Ayah Kandung Anakku

Ayah Kandung Anakku
Bab Sepuluh


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu ...


Kehamilan Diana kini sudah menginjak 6 bulan. Selama itu, Diana masih tak mendengar kabar dari suaminya, status sebagai istri di gantung oleh Daffa.


Diana sudah terbiasa sendiri, perlahan dia sudah mulai terbiasa tanpa suaminya. Perlahan ingatan tentang Daffa memudar dalam benaknya, cinta dalam hatinya pun mulai terasa berubah abu-abu. Setitik kebencian mulai tumbuh.


Benci, kerena Daffa tega meninggalkannya. Janji manis hanya sekedar kata, membina hidup rumah tangga bersama-sama seakan hanya angan-angan saja. Bahkan kini Daffa hanya meninggalkan benihnya di dalam rahim Diana. Tidak ada kabar dan berita membuat Diana memutuskan tidak lagi berharap pada suaminya.


Hari-hari yang dilalui Diana hanya fokus dengan kehamilannya seraya berkerja untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk bekal nanti mereka. Diana tahu, membesarkan seorang anak bukanlah hal yang mudah, bukan hanya kasih dan sayang yang harus ia berikan, melainkan materi juga pasti sangat berperan.


Pagi ini, seperti biasa. Diana sudah bersiap-siap berangkat menuju toko tempatnya berkerja. Untunglah, selama kehamilannya itu, Diana tidak merasakan keluhan apapun semuanya berjalan lancar, bahkan ia tidak merasakan morning sickness seperti kebanyakan wanita hamil di luar sana.


Sepertinya si jabang bayi sangat paham posisi sang Ibu, sehingga Diana tidak merasakan kerepotan.


"Udah mau berangkat, Di?" tanya Bu Tina, yang tiba-tiba saja muncul saat Diana tengah mengunci pintu rumah kontrakannya itu.


"Astaghfirullah, Bu. Bikin keget aja ih." Diana mengelus dadanya sambil menatap kearah Bu Tina yang sudah berdiri dibelakangnya.


"Hehe," wanita parubaya itu terkekeh. "Maaf, oh iya. Kemarin siang ada seorang wanita sama laki-laki yang datang ke sini, kaya mereka orang kaya deh, Di. Dia nanyain kamu," lanjut Bu Tina.


"hah, siapa Bu?" Diana keheranan, siapa orang yang mencarinya?


"Gak tahu, Ibu juga gak sempat ketemu sama mereka. Tetangga sebelah yang bilang, kerena pas lewat sini. Semalam Ibu mau bilang sama kamu lupa," jelas Bu Tina.


"Kamu gak lagi ada masalah 'kan, Di? Soalnya, dari penampilannya, katanya kaya orang kaya, mobilnya yang di parkir di depan gang aja mobil sport katanya," tambah Bu Tina lagi.

__ADS_1


"Gak ada Bu, Diana merasa gak ada urusan sama siapa pun, kira-kira mereka siapa ya? Kok bisa tahu tempat tinggal Diana juga, Bu. Aneh," ucap Diana.


"Gak tahu, Di. Semoga saja mereka orang-orang baik, pesan ibu sih, kamu harus tetap hati-hati Di. Maaf, bukannya Ibu menakuti-nakuti kamu, tapi kamu harus tetap waspada. Apa lagi kamu gak merasa kenal dengan mereka," ujar Bu Tina.


"Iya, Bu. Insyaallah, Diana bisa jaga diri."


"Ya sudah ayo, Ibu anterin kamu. Ini sekalian Ibu mau ke pasar juga," ajak Bu Tina.


Diana menganggukkan kepalanya, setalah itu ia pergi bersama Bu Tina dengan menggunakan sepeda motor.


'Kira-kira siapa orang yang mencari aku? Apa mungkin itu Mas Daffa, tapi Bu Tina bilang sama seorang wanita. Tapi, kalau benar itu Mas Daffa seharusnya tetangga sebelah juga tahu, kenal sama mereka, tapi inilah enggak? Ya Allah, semoga saja mereka bukan orang-orang jagat, lindungi hamba dan calon anak hamba Ya Allah," batin Diana.


Tak lama kemudian, akhirnya mereka pun sampai. Tak lupa Diana mengucap terima kasih pada Bu Tina, sementara Bu Tina kembali melanjutkan perjalanannya menuju pasar, yang jaraknya memang sudah tidak jauh dari sana.


Melati dan Susi juga terlihat baru saja tiba.


Ya, mereka sudah tahu semenjak 3 bulan yang lalu. Bukan Diana yang memberitahu melainkan dari kabar mulut ke mulut, bisa dikatakan dari orang-orang yang menggosipkan Diana.


Diana yang tadinya ingin menutupi semuanya, mau tidak mau mengatakan jujur pada mereka.


Sebenernya, tentang kehamilannya saat ini masih menjadi para gunjingan orang-orang di sekitarnya, ada yang iba, namun tak jarang juga ada orang yang tidak punya hati, mengatai Diana seenak dijidatnya!


"Belum, nih. Katanya debay mau serapan di traktir sama Aunty Melati sama Aunty Susi," jawab Diana. Sebenernya ia hanya bercanda.


"Siap, mau makan apa?" tanya Melati dan Susi kompak.

__ADS_1


"Eh-eh, enggak kok. Bercanda, tapi aku udah serapan bubur di rumah," jawab Diana.


"Hais, Mbak Diana gak asik!" Lagi-lagi Melati dan Susi berkata dengan kompak.


"Oh iya, Mbak. Kemarin, kan pas aku pulang tas aku ketinggal di toko, aku balik lagi, pas baik ada orang yang nyariin Mbak Diana tahu," ujar Susi.


Diana yang kini tengah memajang perhiasan ke dalam etalase itu pun langsung menoleh kearah Susi, begitu pun dengan Melati.


"Siapa?" Bukan Diana yang bertanya melainkan Melati yang mewakilinya.


"Gak tahu, lupa tanya siapa. Soalnya orang itu keliatan buru-buru juga. Jadi aku gak sempat ngobrol banyak, keliatannya sih mereka orang baik, tapi bukan orang sembarang kayanya, soalnya pas aku liat mereka pergi, mereka pake mobil sport gitu," jelas Susi.


Diana terdiam, cerita Susi sama persis dengan cerita Bu Tina. Apa mungkin itu orang yang sama?


'Sebenarnya siapa mereka? Untuk apa mencari aku, dari mana juga mereka tahu kalau aku kerja di sini?' Diana bertanya-tanya dalam hatinya.


"Oh iya, katanya mereka akan kembali hari ini," lanjut Susi.


"Benarkah?" tanya Diana.


Susi langsung menganggukkan kepalanya. "Kita tunggu aja nanti, mereka kembali ke sini atau enggak."


"Mbak, apa mungkin itu suami Mbak Diana? Terus wanita yang bersamanya itu, Ibunya, alias mertua Mbak?" ucap Melati, mengira-ngira.


"Kayanya gak mungkin, Mel. Mas Daffa anak yatim piatu, sama kaya aku. Udah gak punya keluarga," jawab Diana. Kerena ia yakin kalau itu bukan Daffa, kalau memang itu Daffa, seharusnya tetangga yang bertemu dengan mereka mengenalinya.

__ADS_1


"Ya bisa aja mungkin selama ini, suami Mbak itu, pake indentitas tersembunyi," ucap Melati.


Bersambung ...


__ADS_2