
Pak Ramdani duduk dikursi kerjanya,dihadapannya ada Mara dan Dana yang berdiri sambil menunduk ketakutan karena rahasia mereka selama ini terbongkar sudah.
Beberapa kali sang papi menghela nafas kasar lalu memandangi dua anak manusia dihadapannya.
Rasa kesal dan marah, merasa tertipu karena selama ini baik Mara maupun Dana selalu menunjukkan bahwa hubungannya sangat romantis tetapi dibelakang itu ternyata semuanya palsu,bahkan dia mendengar dengan jelas kalau menantunya masih memiliki kekasih dan hubungannya sudah sangat jauh.
" Ada yang mau menjelaskan?" tanya papi Dani dengan tatapan tajam menghunus kearah anak dan menantunya.
Dana tetap menunduk sedangkan Mara sudah siap menjawab pertanyaan papinya tetapi tertahan ketika Dana menyenggol kakinya.
Mereka saling melirik kemudian Dana membuka suara meski terasa berat baginya,tetapi dia harus segera meluruskan masalahnya.
" Maafkan Dana pi...bukan maksud Dana menghianati pernikahan ini tetapi sampai kapanpun Dana tidak akan pernah menuruti kemauan Mara untuk bercerai dengan Dana, Dana akan tetap mempertahankan Mara pi" ucapnya sambil menatap mertuanya.
" Lalu kamu akan meninggalkan kekasihmu?"tanya papinya lagi.
" Itu akan Dana pikirkan pi, tap..."
" Hanya dipikirkan?tanpa kamu kasih keputusan? enak banget kamu ngomong, kamu pikir anak saya apaan?" potong sang papi tersulut emosi.
" Pi....ini urusan Mara sama Dana pi,tolong papi jangan marah-marah nanti papi sakit lagi,Mara ngga mau kehilangan papi" ucap Mara sambil terisak.
" Jangan kamu belain suami kamu yang ngga tahu diri ini,secepatnya papi harus ngomong sama papa kamu biar dia tahu kelakuan anaknya" tegas papi Dani.
" Papi ngga berhak ngatur hidup Dana, papi itu hanya mertua Dana" teriak Dana yang membuat papi mertuanya kaget.
" Berani kamu sama saya Hah?!" lalu menampar pipi Dana.
" Papiiiii....stop pi...stop....Dan udah loe pergi dulu biar gue tenangin papi gue" teriak Mara melerai papi dan suaminya.
Dana pun keluar dari ruang kerja mertuanya dan langsung pergi dengan mobilnya,sedangkan Mara sedang menenangkan papinya lalu memapahnya membawa ke kamar papinya lalu mengambilkan obat untuk papinya.
__ADS_1
Setelah papinya tenang barulah Mara bicara dari hati ke hati dengan papinya.
" Papi...maafin Mara udah bohong sama papi,Mara tahu yang Mara lakuin itu salah,selama ini Mara ngga pernah bohong sama papi tetapi untuk pertama kalinya Mara bohong untuk menutupi kelakuan suami Mara,tetapi Mara mohon papi jangan terbawa emosi,Mara yakin Mara bisa selesaikan sendiri masalah Mara pi....Mara sayang papi" ucap Mara sambil menggenggam tangan papinya dan menangis meminta maaf.
Papinya menitikkan air mata dan meminta maaf karena sudah membuat Mara harus menghadapi masalah yang seharusnya tidak pernah terjadi dalam hidupnya andai dia tidak menikahkannya dengan anak sahabatnya.
Kini Mara kembali kekamarnya setelah papinya tenang,dia berharap akan menemukan Dana didalam kamar tetapi ternyata suaminya itu tidak ada,dia pun menghela nafas lalu merebahkan tubuhnya sambil menerawang dan berandai-andai.
*Andai tadi gue bisa menahan emosi tentu semua ini tidak akan terjadi*batinnya.
