Arwah Namasya

Arwah Namasya
Bab 9 ( mengambil tindakan )


__ADS_3

" Lalu menurutmu kita harus bagaimana Dim ? " tanya Rani


" Aku juga masih bingung. Tetapi jika kita pergi dalam keadaan panik seperti ini, apakah kita jamin masih bisa selamat "


" Tidakkah kalian ingat cerita kakek itu, beberapa anak remaja yang juga datang kesini, tidak ada yang pulang selamat. Bahkan beberapa ustad saja mengalami kendala dalam mencari salah satu mayat dari para mahasiswa itu "


" Lalu apa kita harus berdiam di sini saja, tinggal bersama iblis Namasya itu ! " ujar Serly


" Bukan begitu, tapi kita harus melakukan cara yang terbaik. Lagian teman-teman di luar sana, mereka tidak akan percaya dengan apa yang kita alami dan rencanakan ini "


Rani dan Serly kembali diam


" Aku pusing, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Yang dimaksud gunakan akal sehat oleh kakek itu sebenarnya seperti apa ? " ucap Rani


" Saya juga belum tau, tapi di balik kejadian yang ku alami kemarin aku rasa Namasya tidak sepenuh bisa mengontrol kita "


" Maksudnya Dim ? " tanya Rani


" Sebenarnya ada kejadian lain juga, yang tadi aku lupa ceritakan. Kemarin aku izin berpisah dengan kalian karena aku penasaran ingin melihat bagian belakang rumah ini " Dimas menceritakan kejadian itu


" Disaat aku panik dan bingung, Namsya datang bertanya aku kenapa "


" Lalu apa hubungannya ? " tanya Serly


" Itu dia yang ku bilang tadi, Namasya tidak mengetahui sepenuhnya kegiatan kita. Masih ada celah agar kita bisa menghindari dia "


" Caranya gimana ? " tanya Serly


" Itu dia yang belum aku bisa simpulkan "


" Yang jelas pasti ada cara agar kita bisa terhindar dari dia atau bisa selamat dari hutan ini. Kakek itu greget sekali melarang kita, juga serius memberi pesan itu kepada saya. "


" Semalam juga saat dia mengelabuhi saya, tapi aku mengingat pesan kakek itu, akhirnya aku berpikir sehat. Mana ada wanita menangis tengah malam, seandainya dari kalian pasti minimal akan memanggil salah satu dari kami. Akhirnya aku paksa pura-pura tidak mendengar memasukan kertas di telingaku sambil meluk Al-Qur'an. Tidak lama kemudian suara itu menghilang "


" Apa maksudnya kita berpura-pura tidak mendengar apa-apa atau tidak mengetahui apa-apa " ujar Rani


" Mungkin seperti itu dulu, untuk saat ini "


" Kalian gila apa, masa kita harus bersama-sama terus hantu, yang jelas-jelas akan memusnahkan kita " ujar Serly panik


" Ser tanpa kita ikuti pesan kakek itu, kita mungkin tidak akan selamat lagi. Selain kejadian yang aku alami semalam dan pagi buta tadi aku juga bermimpi. Adit mengatakan kita akan tinggal di sini, kita harus temani dia. Namasya juga berkata kita tidak akan bisa pergi dari sini, usaha apapun yang kita lakukan " ujar Dimas di iringi tetes air matanya


" Ran aku takut sekali " Serly memeluk Rani sambil menangis


" Ser ku juga takut, panik malah. Tapi menurutku sementara cara itu sudah bagus. Pertama. ucapan kakek itu semua sudah terbukti, berarti saran juga pasti akan terbukti. Kedua. jika kita akan memberitahu teman-teman untuk pergi sekarang, pasti akan gaduh dan kita akan ketahuan sama hantu Namasya. Sebab selain mereka tidak percaya, juga belum ada hasil penelitian kita sama sekali, pasti protes marah-marah akan terjadi" jelas Rani


" Serly, siapa yang tidak takut aku laki-laki saja sangat takut. Tapi yang kita lakukan ini adalah mencari jalan yang terbaik " Timpal Dimas


Serly hanya menangis memeluk Rani


" Ser tahan tangisnya, nanti teman-teman dengar " ucap Rani


" Lalu apa yang kita lakukan setelah ini ? " tanya Rani

__ADS_1


" Rencana ku, hari ini kita tetap ada penelitian. Tetapi bisa pulang juga hari ini "


" Iya ide yang bagus " timpal Rani


" Tapi tetap saja Namasya akan tahu, karena teman-teman akan berpamitan pulang " ujar Serly


Ucapan Serly membuat Rani dan Dimas bingung


" Bagaimana kalau sebentar ini kamu instruksikan pakaian semua beres-bereskan memang dan di simpan di halaman, pulang langsung gas "


