Ayah Kandung Anakku

Ayah Kandung Anakku
Bab Sebelas


__ADS_3

Diana hanya menggeleng pelan, mendengar penuturan dari Melati. Mana mungkin, jelas-jelas sebelum menikah dengan Daffa, Diana sendiri mendengar semua kisah hidup pria itu.


"Sudah sih, jangan bahas suaminya Mbak Diana, kasihan Mbak Diana nanti kepikiran. Apa lagi Mbak Diana lagi hamil, takut tertekan nantinya," lerai Susi.


"Hehe ... " Melati hanya terkekeh.


"Enggak apa-apa kok, aku baik-baik aja. Bagaimana pun dia, yang kini ninggalin aku, tapi dia tetep Ayah kandung dari anakku," ucap Diana.


Perbincangan mereka pun usai, kerena ada pembeli yang datang.


***


Sementara itu di tempat lain. Seorang wanita parubaya terlihat sudah menenteng tasnya, sejak tadi ia terlihat tak sabaran.


"Tar, ayo dong cepat!" panggilnya pada sang putra yang kini tengah berjalan menuruni anak tangga seraya menebarkan kancing lengan kemejanya.


"Iya, Mah. Bentar dong ah, gak sabaran banget sih!" sahutnya sedikit menggerutu.


"Mamah itu bukannya gak sabaran, Atar. Tapi, kesabaran Mamah sudah habis! Mamah nunggu kamu di sini sudah hampir satu jam tahu! Kamu baru turun!" ketus sang Mamah.


"Ya udah sih, Mah. Maaf, lagian ini itu hari Minggu, harusnya waktunya Atar tidur sepuasnya, ini malah di ajak jalan-jalan, cari orang gak jelas!"


"Berisik, cepat jalan!" Mamah Ambar menarik tangan putranya itu, mereka pun berjalan keluar dari rumah menuju ke mobil.


"Kita ke toko yang kemarin aja langsung, Tar, jangan kerumahnya," pinta sang Mamah, sebelum Atar melajukan mobilnya.


Atar hanya mengangguk malas, setelah itu ia pun mulai melajukan mobilnya. Sebenernya, ia sangat malas juga mengatakan sang Mamah yang menurutnya tidak jelas. Sejak kemarin Mamahnya meminta ia untuk mengantarkan sang Mamah menemui seseorang, entah siapa orang itu, Atar tidak tahu.


"Sebenernya siapa sih ya mau Mamah temui?" tanya Atar, ini bukan yang pertama kalinya ia bertanya hal ini.


"Udah, jangan kepo nanti juga tahu!" Lagi jawaban sang Mamah sejak kemarin hanya itu.


Atar menghelai nafas bertanya, benar-benar gak jelas, pikiran. Padahal hari ini Atar ingin beristirahat total, setidaknya ia bisa tidur sepuasnya, jarang-jarang hari Minggu seperti ini ia free, biasanya sang atasan tidak tahu waktu dan menyebabkan itu, selalu saja ada drama ini itu.


"Oh iya, Tar. Gimana kabarnya All?" tanya Mamah Ambar, membuka obrolan.


"Ya gitu, Mah. Semakin ke sini semakin aneh aja kelakuannya, ribet tahu Mah," jawab Atar.


"Ribet gimana maksudnya? Apa dia masih kaya orang ngidam, pengen ini itu gak jelas? Atau masih suka mual-mual, pusing kaya orang hamil mengalami morning sickness, gitu?" tanya Mamah Ambar lagi.


"Gak usah dijalan dong, Mah. Atar ngeri, jadi kebayang pas dia ... ah udah ah, jijik!" Atar berkata sambil bergeridik ngeri.


"Hahaha ... " Mamah Ambar tertawa lepas. "Aneh banget si All itu, padahal si Venna gak hamil'kan?"


