
6 tahun kemudian...
Seorang wanita muda berdandan modis dengan kaca mata hitam dan rambut bergelombang yang dibiarkan terurai,disampingnya ada sosok pria kecil dengan sweater abu-abu dan celana krem dengan tatapan dingin, mereka berjalan menuju ruang tunggu bandara Internasional Soeta.
" Mom apakah aku akan bertemu Daddy?".
Asmara membenarkan posisi kaca matanya kemudian menatap lembut putranya, " Apa kamu sangat ingin bertemu dengannya? bagaimana kalau dia tidak mau bertemu denganmu?atau dia tidak mengakuimu? bersiaplah dengan segala kemungkinannya dan jangan manja!" tegas Mara.
Ya...Mara memang mendidik tegas putranya agar tidak lembek dan bisa menerima keadaan tidak seperti Dana, suaminya.
Ah.... apa masih bisa disebut suami sedangkan mereka sudah berpisah selama kurang lebih enam tahun lamanya.
" Aku tidak berharap, hanya penasaran seperti apa wajah asli Daddyku, melihat dari jauhpun tidak masalah" sergah Yuki.
" Bagus...itu baru namanya anak Mommy, oke jemputan sudah datang kita langsung kerumah Opa"ucap Mara.
Didalam mobil Mara tampak fokus dengan tabletnya,karena dimanapun dia berada pekerjaan selalu dia kerjakan dengan baik tanpa terlewat, karena perusahaan yang dia bangun dari nol dengan modal pinjaman dan uang seadanya kini berkembang pesat dinegara Jepang tempat Yuki terlahir didunia tanpa didampingi oleh ayah biologisnya.
" Mom apakah rumah Opa besar seperti rumah kita?" tanya Yuki.
" Hmmm" jawab Mara masih fokus dengan pekerjaannya.
" Apa dirumah Opa ada kolam renangnya?" tanya Yuki lagi.
" Hmmmm" jawab Mara.
__ADS_1
Kesal dengan jawaban Mommynya, Yuki pun memiliki ide cemerlang mengerjai Mommynya.
" Apa Mommy masih mencintai Daddy?".
" Hmmmm" jawab Mara kemudian tertegun dan menatap kearah Yuki yang sudah cekikikan disampingnya.
" Oooh kamu marah ya Mom cuekin jadi ngerjain Mom?" sambil menggelitik perut Yuki.
Mereka tertawa terpingkal-pingkal sampai tidak sadar bahwa mobil yang membawanya sudah masuk ke pekarangan rumah besar Ramdani yang tidak lain adalah papinya.
Mara menghela nafas kemudian turun diikuti langkah kecil Yuki dibelakangnya, ketika membuka pintu tampaklah sosok yang sudah menunggunya selama ini merentangkan tangan menyambut putri semata wayangnya yang sudah menghilang selama 6 tahun lamanya.
" Pa..pi......" ucap Mara tergagap kemudian berlari kearah Papinya lalu memeluknya sambil menangis menumpahkan segala kerinduannya.
" Kemarilah cucu opa" panggilnya kepada Yuki sambil mengusap air matanya.
Yuki pun berlari dengan riang kearah opanya lalu memeluknya dan berkata, " Opa....kata Mom Opa udah tua kok kenyataanya masih muda? apa Opa melakukan operasi plastik?".
Mendengan celetukan cucunya otomatis Ramdani tertawa sampai menangis, Mara pun ikut tersenyum melihat interaksi antara Opa dan cucu itu.
" Cucu Opa pintar sekali ya menyenangkan hati orang".
" No....itu benar Opa, Opa ganteng banget".
" Hahahahaha....kenapa bibirmu ini mirip dengan Dad mu sih?".
__ADS_1
Seketika semua terdiam,Ramdani menatap kearah putrinya yang tampak acuh walaupun sebenarnya memperhatikan.
" Yuki saatnya beristirahat, mandi dan segera tidurlah, Mom akan siapkan cemilanmu!".
" Baik Mom...."
" Opa dimana kamar Yuki?" tanya Yuki pada Opanya.
" Dilantai 2 yang pintunya warna biru,Opa siapkan khusus untukmu".
" Terima kasih Opa" mencium pipi Opanya lalu naik keatas.
Mara menuju dapur menyiapkan cemilan untuk putranya,sedangkan Papi Dani merasa bahwa putri kecilnya sudah berubah,dulu putrinya sangat manja dan selalu ceria kini berubah menjadi wanita yang dingin dan sedikit bicara, bahkan nada bicaranya pun berubah, dia seperti tidak mengenali putrinya,seperti ada benteng besar yang dibangun oleh Asmara untuk melindungi dirinya.
" Papi kekamar dulu, kalau butuh apa-apa panggil asisten saja" ucap Papi Dani sambil berlalu.
" Hmmm" jawab Mara sambil menahan air matanya agar tidak menetes.
* Aku harus kuat, aku ngga boleh rapuh, ada tanggung jawab besar dipundakku, aku ngga boleh cengeng!* batin Mara.
Setelahnya dia berbalik menatap punggung tua Papinya yang berjalan kearah kamar utama miliknya dari dahulu yang tidak pernah berubah.
*Aku akan berjuang untuk kalian...Aku janji pi, Aku janji juga pada Yuki * batinnya sambil memukul dadanya yang sesak karena menahan tangisnya.
Dikit ya
__ADS_1