Air matanya pun menetes membasahi bantalnya dia sengaja membekapnya agar suaranya tidak terdengar lagi rasa sesak didadanya,dia merasa sakit hati dengan sikap suaminya,dia juga takut kehilangan papinya,orang tua satu-satunya yang dia miliki sekarang,walaupun mertuanya sangat baik dan mengganggapnya anak sendiri.
Disebuah apartmen Dana sedang terduduk sambil menikmati vodka bersama sahabatnya Leo dan Andi.
Kepalanya mau pecah memikirkan masalah yang sedang dihadapinya saat ini,bahkan yang paling parahnya dia berani membentak mertuanya.
Dana benar-benar kalut bahkan untuk menapakkan kakinya dirumah mertuanya rasanya sangat berat.
Awalnya Dana berfikir bahwa mertuanya sudah memberi tahu papa dan mamanya tetapi ternyata diruang tamu sudah ada Sinta yang menangis sambil dipeluk oleh mamanya.
" Jelaskan ke papa bagaimana ini bisa terjadi hah? siapa wanita ini? dengar Dan kamu masih belum lulus sekolah tapi kenapa sudah menciptakan banyak kekacauan?" bentak papa Wijaya.
" Pah apa maksudnya Dana ngga ngerti?"
" Bilang ngga ngerti setelah kamu menghamili wanita ini?"tanya papanya sambil berteriak.
" Hah...hamil? Dana bahkan belum pernah menyentuhnya pah demi Allah pah"
" Jangan bawa-bawa Allah atas kebohonganmu Dan"bentak papanya.
* Kenapa jadi rumit begini sih...* batin Dana sambil mengacak rambutnya.
__ADS_1
Kemudian menghampiri Sinta lalu menarik tangannya keras.
" Hon..sakit" rintih Sinta.
" Tolong jujur kamu hamil sama siapa?soalnya kita belum pernah melakukan lebih dari sekedar meraba" suara Dana sedikit lembut.
" hiks...hiks...ini anak kita hon...anak kita...."jawab Sinta sambil terisak dengan tangis palsunya.
Bersamaan dengan kedatangan Asmara kerumah mertuanya untuk mencari Dana,tetapi justru dia mendengar pernyataan yang semakin menyakitkan.
" Hamil?" ucapnya pelan tetapi masih terdengar oleh semua yang ada disana.
" Mara.....?" mereka serentak menyebut namanya.
Mara tersenyum kecut dengan air mata yang sudah menetes,betapa kejam suaminya itu kalau memang tidak mencintainya setidaknya jangan terus menyakitinya,tetapi apa?justru kesakitan bertubi-tubi yang Dana torehkan kepadanya.
" Maaf sepertinya kedatangan Mara tidak tepat, Mama papa dan semua Mara pamit ya" ucapnya lalu berbalik menuju mobilnya.
Dana secepat kilat mengejarnya dan menahan tangan istrinya.
" Kali ini Mara...pliss gue mohon kali ini ijinkan gue jelaskan semuanya,kasih gue kesempatan Mara" pinta Dana mengiba.
" Lepasin tangan loe,gue ngga pernah ijinin loe buat nyentuh gue!" bentak Mara.
" Sampai kapan loe terus salah paham sama gue hah? gue ini suami loe hargai dikit kek,kenapa sih loe masih aja batu?" bentak Dana tidak kalah keras.
" Loe mau gue hargai hah?oke gue bakal hargain loe asal loe lepasin gue...PAHAM!"teriak Mara.
" Mulai detik ini jangan pernah muncul dihadapan gue,karena gue jijik sama kelakuan loe!"ucap Mara kemudian menghempaskan tangan Dana dan langsung pergi dari rumah mertuanya.
Dana jatuh terkulai,dia bisa melihat dari mata istrinya ada sejuta kebencian dan rasa sakit yang dia torehkan menjadi satu,ingin rasanya dia mengejar Mara tetapi tenaganya seperti hilang dan dia pun jatuh pingsan.
__ADS_1
#lanjut guys