
Bandara
Orang tua Dana sudah sampai dibandara tetapi belum tampak batang hidung putranya yang mengatakan akan menjemput mereka.
Mama Wulan sangat kesal karena harus menunggu sedangkan papa Wijaya lebih santai dan berpikir positif mungkin jalanan macet atau ada alasan lain sehingga putra semata wayangnya belum datang.
" Pah...Dana kemana sih dari tadi kok ngga datang- datang? mama udah capek nih" gerutu Mama Wulan.
" Sabar sayang....kita nikmatin aja waktu berdua kita, mungkin jalanan macet atau Dana masih kuliah?"
Suara langkah kaki setengah berlari sambil menggandeng tangan mungil yang kini seolah tidak terpisahkan lagi.
" Papa, mama...maafin Dana telat datangnya"
Mama Wulan memandang kearah putranya, " Aduh Dan...Mama sama papa sampai lumutan tahu ngga nunggu kamu!".
" Maaf mah tadi Dana jemput Mara dulu soalnya dia mau ikut jemput mama dan papa?".
" Mara kalau kamu lagi hamil itu banyakin istirahat bukan ngintilin suami mulu, manja banget sih?,ngga baik tahu buat kandungan kamu" ucap mama Wulan menasehati menantunya tetapi dengan nada ketusnya.
Mungkin karena sedang hamil,Mara menjadi lebih sensitif dan ketika mendengar mama mertuanya menasehatinya seperti itu dia bukan menerima tetapi langsung menitikkan air matanya.
__ADS_1
" Maafin Mara ma...kalau saja Dana ngga menjemput Mara dulu mungkin Dana ngga akan telat dan mama papa ngga nunggu lama, sekali lagi maafin Mara, kalau gitu Mara pamit ya pa? ma?" Mara langsung pergi dari hadapan mertua dan suaminya.
" Ra....jangan pergi, kita anter mama sama papa dulu abis itu kita pulang bareng, oke? aku ngga akan biarin kamu pulang sendiri, dan mama Dana udah minta maaf,ayo Dana antar pulang sekarang" ucap Dana menengahi sambil menarik pergelangan istrinya.
Sepanjang perjalanan semua terdiam, Papa Wijaya merasa bangga dengan putranya yang kini sudah lebih dewasa dan sudah menerima pernikahannya, apalagi kini dirahim menantunya sudah ada calon penerus keluarga.
" Apa kehamilanmu sudah mulai berat Mara?" tanya papa Wijaya memecah keheningan.
" Engga Pa...Alhamdulillah baik-baik aja bahkan Mara masih bisa sambil kuliah" jawab Mara sedikit menahan suaranya.
" Syukurlah...Setidaknya kamu masih bisa menjalaninya dengan normal, papa sempat khawatir nak" ucap papa Wijaya lagi.
" Iya pa...berkat do'a semuanya" Dana ikut menimpali supaya istrinya tidak canggung lagi.
" Huft...akhirnya sampai rumah ketemu kasur, leganya..." ucap Mara yang langsung merebahkan tubuhnya dikasur.
" Lho tadi katanya banyak tugas kampus? ayo aku bantuin?".
" Eh itu anu....maaf Dan.." jawab Mara gelagapan.
" Kamu berbohong karena ngga nyaman sama mamaku ya?".
__ADS_1
" Dana...maaf ya?".
" Iya ngga apa-apa...aku tahu kok, justru aku yang harusnya minta maaf karena mamaku kamu jadi ngga nyaman".
" Dan....aku manja ya?".
Dana membelai rambut istrinya lalu tersenyum, " Aku suka kamu manja".
" Tapi orang la..."
" Ngga usah mikirin omongan orang meskipun itu orang tuaku, yang penting aku suka bahkan sifat manja kamu ini yang bikin aku selalu kangen pengen cepet pulang lho".
" Gombal kamu , bibir enteng banget sih ngomong manis? biasa ngerayu cewek ya pak?"
" Mulai deh....minta dicium nih bibir yang suka sembarangan ngomong" ucap Dana sambil membelai bibir Mara dengan ibu jarinya.
Mara berangsur mundur lalu menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Dana pun tersenyum ," Aku mandi dulu ya gerah nih, atau mau mandi bareng?" sambil mengedipkan matanya menggoda Mara.
" Dasar mesuuuuuuuum......" teriak Mara.
__ADS_1
Dana terkekeh sambil menuju kamar mandi.