ASMARA DANA

ASMARA DANA
EMOSI MARA


__ADS_3

Mama Wulan meminta Dana berkunjung kerumahnya tetapi tidak membawa Mara dengan alasan ada hal yang harus dibicarakan.


Awalnya Dana menolak tetapi lagi-lagi mama Wulan menjadikan penyakitnya sebagai alasan.


Karena tidak enak hati dengan istrinya, Dana memberikan alasan ada pelajaran tambahan jadi pulang telat dan Mara mengiyakan tanpa curiga.


Waktu sudah menunjukkan pukul 23:00


Dana masih belum pulang, Mara menjadi gelisah dia pun beberapa kali menghubungi suaminya tetapi ponselnya tidak aktif.


Karena panik Mara mencoba menghubungi sahabat Dana yaitu Leo menanyakan dimana suaminya.


^*Le...Dana masih kuliah ya?^


^ Kuliah udah kelar dari sore Mara, laki loe juga udah balik dari tadi^


^ Hah..serius loe?^


^ Lha emang si Dana belum sampai rumah? kemana tuh kunyuk?^


^ Kalau gue tahu ya gue ngga bakal nanya ke loe kali^

__ADS_1


^ Ngapa ngga loe telpon aja laki loe?^


^ Udah tapi Hpnya mati^


^ Oke gue bantu cari, loe ngga usah panik, pikirin kandungn loe oke*"


Mara tetap panik meski Leo memintanya jangan panik.


Leo berusaha mencari Dana dan beruntungnya tempat yang pertama dikunjunginya adalah rumah orang tua Dana dan sedikitnya dia mendengar ketika Mama Wulan meminta Dana meninggalkan Mara karena dia tidak suka dengan istri Dana itu.


Ketika Dana akan meninggalkan rumah orang tuanya dia dibuat kaget dengan adanya Leo didepan pintu.


" Mara nyariin loe,dia nelpon gue minta bantuan buat nyariin loe"


" Gue tahu pasti dia khawatir banget sama gue"


" HP loe kemana?Mara ngehubungi loe dari tadi ngga aktif?"


" HP gue lowbat Le dan guu belum sempet charg"


Melihat tampang Dana yang sedang kacau Leo pun tidak tega memarahi sahabatnya itu lalu menyuruhnya pulang karena pasti Mara sedang menunggunya.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam,Dana kini sudah smpai didepan rumah mertuanya,dia memarkirkan mobilnya kemudian masuk lewat pintu belakang yang langsung menembus dapur, tetapi nahas ternyata Mara sedang berada didapur dengan segelas susu hamil dan beberapa buah didepannya.


" Inget jalan pulang?" tanya Mara dengan nada ketus dan dingin.


Dana tidak menjawab memilih duduk didepan istrinya sambil mengeram lemah karena tidak mampu memandang wajah Mara.


" Bisu kamu ngga bisa ngomong?dari mana? sama siapa? kenapa diam saja hah!?" kini suara Mara sudah semakin meninggi karena emosi melihat Dana yang hanya diam saja.


" Bisa ngga nanti aja ngomongnya? aku capek " jawab Dana sambil berlalu meninggalkan Mara,ada rasa sakit dihatinya melihat Mara mencoba menuruti ngidamnya sendiri tetapi dia saat ini sedang kalut karena omongan Mama Wulan.


" Hah....wah....gila ya" dengan nafas terengah-engah Mara mencoba berjalan menyusul Dana.


Dana menuju kamar mandi tanpa menghiraukan Mara yang masih mencecarnya dengan berbagai pertanyaan, dan sungguh itu membuatnya semakin pusing, Dana masuk kedalam bathup dengan masih berpakaian lengkap yang dia rasakan saat ini kepalanya mau pecah.


Mama Wulan meminta Dana untuk meninggalkan Mara karena harus mengurusnya yang sedang sakit,dan dia mengatakan kalau sakitnya karena ulah dari Maminya Mara yang dulu merebut apa yang harusnya menjadi miliknya yaitu donor darah O negatif yang pada saat itu hanya tersedia satu saja, tetapi pada akhirnya Maminya Mara lah yang lebih dulu meghembuskan nafas terakhirnya dan Mama Wulan baru tahu akhir-akhir ini kalau yang merebut pendonornya waktu itu adalah orang tua dari Maminya Mara yang orang kaya dan mampu membayar lebih mahal dapi pada orang tua Mama Wulan.


Dana bingung harus mengambil sikap seperti apa satu sisi dia menyayangi Mamanya yang sudah melahirkannya, disisi lain dia tidak mungkin meninggalkan Mara karena dia sangat mencintai istrinya apalagi kini sedang mengandung darah dagingnya.


Dana keluar kamar mandi tidak menemukan Mara, tetapu Dana memilih langsung tidur tanpa mencari istrinya itu.


dikit penting up

__ADS_1


__ADS_2