ASMARA DANA

ASMARA DANA
KETAHUAN


__ADS_3

Matahari mulai menyilaukan mata karena sinarnya sudah masuk melalui celah jendela kamar rawat Mara, sedikit gerakan dari tubuh Mara membuat Dana terbangun karena posisinya tertidur dikursi sambil tangannya memegang tangan istrinya.


" Kamu udah bangun?ada yang kamu butuhkan?"tanya Dana.


Mara mengerjabkan mata," Dana...aku mau peluk kamu"ucapnya manja sambil membuka kedua tangannya.


Dana langsung menghampiri istrinya dan memeluknya,ada rasa bahagia bercampur sedih dirasakan oleh Dana tetapi dia sembunyikan dari Mara.


" Sudah secinta itu ya sama suami kamu ini sampai-sampai minta peluk?" goda Dana.


Mara mencubit kecil perut suaminya lalu mencebikkan bibirnya," emang ngga boleh peluk suami sendiri?" Mara balik tanya.


" Boleh doong boleh banget malah,minta yang lain juga boleh" ucap Dana sambil menaik turunkan alisnya.


"Dan aku boleh minta sesuatu ngga?" tanya Mara ragu-ragu.


" Kamu mau minta apa? kalau aku bisa pasti aku turuti semua permintaan kamu sayang" membelai kepala istrinya.


"Emmmm...emmm.....boleh ngga kalau mulai saat ini kamu jangan ketemu wanita lain selain aku?trus aku mau mulai saat ini jangan ada yang kamu tutupin dari aku apapun itu, kamu mau kan menuruti permintaan aku?" pinta Mara dengan tatapan dalam kearah mata suaminya.


Dana tertegun kaget mendengar permintaan dari Mara karena naru kali ini istrinya itu mengajukam permintaan pasca mereka bersatu kembali.


" Sayang....aku janji aku tidak akan menemui wanita lain selain kamu tapi kalau dikantor sama karyawan gimana?"


" Ya kamu berusaha menghindar"


Dana melongo dengan jawaban Mara.

__ADS_1


" Kalau ketemu mama gimana?"


" Itu beda Dan....aduuh kamu kayaknya memang masih badboy ya bikin malas deh sama kamu" Mara pun tidur miring membelakangi suaminya.


" Sayang kan belum selesai kok malah ngambek sih?"


" Bodo amat aku malas sama kamu Pradana Arga Wijaya"


*Aiiih kalau udah nyebut nama lengkap pasti udah ngambek parah nih* batin Dana.


" Sayang dengerin aku dulu,aku bakal berusaha buat nurutin keinginan kamu,aku ngga bakal ngeduain kamu, apalagi sekarang ada calon penerusku dirahim kamu mana mungkin aku berani nyakitin kamu"


Mara membalikkan tubuhnya, " Maksud kamu? aku hamil?" tanya Mara tidak percaya.


Dana menganggukkan kepalanya langsung mendekap istrinya dan terus menciumi puncak kepala istrinya," Makasih sayang udah ngasih aku keturunan,makasih udah ijinin aku buat menanam benih dirahim kamu" ucap Dana asal.


" Makanya punya mulut dijaga ngomong asal aja ngga disaring,malu kalau kedengeran orang!" Mara berucap tegas sambil terus mencubit perut suaminya.


Dana kembali mendekap istrinya penuh cinta,bersamaan dengan itu datanglah dokter yang menangani Mara.


" Selamat pagi,bagaimana istirahatnya bu?"


" Pagi juga dokter, sudah mendingan dokter apa saya sudah boleh pulang?"


" Kami sedang menunggu hasil lab bu kalau memang kondisinya sudah membaik maka ibu boleh pulang begitupun sebaliknya kalau kondisinya memburuk maka kami akan melakukan tindakan segera" jelas dokter.


" Maksud dokter?"tanya Mara penasaran.

__ADS_1


" Dok kita bicara diluar saja" ajak Dana berusaha agar Mara tidak tahu.


" Ngga Dan...bicara disini aja aku berhak tahu apa yang terjadi pada diriku" cegah Mara sambil mendelikkan matanya.


Dana mengalah membiarkan dokter menjelaskan tentang kondisi Mara dan janinnya,Mara menangis sesenggukan didalam dekapan Dana, setelah dokter memeriksa Mara,diapun berpamitan meninggalkan Mara dan Dana.


" Kamu jahat Dan....jahat banget, kenapa kamu tega rahasiain ini semua dari aku? kenapa? apa aku selemah itu bagimu?apa aku tidak bisa melindungi anakku sendiri?" cecar Mara meluapkan emosinnya sambil memukuli dada suaminya.


" Kamu tenang sayang aku bisa jelasin semuanya" Dana berusaha menenangkan istrinya.


" Aku mau bayi ini Dan....aku mau rawat anak ini,aku ngga mau pisah sama anak aku Dan...bantu aku bilang ke dokter kalau aku baik-baik aja aku pasti bisa jaga anak aku sendiri" pinta Mara sambil terus terisak dalam pelukan Dana.


Dana ikut menangis," Anak kita sayang,aku pasti bantu semampuku asal kamu mengikuti aturan dokter,tetapi kalau itu membahayakan kamu aku ngga mau Ra...aku sayang banget sama kamu" ucapnya lalu mengecup kedua pipi istrinya yang terkena lelehan air mata.


Mara kini sudah tidur meringkuk dikasurnya lagi tetapi tangannya terus menggenggam tangan Dana karena hanya dengan seperti itu dia merasa tenang dan bisa tidur,Dana membiarkan Mara dengan posisi senyamannya asalkan bisa istirahat.


Entah sejak kapan Dana sudah mulai menyayangi istrinya yang dulu pernah diabaikannya demi wanita lain,mungkin karena rasa bersalahnya terlalu besar makanya dia kini menggantinya dengan menyayangi Mara tanpa mau menyakitinya sedikitpun.


Para orang tua sudah saling bicara dan membiarkan keduanya mengambil keputusan sendiri meskipun ada rasa sedih disaat mereka akan memiliki cucu pertamanya tetapi harus dihadapkan dengan pilihan yang sulit untuk diputuskan.


Bahkan tadinya mama Wulan sudah semangat kini droop lagi,oma Rebecca yang bahagia akan memiliki cicit kini hanya bisa pasrah dengan ketentuan dari Yang Maha Kuasa.


* Aku yakin kamu kuat cicitku,bertahanlah diperut ibumu,berilah tanda kehadiranmu sayang, oma uyut menantikanmu* ucap oma Rebecca dalam do'anya.


#like


#komen

__ADS_1


#vote


__ADS_2