ADS_2