
"Diana!" teriak Bu Tina terkejut, saat ia mendapati Diana tergelatak tak sadarkan diri di dalam rumahnya.
"Diana, bangun! Apa yang sudah terjadi sama kamu Diana." Bu Tina menepuk-nepuk pelan pipi Diana, berharap Diana sadar dari pingsannya. Namun, sayangnya Diana enggak untuk membuka matanya, membuat Bu Tina semakin khawatir dengan kondisinya. Bu Tina pun memutuskan untuk menghubungkan anakknya dan meminta mengantarkannya membawa Diana ke rumah sakit.
Tak lama kemudian anakknya Bu Tina pun sampai, mereka bergegas membawa Diana menuju rumah sakit terdekat di sana.
Sementara itu, Daffa kini tengah berada di perjalanan menuju rumah kontrakan Diana. Ia berharap Diana masih tinggal di tempat yang lama.
"Diana maafkan aku," gumam Daffa. Sungguh ia merasa menyesal, kenapa ia terlalu pengecut tadi.
"Tapi tunggu! Diana seperti wanita hamil? Anak siapa yang Diana kandung? Apakah mungkin Diana sudah menikah lagi?" Daffa baru teringat dengan perut Diana yang membesar seperti orang yang tengah hamil. Jelas, kini ia bertanya-tanya anak yang ada di dalam kandungan Diana itu anak siapa!
Daffa mempercepat laju mobilnya. Seperti semakin cepat sampai di sana, lalu bertemu Diana, mungkin Daffa akan segara mendapat jawaban dari semua pertanyaannya. Tapi, bagaimana jika Diana sudah menikah lagi?
Lagi-lagi Daffa benaknya menimbulkan tanya. Daffa sesungguhnya sangat mencintai Diana, jika benar Diana sudah mempunyai pria lain, jelas Daffa merasa kecewa, ia rasanya tidak rela.
Tapi, apa yang sudah dilakukan Daffa selama ini pada Diana, apakah mungkin Diana akan memberikan maaf padanya? Terlebih Diana seperti sudah tahu jika Daffa sudah menikah lagi?
__ADS_1
Ya Tuhan ... Daffa benar-benar tidak tahu harus bagaimana?
***
"Atar apa yang sudah terjadi?" tanya Mamahnya. "Oh iya, di mana Diana?" lanjutnya. Sejak tadi Bu Ambar baru sadar, ia tidak melihat keberadaan Diana.
"Sepertinya Diana sudah pulang, Mah. Coba Mamah telpon dia," jawab Atar, dan meminta sang Mamah untuk menelponnya kerena sebenernya Atar juga mengkhawatirkan Diana, hanya saja ia rasanya sungkan untuk menghubunginya.
"Ya Tuhan! Kamu ini gimana sih Atar, kamu yang menjemputnya, kenapa kamu tidak mengatakan dia pulang hah? Dia itu sedang hamil, gimana kalau dia kenapa-napa hah?" Bu Ambar menatap kesal putranya. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan Atar yang membiarkan Diana pulang sendirian, apa lagi keadaan Diana sedang hamil!
"Ya sudah, sebaiknya kita ke tempat Diana. Mamah gak tenang kalau belum liat Diana benar baik-baik saja!" pinta sang Mamah.
"Tapi, Mah. Gimana dengan pestanya?"
"Sudah, lagian acaranya sudah mau selesai. Ayo cepat kita ke tempat Diana!"
Atar dan Mamahnya pun langsung menuju rumah Diana. Terlihat jelas wajah Bu Ambar sangat khawatir, bahkan sejak tadi wanita itu terus menggerutu meminta Atar agar mempercepat laju mobilnya.
__ADS_1
***
Sementara itu, Bu Tina kini tengah berada di depan ruangan UGD, ia tengah menunggu Dokter yang menangani Diana keluar dari sana. Sementara putranya yang bernama Alvin, kini tengah mengurus administrasinya.
Menunggu beberapa saat, tak lama kemudian terlihat pintu ruangan UGD terbuka, sang Dokter yang menangani Diana terlihat keluar dari sana. Dengan cepat Bu Tina pun menghampirinya.
"Dok, gimana keadaan Diana?" tanya Bu Tina.
"Apa Ibu keluarganya?" balik tanya sang Dokter. Bu Tina langsung menganggukkan kepalanya. Ia mengaku keluarga Diana, karena ia sendiri sudah menganggap Diana seperti anaknya.
"Baiklah, mari ikut ke ruangan saya," ujar sang Dokter.
Bu Tina pun mengikuti langkah sang Dokter menuju ruangannya. Dalam hati Bu Tina bertanya-tanya, sebenernya apa yang terjadi dengan Diana? Kenapa Dokter seakan ingin menyampaikan hal yang sangat penting?
'Semoga Diana dan bayinya baik-baik saja ya Tuhan ... ' batin Bu Tina.
Bersambung ...
__ADS_1