ASMARA DANA

ASMARA DANA
PERMINTAAN DANA


__ADS_3

Sudah satu minggu Dana kembali kerumah orang tua Mara,rumah yang dulu dia tempati pertama kali setelah menikah dengan Asmara Danisa,tetapi keadaannya masih sama seperti ketika dia menginjakkan kakinya lagi kerumah ini,yang berbeda hanyalah sikap papi mertuanya yang masih dingin sedingin kulkas empat pintu.


Dana sadar semua perlakuannya dulu sungguh menyakiti hati mertua dan istrinya jadi dia tidak mau memaksakan untuk papi Dani menerimanya seperti sedia kala tetapi lebih ingin menunjukkan keseriusannya dalam menjalani rumah tangga dengan wanita yang sudah menjadi ratu dihatinya selain mama wulan.


Pulang dari kantor dia langsung mencari istrinya yang teryata sedang belajar memasak dibantu oleh asisten rumah tangganya,suara ramai didapur membuatnya memalingkan wajahnya kesumber suara,dia meletakkan tasnya di sofa lalu menghampiri istrinya.


Greeep....Dana memeluk Mara dari belakang.


" Lho kamu udah pulang?kok aku ngga denger suara mobil masuk?"tanya Mara.


" Kamu keasikan masak sih sama bibi jadi ngga tahu kalau suami tercintanya udah pulang"ucap Dana sambil menyandarkan kepalanya diceruk leher istrinya.


" Dana ih malu ada bibi" kata Mara sambil mendorong kepala suaminya.


" Ngga papa sayang bibi juga tahu x kita kan pengantin baru...ya kan bi" kilah Dana.


" Iya non, den bibi juga pernah muda jadi tahu gimana orang lagi kasmaran" jawab bibi malu-malu.


Plettak....suara jitakan dikepala Dana.


" Pengantin baru apaan? lupa kamu udah ninggalin istri tahunan?" celetuk Papi Dani dari belakang mereka.


Dana secepat kilat melepas pelukannya,Mara dan bibi hanya tersenyum melihat kelakuan Dana sedangkan sang Papi dengan santai merasa tidak bersalah langsung duduk di kursi menikmati kopi yang sudah disediakan oleh Mara.


" Sayang aku ke kamar dulu ya mau mandi udah gerah" pamit Dana tidak lupa mencium pipi Mara lalu kabur ke kamarnya dilantai dua.

__ADS_1


" Begitu tuh kelakuan mantu kurang ajar...ada mertua dateng bukan disambut malah kabur" ucap Papi Dani yang sudah dianggap biasa oleh seluruh penghuni rumah.


Pasalnya semenjak Dana tinggal disitu lagi papi Dani jadi sering uring-uringan tidak jelas, tetapi dia tidak membenci menantunya hanya sedang mendidiknya.


" Biarin pi...kan Dana emang belum mandi,nanti juga turun lagi kan belum makan" jawab Mara pelan sambil menata masakan hasil olahannya dengan bibi.


" Belain aja teruuus" sambar Papinya.


" Lah emang belom mandi kok pi"sergah Mara.


" Princess udah cinta mati ya sama si abu nawas itu?" tanya papinya.


" Abu nawas siapa pi?"tanya Mara.


" Itu suami princess yang tengilnya minta ampun"jawab papinya sambil meneguk secangkir kopi.


" Suka-suka papi mau panggil dia apa,lagian ya papi heran kok princess papi bisa dengan maafin bocah tengil itu,kalau papi jadi princess udah papi jadiin perkedel trus ditusuk garpu cocol kesambel trus dimakan sampai hancur" ucap papinya sambil emosi tetapi lucu bagi Mara.


Dibalik tembok Dana menelan ludahnya kasar merasa ngeri membayangkan papi Dani menjadikannya perkedel dan ditusuk garpu.


Langkah kakinya semakin berat menuju meja makan tetapi perutnya sangat lapar jadi dia memberanikan diri menampakkan wajahnya seolah tidak mendengar apapun.


" Eh Dana kamu udah selesai,sini duduk aku ambilin nasi ya?" sambut Mara ketika melihat suaminya datang.


" I..iya sayang makasih" jawabnya gugup

__ADS_1


" Biar aja ambil sendiri orang punya tangan masih utuh kok,apa perlu papi patahin biar bisa dilayani terus" ucap sarkas papinya.


" Papiiii....udah ah ini mau makan apa mau ribut?princess udah capek masak lho" ucap Mara menengahi.


Mereka kini menikmati makan malamnya,Dana tidak berani memandang mertuanya dia menunduk sambil fokus memakan hidangan yang disiapkan oleh istrinya.


Setelah makan Dana pamit ke kamar untuk melanjutkan pekerjaannya,Mara juga pamit kekamar menyusul Dana karena mau mengerjakan tugas kampusnya,otomatis papinya sendirian diruang tengah.


*Andai aku punya cucu pasti bisa main ama cucu bukannya sendirian kaya gini...huuuh semoga Princess cepet hamil biar aku ada temennya * batin papinya sambil melllihat acara TV yang membosankan itu.


Sedangkan dikamar Dana sedang bernegosiasi dengan istrinya.


" Sayang kita kan mau mewujudkan impian orang tua kita,dan kita juga udah menikah lama masa kita belum malam pertama sih?ayo dong sayang....aku janji deh ngga bakal nyakitin kamu"pinta Dana memelas sambil memeluk Mara dari belakang.


" Aduh Dan aku kan masih kuliah...aku mau fokus sampai lulus dulu Dan" tolak Mara.


" Dosa tahu sayang nolak suami ada dalilnya lho" Dana masih usaha.


" Tapi aku belum siap Dan....aku takut" Mara masih menolak.


" Makanya dicoba dulu biar kamu tahu sayang,bukan sakit tapi enak yakin deh"rayu Dana.


" Memangnya kamu pernah? sama siapa?sebelum atau sesudah nikah sama aku? atau jangan-jangan Sinta itu hamil anak kamu trus kamu bayar dia buat ngaku kalau anak yang dikandungnya bukan anak kamu, iya kan ngaku kamu?" cecar Mara.


" Hah kok jadi kemana-mana sih? ini ngga ada sangkutannya sama Sinta ya....ini yang aku baca dari berbagai artikel Ra...kalau kamu memang belum siap ngga papa tapi ngga usah bahas masa lalu segala,aku kan udah janji bakal berubah" ucap Dana kemudian menjauh dari Mara dan memilih keluar menuju balkon kamarnya kemudian mengambil satu batang rokok dan mulai menghisapnya.

__ADS_1


#dikit ya lagi mau bikin orderan


__ADS_2