Arwah Namasya

Arwah Namasya
Bab 22. Lenyapnya Namasya


__ADS_3

Dimas menumpahkan bensin ke dalam obornya, cepat ia bakar, lalu melemparkan kepada Namasya, " bum " obor tersebut meledak tepat di tubuh Namasya. Namasya menghilang, mereka pun menjadi kebingungan, mereka berputar-putar mencari keberadaan Namasya dengan khawatir.


" Sepertinya Namasya sudah pergi, ayo kita tinggalkan tempat ini " ujar Dimas.


Belum sempat mereka melangkah, Namasya melambangkan tangannya menuju Dimas. Namasya mencekik leher Dimas, " Aght " Dimas keselek cekik kan, kemudian Namasya mengangkatnya keatas. Dimas pun berusaha membuka tangan Namasya di lehernya, tetapi tidak mampu.


Melihat Dimas kewalahan, Rani cepat menumpahkan bensin ke obornya, membakar, terus melemparkan kepada Namasya. Namasya menangkap obor itu dengan tangannya yang satu, kemudian melempar balik kepada Rani. Tania yang melihat hal itu, cepat menabrak Rani, hingga mereka terhindar dari ledakan obor tersebut.


Namasya kemudian menjulurkan tangannya yang satu menyerang Rani, ia mencekik pula leher Rani, terus mengangkat keatas seperti Dimas.


Tania berlari pergi menyerang Namasya, ia memukul dadanya, tetapi Namasya tidak merasakan apa-apa. Kemudian Namasya menendang Tania, Tania terlempar hingga menabrak pohon " ah " rintih Tania.


Dimas dan Rani semakin lama semakin tidak berdaya, sementara Tania bingung apa yang harus ia lakukan. Tidak lama kemudian, ia mengingat cermin yang di bagikan Dimas " cermin " guraunya. Tania berdiri cepat, lalu menyenter arah Namasya, terus memanggilnya " Namasya "


Namasya menoleh kepada Tania tersebut, sergap Tania memperlihat cermin itu, tetapi Namasya tidak melihat bayangannya, Tania heran kok tidak ada efek . Tania menengok cermin itu, ternyata bayangan Namasya tidak terlihat.


" Jika kalian mengalami hambatan atau hal yang aneh jangan kebawa panik, gunakan akal sehat kalian. sebaiknya kalian jangan pisah dengan Al-Qur'an dan cermin ", pesan kakek itu terlintas lagi di pikiran Dimas, hingga ia sedikit sadar dari linglung nya.


Cahaya senter Tania menembus mata Dimas, membuah Dimas sadar sepenuhnya, hingga ia langsung mengerti apa yang di lakukan Tania tersebut. Dimas cepat menarik senter dari tasnya, kemudian ia menyenter sekitar Tania. Datangnya cahaya dari dirinya, Tania juga langsung mengerti. Tania kembali berteriak memanggil Namasya " Namasya ", terus memperlihatkan kembali cermin itu kepada Namasya. Namasya menoleh lagi kepada Tania, Namasya melihat bayangannya, ia langsung menghilang. Dimas dan Rani pun terlepas jatuh dari cekik kan Namasya, " ah " rintih keduanya.


Tania pergi menghampiri Dimas dan Rani, namun belum sampai kepada mereka, tiba-tiba lehernya di cekik dari belakang, " Agh " rintih Tania. Rani dan Dimas panik Namasya datang lagi, mereka berdiri cepat dan memperhatikan Tania yang berusaha melepaskan diri dengan khawatir.


Namasya kemudian memanjangkan lidahnya menyerang Dimas dan Rani, merekapun terikat oleh lidah Namasya tersebut. Rani memberontak sekuat tenaga, sementara Dimas lemah dan seperti orang linglung lagi.


Semakin lama lidah Namasya semakin menggerogoti Dimas dan Rani, sehingga Rani semakin susah bernapas. " Dim lakukanlah sesuatu, aku sudah tidak kuat lagi " ujar Rani, namun Dimas tidak merespon Rani


" Sepertinya dia linglung lagi ! " gumam Rani. Rani memukul Dimas dengan kepalanya, sehingga Dimas tersadarkan, " Astagfirullah " ucap Dimas.


