
Selang beberapa waktu setelah Darren menelfon Iqbal dan mengirimkan alamat apartemen nya tak sampai 1 jam Citra,Adit dan Iqbal tiba di sebuah apartemen mewah.tak berselang lama pintu apartemen berbunyi.
'Ting Tong '
Darren yang masih duduk di ruang tengah mendengar suara pintu berbunyi berdiri dan mengayunkan langkanya kearah pintu.
" Bangsat, Ngapain Lo bawa Aurel kesini " Disaat pintu terbuka bukan kata permisi yang Darren dapatkan, Adit Mala langsung menarik kera baju Darren dan bertanya kasar.
" CK,, tidakkah kau terlalu tidak tahu sopan santun tuan muda,, Dan jauhkan tangan mu itu " Geram Darren mendapat perlakuan Adit.
" Duduklah ada yang ingin aku bicarakan " ucap Darren dingin.
Setelah ke empatnya duduk di ruang tengah mereka masih saling diam hingga Adit kembali merasa jengkel.
" Tidakkah kau ingin mengatakan sesuatu,kenapa kau masih saja diam,, dan diamana Aurel "
" Pelankan suaramu, Jika kau mencarinya dia baru saja istirahat, dan aku rasa dia akan mengalami trauma setelah ini " jelas Darren.
" Jadi apa maksud mu membawa kami kesini " Tanya Iqbal.
" Aku rasa kita tidak akan bisa membawanya ke rumah orang tuanya sekarang, Orang tuanya akan sangat syok jadi aku pikir dia lebih baik menenangkan diri dulu disini "
" Apa kau gila,,, Kau ingin dia Disini bersama mu begitu " Tanya Adit dengan Kesal.
" Bukan aku yang akan disini bersamanya, Tapi Citra, Dan kau aku rasa kau bisa mengatur ke orang tua Aurel apa pun alasannya, mereka tidak mungkin melihat kondisi anaknya sekarang,, Dan juga jangan berlaku kesal kepada ku " ucap Darren.
__ADS_1
" Apa aku boleh bertemu dengannya " Ucap Citra yang sedari tadi diam mendengarkan.
" Tidak,, kau boleh bertemu dengannya nan,,,,,
" Siapa kau, kenapa kau selalu ini, itu kami hanya ingin bertemu dengan sahabat kami " Ketus Adit. Darren merasa emosi karena ucapannya di potong oleh Adit
" Berhentilah dengan sikap kekanakan mu itu, Apa kau pikir aku tidak memikirkan sebelumnya, dia bahkan baru saja istirahat, Apa kau tahu dia mengguyur tubuhnya di bawah shower selama satu jam,Jadi berhentilah aku pikir wajahmu terlihat dewasa ternyata tidak dengan sifat mu itu " Emosi Darren melihat tingka Adit.
" Sudahlah apa kalian akan selalu berdebat, Dan kau Adit berusaha lah untuk mencari cara lebih dulu ke orang tua Aurel " Sela Iqbal yang merasa jengkel melihat keduanya berdebat.
" Aku rasa tidak semudah itu, Apalagi Aurel tidak pernah di wakilkan untuk meminta izin kepada orang tuanya " Ucap Citra
" Aku tahu, itulah alasan kenapa kalian berdua ada disini, Kalian bisa tinggal disini menjaganya sampai dia merasa lebih baik dulu," Ucap Darren.
" Baguslah, Kalian boleh melihatnya dia berada dia berada di kamar itu " Ucap Darren menunjuk sebuah kamar.
Citra dan Adit berdiri menuju kamar yang di tunjuk oleh Darren, Melihat Citra dan Adit semakin menjauh Iqbal menatap Darren dengan tatapan menyelidik.
" Ada apa? " Tanya Darren melihat tatapan Iqbal.
" Lo beneran incar dia, Gue ngak pernah liat Lo sepeduli itu keperempuan,Apalagi sifat mu ke Kaluna yang jelas-jelas selalu lengket ke Lo "
" Lo bahkan tahu, Apa yang udah gue tentukan sebagai milik gue, Maka itu akan jadi milik gue "
" Baiklah, Sekarang aku jadi ragu apa yang terjadi jika nanti kau bucin hahahaa" ucap Iqbal dengan tawanya.
__ADS_1
" CK,,, Aku menyuruh mu kesini bukan membahas soal itu " Decak Darren melihat Iqbal masih tertawa.
" Aku tahu,, kau tenang saja aku sudah menyuruh nya untuk mengurus semuanya "
" Kau yakin! ,, Aku ingin tua Bangka itu bersama putranya mendapatkan ganjaran nya, mereka hanya tahu merusak seorang wanita "
" Tenanglah,, semuanya akan berjalan sesuai prediksi kita, Tapi kejadian hari ini tidak pernah terlintas di fikirkan ku "
" Bajingan tengil itu memang selalu bertindak di luar naluri yang kita kira,, Aku bahkan ingin langsung membunuhnya " Ucap Darren dengan sedikit menahan emosi.
" Dia memang sama bajingan nya dengan ayahnya " Ucap Iqbal.
" Ya dan Aku sudah muak melihat semuanya, Jika bukan karena Ayah yang selalu berusaha melindungi adiknya itu, Aku sudah bertindak dari dulu "
" Aku bahkan masih merasa heran dengan Ayahmu Ren " Tanya Iqbal.
" Dia tidak akan pernah memikirkan Ibuku Bal, Yang ada di fikirinnya hanya adiknya apakah dia bahagia atau tidak, Sampai ibu meninggal pun, Dia bahkan lebih percaya ke suami sialan adiknya itu " Geram Darren.
" Apa kau yakin akan melawan Ayahmu?"
" Itu satu satunya, Aku merasa bosan melihat tingkah yang selalu melindungi keluarga adiknya, yang dimana dia tidak mengenal dengan baik seperti apa keluarga sialan itu " Jelas Darren, Selama ini Darren memang sudah sangat terlihat sabar melihat kelakuan Ayahnya, dan keluarga bibinya yang dimana Deon adalah sepupu dari Darren.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Mak,,,,,🤧...
__ADS_1