" Tapi pamitannya ? " tanya Rani


" Sebentar bagi kelompok 4, kalian masing-masing dua aku sendirian. Jadi saya usahakan cepat balik, lalu mengatakan Namasya sedang pergi dan aku sudah berpamitan " usul Dimas


" Boleh juga Dim " ujar Rani


" Ser kamu bisa kan untuk tegar, dan berpura-pura tidak ada kejadian apa-apa " tanya Rani


" Akan ku usahakan "


" Ini Al-Qur'an nya ada 4, cermin nya ada panjang di kamar kami, biar aku pergi pecahkan dulu agar terbagi terpenuhi dengan kita semua " ujar Dimas lalu pergi


Dimas yang lagi memecahkan cermin itu tiba-tiba mendengar suara teguran dari belakang


" Kamu lagi apa Dimas ? "


Dimas kaget dan menoleh cepat


" Mba Namasya "


Namasya membuang mukanya untuk melihat cermin itu


" Kumpulkan dan buang pecahan cermin itu "


Dimas menganggukkan kepalanya


" Bagaimana caranya agar Namasya tidak ke halaman rumah ya " gumam Dimas


" Jika pagi buta tadi adalah ulah Namasya, berarti dia lagi ingin berkencan. Apa harus aku merayunya agar membuang-buang waktunya "


" Pagi ini kok terasa panas " ujar Dimas


Dimas membuka bajunya hingga badan sispek nya kelihatan. Dimas melihat Namasya masih membuang mukanya. Dimas mengerti Namsya takut cermin. Dimas menaruh pecahan cermin itu dalam lemari


" Ya Allah setelah ini apa yang harus kulakukan " Gumam Dimas


" Kamu memang laki-laki yang beda, tidak mudah terpancing nafsu dengan Wanita " ujar Namasya menatap Dimas


Namun sekilas Namasya mengingat masa lalunya, hingga mukanya berubah marah dan mata melotot


" Semua laki-laki sama, bejat dan tidak bertanggung jawab " Gurau Namasya


Dimas melihat mata Namasya melotot jantungnya berdebar, jiwanya bangkit menjadi takut.

__ADS_1


" Tenang Dimas, tenang " gumam Dimas menyemangati Diri


<<


" Lama sekali kau Ran, Ser " tegur Tania


" Aku juga menunggu Adit, tidak enak aku terus yang pimpin diakan ketua " jawab Rani ngelak


" Sudahlah Ran. Tidak usah hargai Adit, dia saja tidak hargai kita sekarang. Kamu saja yang pimpin aku muak dengan dia " ucap Evan


" Benar tuh kata Evan "


" Baiklah kata, kalau begitu " ujar Rani


Rani kemudian membuka jalannya kegiatan, lalu mengucapkan beberapa kata ilmiah. Terus mengusulkan segala sesuatu yang sudah di bahas dengan Dimas dan Serly


" Semalam saya sudah pikirkan bahwa hari ini kegiatan kita harus selesai dan pulang juga hari ini "


" Loh cepat sekali Ran " ujar Tania


" Lalu bagaimana dengan Pak Tejo dan Adrian " tanya Akbar


" Justru karena mereka lah kita harus segera pulang. Semakin cepat kita melaporkan pada keluarganya, semakin cepat kemungkinan untuk menemukan mereka, sebab keluarganya akan segera mencari "


" Iya juga sih Ran " ujar Evan


" Lalu bagaimana dengan Adit " tanya Eva


" Biar juga nanti kedua orangtuanya yang datang membujuk kesini.


" Apakah kalian setuju "


" Setuju "


" Sekarang aku akan bagi kelompok, sekaligus arah wilayah yang akan di telusuri "


" Evan dan Eva ke arah timur "


" Akbar dan Tania ke arah barat "


" Saya dan Serly ke arah Utara "


" Dimas kearah selatan "


" Loh kok Dimas sendirian ? " ujar Akbar


" Lalu harus dengan siapa !. Adit tidak ada di sekitar kita. Dan seluruh arah wilayah di sini kita harus telusuri, dengan tujuan sambil meneliti sambil mencari Pak Tejo dan Adrian. Ini sebagai usaha akhir kita dalam mencari mereka, sebagai pertanggung jawaban kepada orang tua mereka nanti "


Akhirnya mereka semua pun setuju.


" Setelah ini kalian kemas memang barang kalian, lalu simpan di tempat yang kita sudah setujui. Kemudian menuju wilayah penelitian yang di tentukan "


" Dimas kok lama sekali datangnya, tidak bisa lagi nih mereka dapat pecahan cermin kalau begini " gumam Rani

__ADS_1


" Ingat jangan lupa ya, segala perlengkapan peralatan kalian agar di bawah semua. Silahkan berkemas sekarang "


__ADS_2