
Hari ini Mara sengaja membiarkan Yuki bermain dirumah dengan opa dan asistennya, sedangkan dia kekantor sendiri tanpa supir.
Berharap Yuki lebih aman dirumah dari pada harus kekantor takut nantinya akan bertemu Dana lagi.
Tepat jam 10 rapat dimulai, dan benar saja Dana ada diantara orang-orang peserta rapat.
Mara bersikap seolah tidak melihat Dana tetapi berbeda dengan Dana yang terus memandang wajah cantik yang kini tidak pernah dihiasi senyum lagi, yang ada hanya tatapan datar dan dingin.
Setelah rapat selesai, semua meninggalkan ruang rapat tetapi tidak dengan Dana, dia sengaja menunggu Mara karena ada yang akan dibicarakan.
" Dimana anakku? " Dana bertanya ketika Mara akan meninggalkan ruangan.
Mara memutar kepalanya menatap Dana, lalu menatap dengan remeh.
" Apa anda bilang? anak? anak yang mana?" jawan Mara cuek.
" Aku mau bertemu anakku, aku tahu kamu pasti sengaja misahin aku sama anakku kan?" cecar Dana.
__ADS_1
" Pak Pradana yang terhormat apa bapak lupa kalau bapak tidak ada saat saya hamil? apa bapak lupa kalau bapak tidak mendampingi saat saya melahirkan sendirian? apa bapak lupa kalau selama ini saya yang membesarkan anak saya dengan tangan saya sendiri?.." hardik Mara.
"CUKUP....Itu semua ngga akan terjadi kalau kamu ngga pergi ninggalin aku!" rahang Dana mengeras.
" Lalu.....apa yang akan kamu lakukan ketika tahu mertuamu menyuruhmu meninggalkan anaknya,dan menganggapmu murahan?"
" Apa maksud kamu?" tanya Dana tercengang kaget.
" Oh rupanya Mama kamu ngga cerita ya kalau dia yang nyuruh aku pergi dari hidup kamu? coba tanyakan pada Mamamu, kalau dia ngga bohong pasti dia mengakui semuanya" ucap Mara sambil berlalu meninggalkan Dana yang masih mematung kebingungan.
" Dana...dimana sopan santun kamu? kenapa pakai teriak- tetiak hah?" bentak Papanya.
" Aku harus bicara dengan Mama Pa" teriaknya lagi.
Mama Wulan keluar dari kamarnya tampak segar seperti habis mandi, " Apa yang mau dibicarakan dengan Mama Dan?".
" Tentang Mara...istriku".
__ADS_1
" Mara? bukanya Mara menghilang?sengaja meninggalkanmu?Apa hubungannya dengan Mama?" tanya Mama Wulan tanpa rasa bersalah.
" Semua karena Mama yang menyuruhnya pergi dari hidup Dana, Benar kan?JAWAB!".
Plakkk...
Tamparan keras dipipi Dana dari Papanya, " Kenapa kamu menuduh Mama sedangkan saat Mara pergi kondisi Mama sedang sakit, apa kamu lupa?"bentaknya.
" Pa....Papa harus tahu kalau Mara sudah kembali Pa dan yang membuat Dana sedih juga marah karena Dana terpisah dengan istri dan anak Dana Pa...cucu Papa, dan itu semua terjadi karena Mama yang udah menyuruh Mara meninggalkan Dana " cerita Dana.
Mama Wulan gemetaran mendapat tatapan tajam dari suami serta anaknya,dia pun mulai aktingnya, " Maafkan Mama...mama memang bukan ibu yang baik tapi semua mama lakuin demi kebaikan kamu Dan...mama mau yang terbaik untuk Dana, waktu itu mama strezz dengan penyakit mama makanya mama nggak bisa berfikir logis Dan...sekali lagi maafkan mama hiks...hiks...hiks...." suara mama Wulan dibuat sedramatis mungkin sambil terus menangis terduduk diatas lantai.
Dana yang sudah tersulut emosi enggan memaafkan mamanya memilih pergi meninggalkan rumah utama menuju apartmen yang menjadi tempat tinggalnya selama dia ditinggalkan oleh Mara.
Dana begitu terpuruk mengetahui kenyataan pahit rumah tangganya ternyata dia salah menuduh Mara sengaja meninggalkannya karena pada kenyataanya mamanya sendirilah yang membuat keluarganya terpisah hingga 6 tahun lamanya.
*Ternyata selama ini aku salah menuduhmu Ra....kamu wanita yang baik, kamu memilih tersiksa demi menuruti mertuamu walaupun itu membuatmu harus bekerja keras bertahan hidup, maafkan aku Ra, maafkan aku Yuki....aku yakin kalian tertekan karena mama* gumam Dana sambil sesenggukan menangis di kamar apartmennya.
__ADS_1