ASMARA DANA

ASMARA DANA
APAPUN ASAL DENGANMU


__ADS_3

Setelah perawatan selama satu minggu akhirnya Dana diijinkan pulang,selama satu minggu kemarin Mara harus bolak balik merawat Dana dan kuliah,tanpa sepengtahuan Mara sebenarnya papi Dani tahu kalau Mara sedang merawat Dana tetapi sang papi memberikan kebebasan Mara untuk menentukan pilihannya.


Mara bingung saat ini akan membawa Dana ke rumah siapa,satu sisi dia masih ingin merawat Dana,karena bagaimanapun mereka masih suami istri tetapi disatu sisi dia masih tinggal dengan papinya yang pernah ada kesalah pahaman dengan suaminya makanya dia bingung.


Ditengah kebingungannya ponselnya berdering.


Triiiiririiiing....triiiiing......


*Papi* gumamnya.


" Hallo assalamu alaikum papi"


" Hmmm...Waalaikum salam"


" Ada apa pi...Mara masih dikampus" bohong Mara.


" Udah lama ngga bohong kok belajar bohong lagi?apa suamimu yang mengajarkannya?bawa suamimu pulang kerumah ini! SEKARANG!" perintah papinya dan langsung menutup sambungan teleponnya.


Mara kaget bagaimana papinya bisa tahu kalau saat ini dia sedang berbohong dan bersama Dana, dia semakin bingung apakah Dana mau diajaknya pulang ke rumah papinya? atau malah menolaknya?, sungguh Mara sangat bingung.


" Pak mobil sudah siap" ucap supir Dana.


" Baik pak, ayo sayang...." ajak Dana sambil menggandeng tangan Mara.


" Emmm itu..Dan....kamu mau ngga pulangnnya kerumah papi?" ucap Mara ragu-ragu.


Dana mengerutkan keningnya lalu berkata,"Memangnya aku masih boleh kesana?".

__ADS_1


" Entahlah...tadi papi menelpon aku menyuruh aku untuk mengajak kamu pulang kerumah papi, tapi aku takut nanti terjadi keributan lagi Dan"ucap Mara sambil mengulum bibirnya.


" Mara sayang...dengarkan aku ya, apapun itu asal bersamamu akan aku lalui jadi kamu tenang ya,sebelum papi marah aku bakal lebih dulu minta maaf atas semua kesalahanku, dan aku yakin papi pasti maafin aku kaya kamu,karena pada dasarnya sifat pemaaf kamu ini pasti dari papi...ya kaaan?" ucap Dana sambil menenangkan Mara.


Akhirnya mobil yang mereka naiki menuju ke rumah utama keluarga Ramdani, papinya Mara.


Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam karena macet, tibalah mereka dirumah mewah milik papi Dani yang nantinya akan diberikan kepada cucu tercintanya bukan untuk putrinya.


Entah bagaimana ceritanya hingga papi Dani lebih memilih mewariskan rumah dan hartanya untuk cucunya ketimbang anaknya sendiri.


Tok..tok...tok....


" Bibi....buka pintunyaaaaa" teriak Mara yang langsung dibekap oleh Dana.


" Sayang kok teriak-teriak sih? kaya dihutan tahu ngga?"ucap Dana bersamaan dengan pintu rumah itu terbuka tampaklah papi Dani berdiri dengan wajah yang wibawa,tampak angkuh walaupun sebenarnya hatinya sangat lembut apalagi kalau sudah mengenai keluarganya.


Mereka pun masuk mengikuti langkah papi Dani menuju sofa tengah kemudian Mara duduk disamping Dana sedangkan papinya duduk dihadapan mereka.


Lama mereka terdiam akhirnya sang papi tertawa keras membuat Mara dan Dana bingung.


" Hahahahaaaaaaaahaha kalian benar-benar lucu lihatlah muka kalian yang ketakutan itu,kalian pikir papi bakal makan kalian hah?


kalian pikir kalian bisa membohongi mata tua ini?


dan kamu Dana apa kamu tidak pernah belajar dari masa lalu sehingga kamu masih mengajari princess papi untuk berbohong lagi?" cecar papi Dani.


Nafas Dana tercekat ditenggorokan,rasanya seperti tertohok benda keras,dan bibirnya terasa kelu hingga susah bergerak.

__ADS_1


" Papi.., maafin Mara , Mara berbohong atas ide Mara sendiri buka Dana yang ngajarin kok pi" ucap Mara pelan.


" Oooh apa suamimu bisu jadi yang menjawab harus kamu princess?" tanya papinya lagi.


" Pi..."


" Maafkan semua kesalahan Dana pi,Dana tahu kalau kesalahan Dana sudah sangat fatal tetapi Dana berjanji akan berubah tentunya dengan adanya istri Dana pasti dia akan selalu mengingatkan Dana kalau Dana sampai berbuat kesalahan lagi" ucap Dana mantap sambil terus menggenggam tangan Mara.


Papi Dani pun pergi meninggalkan anak dan menantunya sambil berucap" Buktikan jangan cuma membual".suaranya setengah mengancam.


Mara dan Dana hanya menatap kepergian papinya dengan tatapan tidak percaya,papinya memberikan kesempatan untuk mereka memperbaiki rumah tangga mereka, bahkan Dana membisikkan kalimat yang membuat Mara bergidik ngeri.


" Tampaknya kita harus bekerja keras demi mewujudkan keinginan papi sayang yaitu cucu" ucapnya sambil menggoda Mara.


Mara pun meninju perut Dana dan meninggalkannya.


" Sayang....kok aku ditinggalin sih aku kan baru keluar dari rumah sakit...sayang...." teriak Dana.


" Yang sopan disini bukan hutan!" kata Papi Dani dari depan pintu kamarnya.


Dana pun langsung ngibrit menyusul Mara ke kamarnya dari pada mendapat amukan dari mertuanya.


# like


#komen


#vote ya

__ADS_1


__ADS_2