Dimas merasa sesak bernafas, ia memperhatikan keadaannya, hingga baru sadar ternyata mereka di ikat oleh Namasya. Dimas memberontak melepaskan ikatan, hingga tanpa sengaja tangan menyentuh Tas Rani


" Ran, di dalam tasmu masih ada Al-Qur'an kan ?


" iya Dim ! "


" Bantu aku untuk bisa mengambilnya "


Mereka pun berusaha sekuatnya agar Dimas dapat mengambil Al-Qur'an itu, mereka menahan nafas mengecilkan tubuhnya. Usaha demi usaha, Dimas akhirnya bisa mengambilnya, kemudian ia berusaha mengenakan Al-Qur'an itu, di lidah Namasya tersebut.


" Ahhhh " Namasya menjerit kesakitan ketika lidahnya di sentuh Al-Qur'an itu, hingga melepaskan ikatan lidahnya pada Dimas dan Rani. Setelah terbebas dari ikatan itu, Dimas berusaha menolong Tania, " Namasya " Dimas berteriak memanggilnya. Kemudian menyodorkan Al-Qur'an ke arahnya " Ahhh " Namasya menjerit kepanasan ketika melihat Al-Qur'an itu, hingga menghilang .


Dimas dan Rani cepat menghampiri Tania. " Tan apa kamu masih sanggup ? " tanya Dimas, Tania mengangguk kan kepalanya, " ayo kita pergi " ajak Dimas. Rani mengulurkan tangan kepada Tania untuk membantunya berdiri, setelah mereka pergi.

__ADS_1


Baru berjalan beberapa langkah, kaki Tania di tarik oleh Namasya dengan uluran panjang tangannya, langsung menyeretnya " akhh " Teriak Tania. Dimas dan Rani terkejut, hingga cepat berbalik belakang, " Tan " Rani kaget melihat Tania di seret, Dimas cepat mengejar kemana arah Tania di seret.


Dimas melihat di depan ada tumbuhan berduri tajam " Bahaya jika Tania di seret di situ, dia pasti akan mati " gumamnya. Dimas cepat mengambil Al-Qur'an di dalam tasnya " Ya Allah ya Rab ampunilah dosa hamba mu ini " Kemudian ia mencium Al-Quran tersebut, " Bismillahirrahmanirrahim ", lalu melempar Al-Qur'an itu pada Tania " Tan tangkap "


Dalam keadaan genting Tania berusaha menangkap Al-Qur'an itu, tetapi Al-Qur'an nya melewati Tania, Namun bersyukur Al-Qur'an tersebut mengenai tangan Namasya. " Akhhh " Namasya menjerit panas, lalu menghilang lagi.


Dimas berlari mengambil Al-Qur'an nya itu, tetapi Namasya langsung mencegatnya, Namasya menarik Dimas dengan uluran tangannya dari jauh hingga di seret. Kemudian Namasya menarik Tania dari jauh juga, dengan uluran tangan satunya, lalu kemudian Namasya mencekik Dimas dan Tania.


Rani berlari menolong Dimas dan Tania, Namun ia di serang lagi Namasya. Namasya menendang sebuah kayu hingga terkena Rani, Rani terlempar jauh sampai-sampai ia terpisah dengan Al-Qur'an nya. Kemudian Namasya menjulurkan lidahnya, lalu mengikat leher Rani dengan lidahnya itu. Mereka pun akhirnya kembali di siksa oleh Namasya, namun kali ini senjata andalan mereka tidak ada lagi.


Semakin lama Dimas dan Tania semakin lemah, begitupun dengan Rani. Lalu setelah itu Namasya menarik tubuh Tania, kemudian mengisap darahnya. Air mata Rani menetas melihat Tania pasrah di hisap darahnya, sementara Dimas seperti orang linglung lagi.


Tania tiba-tiba teringat bahwa masih ada sisa pecahan cermin di dalam tas Selempang nya, Tania meninju keras tasnya hingga pecahan cermin itu terpecah kecil lagi. Kemudian Tania satu pecahan cermin itu mengangkat, lalu menikam mata Namasya, " Ahhh " Namasya menjerit kesakitan.


Namasya kemudian membuang Dimas dan melepaskan ikatan Rani, kemudian mengangkat Tania keatas dengan cekikkan nya. Setelah itu, Namasya mencakar-cakar muka Tania berulang kali, lalu menusuk tenggorokan Tania dengan cakarnya dengan begitu dalam.