"Enggaklah, mana mungkin Si Venna hamil, orang Si All belum sama sekali menye ... " Atar mengehentikan ucapannya, sepertinya ia keceplosan, untung saja masih bisa di tahan.


"Menye ... apa?" tanya Mamah Ambar penasaran, "apa si All belum menyentuh istrinya itu?" sambungnya.

__ADS_1


"I-iya Mah, eh Mamah jangan bilang-bilang ya, ini cuman rahasia kita berdua aja! Kalau All sampai tahu habis aku, Mah!" mohon Atar.


"Apa-apaan sih rahasia-rahasia. Lagian ya, Mamah itu gak habis pikir sama Lusi, untuk apa dia menjodohkan All sama Si Venna, udah tahu kalau di Venna itu bukan wanita baik-baik, demi harta dia jadi gelap mata, ngorbanin anak sendiri, dengan embel-embel kebahagiaan, ya panteslah si All gak mau nyentuh si Venna, orang gak cinta!" papar Mamah Ambar terlihat kesal.


Sejak awal memang ia tidak setuju dengan rencana Lusi, yang tak lain adalah sepupunya sendiri, menjodohkan All dengan Venna. Kerena apa? Karena Mamah Ambar tahu, perjodohan itu bukanlah perjodohan semata, tapi ada niat terselubung di dalamnya.


"Maksudnya gimana, Mah?" tanya Atar, ia merasa penasaran.


"Udah, nanti juga kamu tahu sendiri!" jawab Mamah Ambar.


Tak lama kemudian, mereka pun sampai di tempat tujuan. Mamah Ambar terlihat sangat antusias.


"Kamu mau ikut turun gak, Tar?" tanyanya sebelum keluar dari mobil.


"Gak ah, panas. Atar nunggu sini aja, jangan lama-lama, Atar laper juga, belum makan apa-apa dari pagi, cuman sarapan Omelan Mamah doang!" jawabnya, merasa tidak berdosa berkata itu pada sang Mamah.


"Ya kalau kamu gesit, Mamah mana ada ngomel. Mamah gak lama kok," ucapnya. Setalah itu Mamah Ambar pun keluar dari mobil tersebut.


Wanita parubaya itu berjalan menuju sebuah toko perhiasan.


"Selamat siang, Bu. Ada yang bisa saya bantu, mau cari perhiasan model apa?" tanya seorang wanita, yang tak lain adalah Diana.


"Kamu gak ingat sama saya, Diana?" tanya Mamah Ambar.


Diana menyipitkan matanya, otaknya berputar mencoba mengingat siapa wanita parubaya tersebut. Apakah Diana mengenalnya?


"Ya Allah, Bu Ambar, apa kabar Bu?" Diana mengingatnya, ia langsung menyelaminya dengan takzim.


"Alhamdulillah, saya sehat, seperti yang kamu lihat, saya baik-baik saja. Kamu sendiri gimana?" balik tanya Mamah Ambar.


"Alhamdulillah, saya baik juga Bu," jawab Diana.


"Syukurlah, eh tunggu! Itu jamu sedang hamil?" tanya Mamah Ambar sambil memperhatikan postur tubuh Diana yang berbeda.


"Iya, Bu. Alhamdulillah."


"Ya ampun selamat ya, Diana. Oh iya, kamu ada waktu gak? Pulang jam berapa nanti?"


"Kalau pulang biasanya jam 4 sore, Bu. Maaf, emangnya ada apa ya, Bu?" tanya Diana.


"Emm, tadinya ada sesuatu yang ingin saya sampaikan sama kamu, tapi saya tidak mungkin kalau menunggu kamu sampai sore nanti, soalnya saya datang sama anak saya, dia orangnya agak ribet. Mungkin, besok saja saya ke rumah kamu. Gak apa-apakan Diana?"


Diana terdiam, seraya mencerna ucapan dari wanita parubaya itu. kira-kira apa yang mau di sampaikan oleh Bu Ambar? pikirnya.


