
Pagi ini Mara mengajak Yuki ke perusahaan Papinya yaitu DANEZ GRUP.
" Wow....besar banget Mom perusahaan Opa, namanya juga sama kaya nama tengah Yuki".
" Karena kelak kamu yang akan meneruskannya" jawab Mara dingin.
* Mommyku bener-bener dingin kaya kulkas* batin Yuki.
Bruuuk....
Karena keasikan memikirkan Mommynya, Yuki pun menabrak seseorang yang baru saja mau keluar dari lift.
" Auuuw.... sakit mom" teriakan kecil dari bibir Yuki mengadu, sedangkan Mommynya sudah jauh berada didepannya.
" Maaf tadi kamu tidak memperhatikan jalan dan saya juga sedang membalas email, jadi kita sama-sama salah ya adik kecil" ucap orang itu sambil membelai kepala Yuki.
Yuki mengangkat wajahnya lalu berkata, " Enak aja kamu harus bertemu Mommyku biar kamu dimarahi".
" Kan udah minta maaf..".
" Maaf belum diterima lagian om kan besar bukannya mengalah sama anak kecil".
" Baiklah...dimana om harus bertemu dengan Mommy kamu?".
" Gampang....om pergi saja keruang CEO,itu ruangan Mommyku karena ini kantor opaku" ucap Yuki kemudian berlalu meninggalkan orang itu.
Dana terkejut mendengar ucapan anak kecil yang menabraknya tadi.
*CEO? berarti ...Asmara? lalu anak itu?.....Anakku?* .
__ADS_1
Dana yang bingung kemudian berlari kearah lift menuju ruangan CEO yang baru sekitar lima belas menit dia tinggalkan.
Tok...tok....tok....
" Masuk" ucap Mara dingin.
" Maaf bu ada tamu yang ingin bertemu ibu" jawab sekretarisnya.
" Suruh masuk saja dan siapkan minuman".
Kemudian Santi mempersilahkan tamu itu masuk dan ternyata dugaan Dana benar, dia melihat sosok yang dirindukannya selama ini,tetapi melihat Asmara yang berpenampilan berbeda dia menjadi pangling.
Mara menengadah melihat siapa yang datang, dia kaget hatinya bergemuruh menahan amarah didadanya, namun dia berusaha profesional.
" Silahkan duduk pak".
" ASMARA"
"Apa bapak tuli? Silahkan duduk dan ada perlu apa bapak bertemu saya?".
Dana bungkam tubuhnya lemas,air matanya mengalir lalu dia berjalan kearah Mara dan berusaha memeluknya tetapi dorongan kuat dari Mara membuatnya jatuh tersungkur.
" Tolong jaga sikap pak! saya bisa melaporkan bapak ya, ini adalah pelecehan!" ketusnya.
" Mara....maafkan aku, aku...."
" Kalau sudah tidak ada urusan silahkan keluar dari sini dan jangan berani kesini lagi!".
Dana berdiri lalu berjalan kearah pintu,Mara melengos tidak mau menatap Dana, tetapi kemudian Dana berhenti lalu berbalik dan bertanya," Apa anakku baik-baik saja? kalaupun kamu membenciku dia tetap darah dagingku".
__ADS_1
" Anakmu sudah mati"
Dana tersenyum kecut, " Aku akan sangat senang kalau kamu mengijinkan aku memperkenalkan diri sebagai ayah dari anak laki-laki kecil yang pintar itu".
Mara tercengang bingung, * Dari mana dia tahu bahwa anaknya adalah laki-laki?" batinnya.
" Kenapa kamu pasti bingungkan darimana aku tahu kalau anakku laki-laki? karena aku sudah bertemu dengannya"
Mara masih enggan menjawabnya memilih fokus pada berkas didepannya.
" Aku pastikan kalian akan kembali padaku!" ucap Dana penuh keyakinan.
" Jangan mimpi!" sergah Mara.
" Kita lihat saja nanti" ucap Dana kemudian sia keluar dari ruangan Mara.
Mara yang kesal dan marah lalu memanggil Yuki, ketika anaknya masuk Mara mencecarnya dengan pertanyaan yang membuat anaknya ketakutan.
" JAWAB!" teriaknya.
" Yuki ngga tahu maksud Mom, Yuki ngga bertemu Daddy, dari Yuki kecil sampai umur 6 tahun apa Mom pernah kasih lihat foto Daddy? engga kan? jadi mana Yuki tahu muka Daddy Yuki".
" Stop jangan pernah sebut dia dengan sebutan DADDY lagi!".
" Mom....come on itu ngga ada diperjanjian kita".
" Turuti saja apa mau Mom dan jangan membantah, MENGERTI!".
" Baiklah Mom....tetapi kalau boleh jujur Yuki juga membutuhkan sosok Daddy" ucap Yuki melemah lalu menuju kamar pribadi diruangan itu.
__ADS_1
Mara merenung mencoba mencerna ucapan putranya,dia menangis tetapi segera mrmbersihkan sisa air matanya.
* Aku ngga boleh lemah, aku harus kuat, jangan mudah digoyahkan apalagi hanya PRADANA saja itu bukan masalah besar, aku sudah berakhir dengannya* batinnya sambil menatap kearah luar jendela.