Namasya melepas tusukannya di leher Tania, darah Tania tersembur keluar, " Tania " Rani memanggil Tania sambil menangis. Dimas melihat botol bensin yang di persiapkan tadi tergelatak di tanah, cepat ia pergi mengambilnya. Sementara Namasya mengisap darah Tania dari lubang cakarannya itu dengan lahap, Setelah itu ia meremas perut Tania dengan cakarnya pula.


Rani mengambil sebuah batang kayu, lalu berlari memukul tubuh Namasya dari samping, Namasya menoleh kearah Rani, lalu menendangnya. Rani oun terlempar jauh, hingga menabrak pohon.


Dimas menghamburkan bensin di sekeliling Namasya, sementara Namasya lanjut meremas hati Tania. Dimas membakar arah jalannya bensin itu, tetapi tidak berpengaruh terhadap Namasya, Namasya hanya santai mengambil hati Tania. Melihat hati Tania telah di ambil Namasya, Dimas meloncati api itu dan menyerang Namasya. Dimas memukul kepala Namasya, Namasya langsung mencekik lagi leher Dimas, lalu membuang tubuh Tania.


Kemudian Namasta mengangkat Dimas keatas, lalu memakan hati Tania di depan mata Dimas, Dimas menutup mata Tak mau melihat itu. Dari jauh Rani melihat hali itu, ia cepat berdiri untuk membantu, akan tetapi Namasya melihat gerakan Rani itu. Namasya langsung cepat menyerang Rani dengan memanjangkan lidahnya, terus mengingat Rani dengan sebuah pohon.


Namasya menoleh kebelakang, tulisan ayat Al-Qur'an tepat terlihat di matanya " Ahhh " Namasya menjerit kepanasan, hingga menghilang pergi. Dimas terlepas jatuh, Rani pun terbebaskan, kemudian keduanya langsung menengok siapa yang datang menolong mereka, Ternyata Ustad Arman, Serly dan Kakek Fial.


Serly berlari menolong Rani, Kakek Fial mematikan lingkaran api, lalu kemudian membantu Dimas, sementara Ustad Arman berzikir terus. Setelah berkumpul, Ustad Arman langsung menanyai mereka " Apakah kalian masih sanggup ? ", Dimas dan Rani menganggukkan kepalanya.


" Jika begitu, kalian pergi ambil jasad Namasya lalu kuburkan di pohon besar ini, Kakek Fial akan menunjukan letak jasadnya ! "


Kakek Fial mengajak Dimas, Serly dan Rani menuju Rumah Namasya, Sementara Ustad Arman duduk berzikir di bawah pohon bunuh diri Namasya itu.


Kakek Fial menunjukan keberadaan jasad Namasya, ternyata tepat di kamar Adit, mereka pun kembali meneteskan air mata, karena harus melihat lagi jasad teman-temannya tergantung. Tetapi saat itu Dimas dan Rani berubah kaget, ketika tersadarkan bahwa di situ ada jasad Akbar dan Tania.


" Loh kok jasad Tania dan Akbar telah tergantung disini, bukankah harusnya... "


" Tidak perlu heran, Namasya itu sangat hebat, ia juga mempunyai pengikut-pengikut yang setia " ujar Pak Fial memotong ucapan Rani


" Lalu di mana jasad Namasya itu ? " tanya Dimas


" Kalian pindahkan tumpukan-tumpukan kerangka ini dulu, gali hingga kebawah "

__ADS_1


Dimas, Serly dan Rani membuang tumpukan kerangka-kerangka itu kesamping, lalu gali dan menggali. Tidak lama kemudian, mereka menemukan kain hitam yang sudah lusuh.


" Buka kain hitam itu, lalu bungkus kerangka di bawahnya itu, karena sudah jasad Namasya "


Dimas membuka kain itu, lalu Serly mengambil kerangka itu untuk di bungkus, akan tetapi ketika melakukan, tiba-tiba Namasya keluar dari kerangka jasadnya tersebut. Namasya langsung mencekik leher Serly, kemudian spontan mencakar perut Serly itu " Ah " Serly merintih kesakitan.


Kakek Fial, Rani dan Dimas kaget satu kali, kemudian Dimas cepat menyerang Namasya, namun Namasya langsung mencekik leher Dimas. Kakek Fial membaca Ayat kursi, hingga Namasya kesakitan mendengarnya.