"Boleh saja sih, Bu. Tapi, kalau Ibu mau sekarang juga gak apa-apa, Diana biar nanti izin kerja setengah hari saja hari ini, Diana telepon Bos Diana dulu, kalau Ibu mau," ucap Diana.


"Eh, emang gak apa-apa?" Mamah Ambar nampak tidak enak dengan Diana, tapi demi apa pun ia tidak berniat untuk mengganggu Diana yang tengah berkerja.

__ADS_1


"Gak apa-apa kok, Bu." Diana tersenyum menyakinkan.


Mamah Ambar pun tersenyum, setalah itu ia Diana pun menelpon Bu Hilma, untuk meminta izin, untunglah Bu Hilma mengizinkan, kerena selama ini Diana tidak pernah izin, selalu full kerja. Ini untuk pertama kalinya Diana izin.


"Gimana, apa Bos kamu mengizinkan?" tanya Mamah Ambar, sangat antusias.


"Alhamdulillah, Bu. Tapi, sebentar dulu ya Bu. Diana mau nunggu temen-temen Diana kembali dulu, mereka lagi beli makanan dulu," jawab Diana.


"Iya santai aja gak apa-apa kok."


Beberapa menit kemudian, Melati dan Susi terlihat kembali. Susi yang kemarin sudah bertemu dengan Mamah Ambar pun langsung menyapanya.


"Eh Ibu, hallo Bu," sapa Susi.


"Hallo, kita temu lagi ya. Saya izin bawa Diana dulu ya, gak apa-apakan?"


"Gak apa-apa, Bu. Asalkan harus kembali dengan selamat seperti sekarang saja," jawab Susi sambil bergurau.


"Hahaha, kamu bisa aja. Siap, tenang pokoknya!" balas Mamah Ambar.


"Sus, Mel, aku tinggal dulu ya. Tenang aja, aku udah kenal lama kok sama Bu Ambar, aku udah izin juga sama Bu Hilma tadi," pamit Diana pada kedua temannya itu.


"Siap, Mbak Diana. Hati-hati ya," ucap mereka berdua.


Diana mengangguk, setalah itu ia pun mengikuti langkah Mamah Ambar menuju sebuah mobil.


"Ayo masuk," pinta Mamah Ambar, membukakan pintu mobil tersebut untuk Diana.


Diana mengangguk sambil tersenyum, "terima kasih, Bu."


"Sama-sama." Mamah Ambar pun ikut masuk ke dalam mobilnya.


Atar yang menyadari sang Mamah yang masuk membawa seorang wanita, terlihat cuek-cuek saja.


"Jalan, cari restoran aja, Tar. Kita makan dulu," pinta sang Mamah. Atar hanya mengangguk pelan, kemudian melajukan mobilnya.


Dalam perjalanan, Mamah Ambar dan Diana mengobrol banyak, dari mulai kabar dan lain sebagainya, ya namanya juga wanita, bisa membahas apa saja, topik perbincangan tidak akan pernah ada habisnya.


Sementara Atar ia hanya menyimak, sambil sesekali tersebut tipis, mendengar kedua wanita beda generasi itu bergurau ria.


'Tunggu! Kalau diperhatikan, aku seperti pernah melihat wanita yang sama Mamah saat ini, tapi di mana ya?' batin Atar, yang diam-diam memperhatikan Diana lewat kaca spion yang ada di depannya.


Atar merasa pernah melihat wajah Diana, tapi ia lupa di mana, memang tidak melihat secara langsung, tapi melihat sebuah foto yang wajahnya mirip sekali dengan Diana.


'Sebuah foto! Ah iya, aku baru ingat, aku pernah melihat foto itu di laci meja kerjanya All, apa hubungannya mereka? Tapi, mana mungkin All kenal dengan wanita itu, aku saja baru melihatnya, apa mungkin hanya mirip saja, tapi orangnya tidak sama?'


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2