Namasya meloncat terbang dengan membawa Dimas dan Serly, ia mendobrak atap rumah, hingga Dimas dan Serly pun ikut mendobrak " Ah " Dimas dan Serly merintih kesakitan.


Rani mengambil jasad Namasya itu, sementara Kakek Fial masih membaca ayat kursi. Setelah itu merekapun pergi, namun belum sempat keluar, Rani melihat sebuah Kampak dan parang. Rani menyerahkan bungkusan kerangka jasad Namasya itu kepada kakek Fial, Kemudian ia mengambil Kampak dan parang tersebut.


Namasya membawa Serly dan Dimas di pohon bunuh dirinya, ia tidak sadar jika di situ ada Ustad Arman. Ketika ia berhenti di pohon itu, kobaran api langsung mengelilinginya. Namasya kaget, Lalu memperhatikan kobaran api itu dengan mata tajam dan penuh amarah.


Ustad Arman membaca Ayat kursi, hingga membuat Namasya sakit telinganya dan merasakan panas. Namasya melepaskan Serly dan Dimas, kemudian menutup telinganya.


Ustad Arman menampiaskan air lantunan ayat kursi dan ayat-ayat Al-Qur'an lainnya di atas pohon bunuh diri Namasya, juga menampiaskan di sekitaran Namasya itu.


" Ahhh, panas, panas " Namasya menjerit kepanasan, tetapi ia tidak bisa lagi menghilang pergi dari situ.


<<


Dimas melihat Rani dan kakek Fial datang membawa jasad Namasya, ia pun langsung meminta jasad itu, " Ran lempar parang dan kerangka jasadnya itu " ujar Dimas . Rani pun melemparkan parang itu, sementara kakek Fial melemparkan bungkusan jasad tersebut.


Dimas menggali kuburan secepatnya, Serly pun ikut membantu. Setelah lubang kuburnya telah ada, Dimas dan Serly dengan cepat memasukkan kerangka jasad Namasya itu, kemudian mereka menimbunnya.


Meskipun sedang menderita kepanasan, Namasya sadar jasadnya akan di kubur, Namasya kemudian berusaha menahan panas itu. Namasya meraih tubuh Serly lalu membuangnya dengan keras, hingga menabrak pohon. Setelah itu Namasya mencakar tubuh Dimas, namun sudah tidak sekuat sebelumnya, kekuatannya sudah melemah.


Melihat Serly di lempar dan Dimas di serang oleh Namasya, Rani berlari melewati kobaran api, kemudian ia langsung mengampak tubuh Namasya berulang-ulang kali . Namasya saat itu sudah merasakan sakit, Namasya tidak bisa lagi melawan, ia menjadi lemah karena telah menahan panasnya siksa lantunan Ayat Kursi.


Namasya menatap Dimas dengan sedih, kemudian mengarahkan kekuatan terakhirnya dengan mempengaruhi pikiran Dimas, hingga Dimas berada dalam ilusi lagi


" Dimas, Dimas " Namasya memanggilnya. Dimas melihat perut Namasya besar sekali, " Dimas anak kamu sebentar lagi akan lahir, dia seorang wanita "


<<


Melihat Namasya tidak bergerak melakukan apa-apa, Serly berlari menimbun kubur tadi. kakek Fial pun berani melewati api untuk membantu Serly, Sementara Rani masih saja mengampak tubuh Namasya.


Setelah mengakhiri ilusinya terhadap Dimas, Namasya sadar tubuhnya telah terbakar api. Namasya mencakar perutnya, lalu mengeluarkan anaknya sebesar kepalan tangan. Namasya mencium bibir anak itu, lalu mencabut tali pusarnya, kemudian anaknya itu dimasukan dalam tas Dimas.


Semakin lama tubuh Namasya makin terbakar, kuburnya pun sudah hampir selesai di timbun. Namasya tidak sanggup lagi menahan panas api, ia berteriak keras, lalu melempar tali pusar anaknya. Namasya pun akhirnya lenyap terbakar, sementara tali pusar anaknya terjatuh di bawah pohon bunuh dirinya.

__ADS_1


" Dim, Dim sadar Dim " Rani dan Serly menyadarkan Dimas, " Akh " Dimas pun tersadarkan, kemudian ia menoleh kearah tali pusar anaknya itu .


__ Tamat__


__ADS_2